Membangun Keluarga Menghadapi Fitnah Akhir Zaman

Assalamu’alaykum…

Materinya sepertinya berat banget yak. Iya sih, saya juga beranggapan seperti itu. Hihihi. Tulisan ini saya buat untuk Mba Betty, karena Mba Betty ingin sekali mendengar ceramah Ustadz Salim Al. Fillah dengan tema Membangun Keluarga Menghadapi Fitnah Akhir Zaman yang berlangsung di Lombok beberapa bulan yang lalu, namun tidak bisa dikarenakan Mba Betty tinggal di Jambi. Berikut penjelasan Ustadz Salim A. Fillah.

Surat Al-Kahfi diturunkan sebelum Hijrah, setelah turunnyaSurat Al-Ghasiyyah. Dalam urutan Mushaf setelah Surat Al-Isra’. Jumlah ayatnya 110.

Keutamaan Surat Al-Kahfi

Rasulullah SAW bersabda,

“Barangsiapa membaca surat Al-Kahfi mulai hari Jumat atau pada hari Jumat, maka Allah memberikan cahaya kepadanya dari bawah mata kakinya hingga kolong langit.”

“Barangsiapa membaca sepuluh terakhir surat Al-Kahfi, maka ia terjaga dari Dajjal.”

“Siapa diantara kamu yang menjumpai Dajjal, maka hendaklah membacakan ayat-ayat pembuka surat Al-Kahfi.”

(HR. Muslim)

Apa hubungan surat Al-Kahfi dengan Dajjal? Mari menelaah sekilas terhadap masing-masing kisah dalam surat Al-Kahfi.

Kisah Ashabul Kahfi

Kisah ini adalah kisah beberapa pemuda yang beriman kepada Allah SWT dan menyeru manusia agar beriman kepada-Nya. Meski negeri mereka tengah dikuasai oleh penguasa/raja zhalim yang tidak beriman.

وَرَبَطْنَا عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ إِذْ قَامُوا فَقَالُوا رَبُّنَا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَنْ نَدْعُوَ مِنْ دُونِهِ إِلَٰهًا ۖ لَقَدْ قُلْنَا إِذًا شَطَطًا

“Dan Kami meneguhkan hati mereka diwaktu mereka berdiri, lalu mereka pun berkata: Tuhan kami adalah Tuhan seluruh langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran.” (Al-kahfi:14)

هَٰؤُلَاءِ قَوْمُنَا اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ آلِهَةً ۖ لَوْلَا يَأْتُونَ عَلَيْهِمْ بِسُلْطَانٍ بَيِّنٍ ۖ فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَىٰ عَلَى اللَّهِ كَذِبًا

“Kaum kami ini telah menjadikan selain Dia sebagai tuhan-tuhan (untuk disembah). Mengapa mereka tidak mengemukakan alasan yang terang (tentang kepercayaan mereka)? Siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah?” (Al-Kahfi:15)

Mereka memulai dakwah, namun didustakan dan ditindas oleh kaumnya. Oleh karena itu, Allah swt. memerintahkan kepada mereka agar bersembunyi di gua.

فَأْوُوا إِلَى الْكَهْفِ يَنْشُرْ لَكُمْ رَبُّكُمْ مِنْ رَحْمَتِهِ وَيُهَيِّئْ لَكُمْ مِنْ أَمْرِكُمْ مِرْفَقًا

“…maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu, niscaya Tuhanmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusan kamu.” (Al-KAhfi: 16)

Allah swt. memberikan dukungan kepada mereka dengan menganugerahkan beberapa mukjizat agung.

وَلَبِثُوا فِي كَهْفِهِمْ ثَلَاثَ مِائَةٍ سِنِينَ وَازْدَادُوا تِسْعًا

“Dan mereka tinggal dalam gua mereka (tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun).”

  ۚوَتَرَى الشَّمْسَ إِذَا طَلَعَتْ تَزَاوَرُ عَنْ كَهْفِهِمْ ذَاتَ الْيَمِينِ وَإِذَا غَرَبَتْ تَقْرِضُهُمْ ذَاتَ الشِّمَالِ وَهُمْ فِي فَجْوَةٍ مِنْهُ ۞

“Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka berada dalam tempat yang luas dalam gua itu.” (Al-Kahfi:17)

وَتَحْسَبُهُمْ أَيْقَاظًا وَهُمْ رُقُودٌ ۚ وَنُقَلِّبُهُمْ ذَاتَ الْيَمِينِ وَذَاتَ الشِّمَال

“Dan kamu mengira mereka itu bangun, padahal mereka tidur; Dan kami balik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri.” (Al-Kahfi:18)

Mukjizat-mukjizat itu diturunkan untuk menjaga para pemuda tersebut,hingga mereka bangun setelah berlalu 309 tahun. Saat itu merka menyaksikan bahea kaumnya telah beriman dan akhirnya mereka hidup di tengah masyarakat baru, di mana seluruh penduduknya mukmin.

Tertipu Hingga Menghina Prinsip

Kisah kedua adalah kisah seorang laki-laki yang diberi nikmat oleh Allah swt., namun ia lupa terhadap Pemberi nikmat, hingga ia berlaku sewenang-wenagn dan berani menghina prinsip-prinsip keimanan.

(الكهف:٣٢) وَاضْرِبْ لَهُمْ مَثَلًا رَجُلَيْنِ جَعَلْنَا لِأَحَدِهِمَا جَنَّتَيْنِ مِنْ أَعْنَابٍ وَحَفَفْنَاهُمَا بِنَخْلٍ وَجَعَلْنَا بَيْنَهُمَا زَرْعًا

“Dan berikanlah mereka sebuah perumpamaan dua orang laki-laki, Kami jadikan bagi seorang di antara keduanya (yang kafir) dua buah kebun anggur dan Kami kelilingi Kedua

وَدَخَلَ جَنَّتَهُ وَهُوَ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ قَالَ مَا أَظُنُّ أَنْ تَبِيدَ هَٰذِهِ أَبَدًا

“Dan dia memasuki kebunnya sedang dia zalim terhadap dirinya sendiri; ia berkata: “Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya’.” (Al-Kahfi:35)

Maka nasib pemilik kebun yang terperdaya oleh kekayaannya adalah:

وَأُحِيطَ بِثَمَرِهِ فَأَصْبَحَ يُقَلِّبُ كَفَّيْهِ عَلَىٰ مَا أَنْفَقَ فِيهَا وَهِيَ خَاوِيَةٌ عَلَىٰ عُرُوشِهَا وَيَقُولُ يَا لَيْتَنِي لَمْ أُشْرِكْ بِرَبِّي أَحَدًا

“Dan harta kekayaannya dibinasakan; lalu ia membulak-balikkan kedua tangannya (tanda menyesal) terhadap apa yang ia telah belanjakan untuk itu, sedang pohon anggur itu roboh bersama para-paranya dan dia berkata: “Aduhai kiranya dulu aku tidak mempersekutukan seorangpun dengan Tuhanku.” (Al-Kahfi:42)

Cara Berinteraksi Dengan Ketentuan Allah swt.

kisah ketiga adalah kisah nabiyullah Musa as. bersama Khidr, yaitu ketika masyarakat bertanya kepada musa as., “Siapa yang paling pandai di bumi ii?” Ia menjawab mereka dengan menyatakan dirinyalah yang paling pandai di dunia ini. Ia menyangka mempunyai ilmu yang dapat mengantarkannya menjadi manusia paling pandai, apalagi ia termasuk para rasul yang mendapat gelar ulul azmi.

Allah swt. mewahyukan kepadanya bahwa ada manusia yang lebih mengerti darinya. Karena itu Allah menyuruhnya melakukan perjalanan ke daerah tertentu, di pertemuan du alautan. Maka ia pun melakukan perjalanan jauh sampai merasa sangat lelah. Saat itu ia berkata kepada muridnya.

لَقَدْ لَقِينَا مِنْ سَفَرِنَا هَٰذَا نَصَبًا(الكهف:٦٢)

“sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini.” (Al-Kahfi:62)

Ia terus melakukan perjalanan dan benar-benar merasakan kelelahan. Hingga akhirnya, ia bertemu dengan seorang laki-laki shalih yang mempunyai ilmu penting yang tidak dimiliki oleh kebanyakan manusia, yaitu ke-istiqomahan (kepercayaan) pada ketentuan Allah swt. yang pasti mempunyai hikamh. Ilmu ini juga dinamakan ilmu pengenalan terhadap Allah swt. dengan sebenar-benarnya pengalaman

Musa as. pun bersedia belajar kepada Khidr. Namun sebelum dimulai proses belajar, khidr mengajukan kontrak belajar.

فَلَا تَسْأَلْنِي عَنْ شَيْءٍ حَتَّىٰ أُحْدِثَ لَكَ مِنْهُ ذِكْرًا

“maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apapun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu.” (Al-Kahfi:70)

Dan Musa as. menyetujui kontrak belajar tersebut,

قَالَ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ صَابِرًا وَلَا أَعْصِي لَكَ أَمْرًا

“Musa berkata: “Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusanpun.” (Al-Kahfi:69)

Proses belajar itu menampilkan tiga perisai yang secara lahit nampak sebagai keburukan dan kezhaliman, yaitu:

  1. Perahu yang dilobangi oleh Khidr as., karena terdapat penguasa zhalim yang selalu berupaya merampas perahu baik yang dilihatnya.
  2. Anak yang dibunuh oleh Khidr karena ia akan membebani kedua orang tuanya yang mukmin dengan kedurhakaannya.
  3. Tembok di sebuah kota yang diperbaiki oleh Khidr tanpa imbalan. Padahal penduduk kota itu telah mengusir Khidr. Hal itu dikarenkan di bawah tembok terdapat kekayaan milik dua anak yatim, warisan orang tuanya yang shalih. Dan, jika tembok itu tidak di perbaiki, maka kekayaan itu tidak terjaga.

Tiga kasus di atas menggambarkan bahwa hikmahnya belum nampak, justru yang terlihat secara lahir tindakan itu tidak baik. Hal ini memberikan pelajaran kepada setiap mukmin bahwa Allah swt. menetapkan beberapa hal yang terkadang kita tidak mengetahui hikmahnya dan tidak memahami kebaikan yang ada di dalamnya. Ilmu seperti inilah yang tidak tertulis dalam Al-Qur’an. Hakikat inilah yang hendak Allah swt. ajarkan kepada Nabi Musa as. dan juga kepada kita semua.

Allah swt. Pemberi Kekuasaan di Bumi

Kisah terakhir adalah kisah Dzul Qarnain, raja adil yang menebar keberanian, keadilan, dan kebaikan di muka bumi. Ia mempunyai berbagai perangkat materi (ilmu dan teknologi) yang dapat mendukungnya untuk berkuasa dan sukses dalam kehidupan.

إِنَّا مَكَّنَّا لَهُ فِي الْأَرْضِ وَآتَيْنَاهُ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ سَبَبًا

“Sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepadanya di (muka) bumi, dan Kami telah memberikan kepadanya jalan (untuk mencapai) segala sesuatu.” (Al-Kahfi:84)

Ia mengelilingi dunia dari Timur hingga ke Barat untuk menebarkan hidayah kepada umat manusia dan mengisi dunia dengan keadilan serta kebaikan. Hingga akhirnya ia sampai ke suatu kaum yang hampir tidak dapat memahami ucapan.

قَالُوا يَا ذَا الْقَرْنَيْنِ إِنَّ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ مُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ فَهَلْ نَجْعَلُ لَكَ خَرْجًا عَلَىٰ أَنْ تَجْعَلَ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ سَدًّا

“Mereka berkata: “Hai Dzulkarnain, sesungguhnya Ya’juj dan Ma’juj itu orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi, maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu, supaya kamu membuat dinding antara kami dan mereka?” (Al-Kahfi:94)

 Meskipun mempunyai berbagai perangkat materi, namun Dzulkarnain tetap meminta bantuan kepada meraka, agar mereka bersikap proaktif.

فَأَعِينُونِي بِقُوَّةٍ أَجْعَلْ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُمْ رَدْمًا

“maka tolonglah aku dengan kekuatan (manusia dan alat-alat), agar aku membuatkan dinding antara kamu dan mereka.” (Al-Kahfi:95)

Akhirnya ia membangun tembok perkasa yang tetap berdiri hingga saat ini. Hingga kini, kita dapat mengetahui posisi Ya’juj dan Ma’juj sampai terjadinya hari kiamat dan mereka keluar dari tembok tersebut.

Keterkaitan Antar Empat Kisah

Kita harus ingat bahwa Al-Qur’an tidak mengungkap kisah secara terpisah-pisah, tanpa ada keterkaitan antara satu dengan yang lain. Kisah-kisah dalam Al-Qur’an merupakan satu kesatuan untuk menghadirkan makna tertentu. Misalnya, kisah Nabi Musa as. dalam surat ini tidak menyebutkan Fir’aun atau mu’jizat tongkkat, sebab penyebutan kisah dalam ayat ini mempunyai tujuan khusus. Dan, tujuan itu tidak terdapat dalam kisah Fir’aun bersama Nabi Musa as.

Jika demikian, apa benang merah yang menjadi penghubung empat kisah tersebut? Kisah-kisah tersebut memberikan gambaran mengenai bebrapa fitnah utama yang dihadapi manusia dalam menjalani kehidupan.

  1. Fitnah agama, di mana seorang mendapatkan fitnah, baik siksaan atau gangguan karena berpegang teguh pada agama, sehingga ia meninggalkannya. Fitnah seperti inilah yang menimpa Ashabul Kahfi, namun mereka dapat selamat dari fitnah tersebut.
  2. Fitnah kekayaan, fitnah inilah yang menimpa pemilik kebun yang tertipu oleh kekayaannya, sehingga meyeretnya pada kufur terhadap hari akhir,
    وَمَا أَظُنُّ السَّاعَةَ قَائِمَةً وَلَئِنْ رُدِدْتُ إِلَىٰ رَبِّي لَأَجِدَنَّ خَيْرًا مِنْهَا مُنْقَلَبًا
    “Dan aku tidak mengira hari kiamat itu akan datang, dan jika sekiranya aku kembalikan kepada Tuhanku, pasti aku akan mendapat tempat kembali yang lebih baik dari pada kebun-kebun itu.” (Al-Kahfi:36)
  3. Fitnah  ilmu, di mana seorang terkagum dengan ilmunya dan menyangka bahwa tidak seorang pun mengetahui seperti yang ia ketahui. Akibatnya ia meupakan sikap tawadhu’ atau bersusah-susah mempelajari ilmu yang tidak bermanfaat bagi masyarakat, atau menggunakan ilmu untuk hal-hal yang membahayakan masyarakat,atau menggunakan ilmu untuk hal-hal yang membahayakan masyarakat. Fitnah seperti ini nampak jelas dalam kisah Musa as. bersama Khidr. Ia lengah dan menyangka bahwa tidak ada seorang pun yang mengungguli ilmunya. Maka ketika tersadar, ia rela menempuh perjalanan panjang untuk belajar kepada Khidr dan bersikap tawadhu’ kepadanya, sebagaiman layaknya seorang murid terhadap guru.
    قَالَ لَهُ مُوسَىٰ هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَىٰ أَنْ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا
    “Musa berkata kepada Khidhr: “Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?” (Al-Kahfi :66)
  4. Fitnah kekuasaan, dimana seorang yang dikaruniai kemampuan hebat, pengaruh yang luas, dan kekuasaan yang besar tekadang dapat menagantarkan kepada kebanggaan akan kekuatannya, kufur pada Tuhan-nya, dan sewenang-wenang kepada sesama. Maka kisah Dzulkarnain memberikan gambaran yang sebaliknya. Ia adalah sosok pemimpin yang adil dan menyandarkan keutamaan serta kekuatannya hanya kepada Allah swt.,
    قَالَ أَمَّا مَنْ ظَلَمَ فَسَوْفَ نُعَذِّبُهُ ثُمَّ يُرَدُّ إِلَىٰ رَبِّهِ فَيُعَذِّبُهُ عَذَابًا نُكْرًا
    “Berkata Dzulkarnain: “Adapun orang yang aniaya, maka kami kelak akan mengazabnya, kemudian dia kembalikan kepada Tuhannya, lalu Tuhan mengazabnya dengan azab yang tidak ada taranya.” (Al-Kahfi:87)
    وَأَمَّا مَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُ جَزَاءً الْحُسْنَىٰ ۖ وَسَنَقُولُ لَهُ مِنْ أَمْرِنَا يُسْرًا
    “Adapun orang-orang yang beriman dan beramal saleh, maka baginya pahala yang terbaik sebagai balasan, dan akan kami titahkan kepadanya (perintah) yang mudah dari perintah-perintah kami.” (Al-Kahfi:88)
    ۖ قَالَ هَٰذَا رَحْمَةٌ مِنْ رَبِّي
    “Dzulkarnain berkata: “Ini (dinding) adalah rahmat dari Tuhanku,”

Penyulut Fitnah

Empat finah inilah sebagai benag merah yang menghubungkan empat kisah dalam surat Al-Kahfi. Kira-kira di bagian tengah antara dua kisah pertama dan dua kisah kedua ayat 50 yang menggambarkan pemicu utama empat fitnah tersebut, yaitu iblis yang terlaknat.

أَفَتَتَّخِذُونَهُ وَذُرِّيَّتَهُ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِي وَهُمْ لَكُمْ عَدُوٌّ ۚ بِئْسَ لِلظَّالِمِينَ بَدَلًا
“Patutkah kamu mengambil dia dan turanan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (dari Allah) bagi orang-orang yang zalim.” (Al-Kahfi:50)

Mungkinkah selaras dengan akal, jika kalian menjadikan musuh Allah swt. dan musuh kalian penolong?

Menjaga Diri Dari Fitnah

Dengan demikian uasana umum surat Al-Kahfi adalah meperingati agar terpelihara dari fitnah. Dalam hadis disebutkan bahwa surat ini dapat menyelamatkan manusia dari fitnah terbesar dalam sejarah kemanusiaan, sejak Nabi Adam as. hingga terjadinya hari Kiamat, yaitu fitnah Dajjal.
Rasulullah saw. bersabda,
“Tidak ada fitnah terdahsyat menurut Allah sejak diciptakannya Adam hingga terjadinya Kiamat, yang melebihi Dajjal.” (H.R. Al-Hakim)

Apa kaitan antara fitnah Dajjal dengan empat fitnah yang telah disebutkan? Dajjal akan muncul sebelum terjadinya kiamat dengan menebarkan empat fitnah di atas.

Dia akan memfitnahmanusia dalam urusan agama mereka, dengan mengajak manusia menjadikan Tuhan lain, selain Allah swt., untuk diibadahi. Ia akan memfitnah manusia dengan keajaiban-keajaiban yang diberikan Allah swt. kepadanya (seperti menghidupkan Abu rajab dan ibunya agar kufur kepada Allah swt.,semoga allah melindungi kita dari fitnahnya). Dengan demikian, kebanyakan manusia terfitnah kecuali orang-orang yang dit=rahmati Allah dirahmati Allah swt.

Ia membawa fitnah kekayaan, di mana ia diberi kemampuan untuk memerintahkan langit agar memberikan hujan pada tanah tertentu sehingga menumbuhkan tanaman, mengubah padang pasir yang tandus menjadi kebun yang hijau.

Ia membawa fitnah ilmu, di mana ia berbangga di hadapan manusia dengan mengungkap berbagai berita dan manusia dapat mempercayainya.

Fitnah terakhir yang dibawa Dajjal adalah fitnah kekuasaan, yang dengan kekuatan dan kekuasaanny, ia menindas dan menguasai beberapa bagian bumi (kecuali Mekkah dan Madinah)

Inilah fitnah besar yang harus di waspadai oleh setiap muslim di setiap tempat dan masa. Dan, kewaspadaan itu dapat dibangun dengan membaca surat Al-kahfi serta mentadabburi maknanya, terutama yang terkait dengan empat kisah tersebut beserta komentar rabbani terhadap kisah-kisah tersebut.

Tujuan Surat: Memelihara manusia Dari Fitnah

Ketika Surat ini mengungkap empat kisah, di mana benang merahnya adalah fitnah, maka setiap kisah dihiasi pelajaran yang dapat disimpulkan dari kisah itu. Dengan demikian ini  dapat membimbing kita pada pemeliharaan diri dari fitnah tersebut.

Inilah keindahan Al-Qur’an, ia tidak hanya mengungkap kisah tanpa tujuan, tetapi ia memaparkan empat kisah tersebut dengan maksud, agar manusia terpelihara dari empat fitnah tersebut. Adapun tujuan itu ditegaskan dalam penghujung setiap kisah.

Dengan demikian kita dapat memahami dengan jelas rambu-rambu misi yang diemban oelh surat Al-Kahfi, yaitu selamat dari aneka ragam fitnah. lalu bagaiman kita daoat selamat dari fitnah yang diungkap dalam empat kisah di atas?

Bahtera Penyelamat
1. Persahabatan yang shalih
Fitnah pertama adalah fitnah agama yang disebutkan dalam kisah Ashabul Kahfi. Agar kita terpelihara dari fitnah itu, maka surat ini memberikan bimbingan kepada kita agar:

  • Menjalin persahabatan dengan orang-orang shalih
    وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ ۖ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا
    “Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (Al-Kahfi:28)Persahabatan yang shali dan kesabaran dalam mempertahankannya adalah sebaik-baik penolong manusia untuk menjaga komitmen.
  • Meningat akhirat, terutaman yang terkait dengan nasib yang akan diterima kaum mukmin dan akibat yang akan diterima orang-orang kafir. Ini merupakan obat mujarab untuk memelihara muslim dari berbagai fitnah yang menyertai hidupnya.

    وَقُلِ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكُمْ ۖ فَمَنْ شَاءَ فَلْيُؤْمِنْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيَكْفُرْ ۚ إِنَّا أَعْتَدْنَا لِلظَّالِمِينَ نَارًا أَحَاطَ بِهِمْ سُرَادِقُهَا ۚ وَإِنْ يَسْتَغِيثُوا يُغَاثُوا بِمَاءٍ كَالْمُهْلِ يَشْوِي الْوُجُوهَ ۚ بِئْسَ الشَّرَابُ وَسَاءَتْ مُرْتَفَقًا
    “Dan katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir”. Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.” (Al-Kahfi:29)

2. Tidak Terikat Dengan Dunia
Agar terhindar dari fitnah harta seperti yang menimpa pemilik dua kebun, maka Al-Qur’an menyebutkan dua hal setelah pengungkapan kisah secara langsung, yaitu:

  • Memahami hakikat dunia. Inilah yang dapat kita lihat dengan jelas pada ayat pertama setelah pemaparan kisah,
    وَاضْرِبْ لَهُمْ مَثَلَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا
    “Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia.” Perhatikanlah dunia yang kalian kejar-kejar,
    كَمَاءٍ أَنْزَلْنَاهُ مِنَ السَّمَاءِ
    “Sebagai air hujan yang Kami turunkan dari langit.” Lantas apa yang terjadi pada bumi setelah itu?
    فَاخْتَلَطَ بِهِ نَبَاتُ الْأَرْضِ
    “Maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi.” Ini terjadi dengan amat cepat, kemudian apa yang terjadi?
    فَأَصْبَحَ هَشِيمًا تَذْرُوهُ الرِّيَاحُ ۗ وَكَانَ اللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ مُقْتَدِرًا
    “Kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan adalah Allah, Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Al-Kahfi:45)

Ayat ini menggambarkan kepada kita tentang jeda-jeda yang singkat, dari mulai permulaan hidup, pertengahannya, hingga akhir kehidupan. Tahapan-tahapan itu sangat cepat, sehingga kata sambung yang di gunakan adalah ‘fa’ (kata sambung yang menunjukkan urutan yang cepat, tanpa jeda). Perhatikan sekali lagi, (Maka menjadi subur … maka tumbuh-tumbuhan itu menjadi…)

فَاخْتَلَطَ ….فَأَصْبَحَ
Dunia ini tidak kekal dan segera berakhir. Karena itu, wahai kaum muslimin, jangan terpenjara olehnya, agar kalian selamat dari berbagai fitnah!

  • Mengingat akhirat, terutama yang terkait dengan pemaparan amal manusia di hadapan Dat Yang Maha Perkas. Seolah-olah mengingat akhirat merupakan prinsip utama yang dapat membentengi manusia dari seluruh fitnah (fitnah agama maupun fitnah harta).
    (يَوْمَ نُسَيِّرُ الْجِبَالَ وَتَرَى الْأَرْضَ بَارِزَةً وَحَشَرْنَاهُمْ فَلَمْ نُغَادِرْ مِنْهُمْ أَحَدًا( ٤٧
    “Dan (ingatlah) akan hari (yang ketika itu) Kami perjalankan gunung-gunung dan kamu akan dapat melihat bumi itu datar dan Kami kumpulkan seluruh manusia, dan tidak kami tinggalkan seorangpun dari mereka.:47)  
    وَعُرِضُوا عَلَىٰ رَبِّكَ صَفًّا لَقَدْ جِئْتُمُونَا كَمَا خَلَقْنَاكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍ ۚ بَلْ زَعَمْتُمْ أَلَّنْ نَجْعَلَ لَكُمْ مَوْعِدًا
    “Dan mereka akan dibawa ke hadapan Tuhanmu dengan berbaris. Sesungguhnya kamu datang kepada Kami, sebagaimana Kami menciptakan kamu pada kali yang pertama; bahkan kamu mengatakan bahwa Kami sekali-kali tidak akan menetapkan bagi kamu waktu (memenuhi) perjanjian.” (Al-Kahfi:48)
    وَوُضِعَ الْكِتَابُ فَتَرَى الْمُجْرِمِينَ مُشْفِقِينَ مِمَّا فِيهِ وَيَقُولُونَ يَا وَيْلَتَنَا مَالِ هَٰذَا الْكِتَابِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةً وَلَا كَبِيرَةً إِلَّا أَحْصَاهَا ۚ وَوَجَدُوا مَا عَمِلُوا حَاضِرًا ۗ وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا
    “Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata: “Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya; dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang juapun.” (Al-Kahfi:49)

3. Tawadhu (rendah Hati)
Untuk menjaga dari fitnah ilmu dan ketertipuan dengannya, setiap orang harus bersikap tawadhu’ kepada Allah swt., kemudian tawadhu’ kepda ilmu. Inilah yang dapat kita pahami dari ayat,
قَالَ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ صَابِرًا وَلَا أَعْصِي لَكَ أَمْرًا
“Musa berkata: “Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusanpun”.

Padahal Musa as. adalah seorang nabi, rasul, dan ulul azmi, bahkan dia adakah kalimullah (orang yang diajak bicara langsung oleh Allah swt.). Oleh karena itu , jangan sampai Anda terpedaya oleh berbagai ijazah perguruan tinggi, ilmu yang luas, atau bahkan hafalan Qur’an, sehingga Anda terfitnah dan tidak bersikap tawadhu’ kepada Allah swt.

4. Ikhlas 

Fitnah kekuasaan diterapi dengn keikhlasan, sikap tawadhu’ kepada Allah swt. “Dzulkarnain berkata, ‘Ini (dinding) adalah rahmat dari Tuhanku.” (Al-Kahfi:95)

Oleh karena itu, surat ini memberi peringatan tegas kepada orang-orang yang mensekutukan Allah swt. dan tidak mengikhlaskan amal kepada-Nya,
قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا
“Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” (Al-Kahfi:103)
الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا
“Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (Al-Kahfi:104)
أُولَٰئِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ وَلِقَائِهِ فَحَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فَلَا نُقِيمُ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَزْنًا
“Mereka itu orang-orang yang telah kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia, maka hapuslah amalan-amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat.” (Al-Kahfi:105)

Ayat ini berkenaan dengan orang-orang musyrik dan memperingatkan manusia dari kesyirikan. Ayat ini kemudian ditutup dengan perintah kepada kaum mukmin agar mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah swt. semata.

فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
“….. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”. (Al-Kahfi:110)

Barangsiap yang ingin benar-benar diterima amalnya oleh Allah swt. dan mendapatkan ridha-Nya pada hari kiamat nanti, hendaklah ia memenuhi dua hal. Pertama, melakukan amal yang benar, yaitu yang sesuai dengan contoh Rasulullah saw. Kedua, mengikhlaskan niat hanya untuk Allah swt. Dua hal penting inilah yang menjadi penutup surat Al-Kahfi.

Keindahan Sastra Surat Al-Kahfi
Di sela-sela pembahasan ayat-ayat dalam surat Al-Kahfi, kita jumpai beragam intro yang amat indah, sehingga menambah kecintaan dan keterpurukan hati kita dengan Al-Qur’an. Semua itu dituangkan untuk mendukung tercapainya tujuan yang hendak dicapai oleh surat ini.

Banyak Gerak Dan Sikap Positif
Dalam Surat ini, kita menyaksukan banyak gerakan yang menat=rik perhatian. Sebab seluruh isi Surat menggambarkan kisah tentang beberapa manusia yang selalu bergerak secara proaktif. Mulai dari Ashabul Kahfi yang meninggalakan keluarganya dan rumah untuk berlindung ke Goa, hingga kisah Nabi Musa as. yang berjalan menuju pertemuan dua lautan sampai benar-benar lelah.
لَقَدْ لَقِينَا مِنْ سَفَرِنَا هَٰذَا نَصَبًا
“Sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini”. (Al-Kahfi:62)

Dan ketika Musa as. belajar bersma Khidr, terlihat banyak pergerakan,
ۖ فَانْطَلَقَا حَتَّىٰ إِذَا رَكِبَا فِي السَّفِينَةِ خَرَقَهَا
“Maka berjalanlah keduanya, hingga tatkala keduanya menaiki perahu lalu Khidhr melobanginya.” (Al-Kahfi:71)

فَانْطَلَقَا حَتَّىٰ إِذَا لَقِيَا غُلَامًا فَقَتَلَهُ
“Maka berjalanlah keduanya; hingga tatkala keduanya berjumpa dengan seorang anak, maka Khidhr membunuhnya.” (Al-Kahfi:74)

 ۖ فَانْطَلَقَا حَتَّىٰ إِذَا أَتَيَا أَهْلَ قَرْيَةٍ اسْتَطْعَمَا أَهْلَهَا فَأَبَوْا أَنْ يُضَيِّفُوهُمَا فَوَجَدَا فِيهَا جِدَارًا يُرِيدُ أَنْ يَنْقَضَّ فَأَقَامَهُ
“Maka keduanya berjalan; hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu kepada penduduk negeri itu, tetapi penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka, kemudian keduanya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh, maka Khidhr menegakkan dinding itu.” (Al-Kahfi:77)

Dalam kisah Dzul Qarnain juga kita dapatkan pergerakan-pergerakan.

فَأَتْبَعَ سَبَبًا
“maka diapun menempuh suatu jalan.” (Al-Kahfi:85). Bukan hanya sampai di situ, ia juga menjelajah bumi dari Timur hingga ke Barat.

حَتَّىٰ إِذَا بَلَغَ مَطْلِعَ الشَّمْسِ وَجَدَهَا تَطْلُعُ عَلَىٰ قَوْمٍ لَمْ نَجْعَلْ لَهُمْ مِنْ دُونِهَا سِتْرًا
“Hingga apabila dia telah sampai ke tempat terbit matahari (sebelah Timur) dia mendapati matahari itu menyinari segolongan umat yang Kami tidak menjadikan bagi mereka sesuatu yang melindunginya dari (cahaya) matahari itu.” (Al-Kahfi:90)

حَتَّىٰ إِذَا بَلَغَ بَيْنَ السَّدَّيْنِ
“Hingga apabila dia telah sampai di antara dua buah gunung.” (Al-Kahfi:95)

Maka mereka tidak boleh hanya menonton dan bertepuk tangan saat pembangunan dinding, tetapi merekan harus ikut bergerak dan berpartisipasi dalam pembangunan tersebut.

Ini semua menggambarkan bahwa menjaga diri dari fitnah hanya dapat dilakukan dengan gerak yang dinamis dan sikap proaktif, tidak dengan diam, menyerah, dan sikap pasif. Apabila seorang terganggu di suatu tempat, hendaklah bergerak ke tempat lain yang lebih kondusif untuk menegakkan syi’ar agama dan menjaga agama. Oleh karean itu, Islam mensyari’atkan hijrah untuk menyelamatkan agama. Inilah yang diisyaratkan dalam kisah hijrahnya  Ashabul Kahfi.

Sekedar rehat, ternyata surat ini dibaca pada hari Jum’at, hari libur kaum muslimin. Ini seolah membawa pesan, daripada diam dan bersantai pada hari libur, sebaiknya membaca surat Al-Kahfi dan sikap proaktif dapat mendorong manusia untuk melakukan hal-hal yang positif serta menjaga diri dari berbagai fitnah, sebab yang diam itu mudah ditangkap.

Al-Qur’an dan Penjaga Dari Fitnah
Jika diperhatikan, surat ini dimulai dengan menyebut Al-Qur’an dan ditutup dengan menyebut Al-Qur’an . Hal ini memberikna gambaran bahea Al-Qur’an adalah penjaga fitnah yang paling utama. tentu jika kita membacanya serta memahami pokok bahasan dan tujuannya.

 ۜالْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَىٰ عَبْدِهِ الْكِتَابَ وَلَمْ يَجْعَلْ لَهُ عِوَجًا
“Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al Kitab (Al-Quran) dan Dia tidak mengadakan kebengkokan di dalamnya.” (Al-Kahfi:1)

قُلْ لَوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَادًا لِكَلِمَاتِ رَبِّي لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ أَنْ تَنْفَدَ كَلِمَاتُ رَبِّي وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهِ مَدَدًا
“Katakanlah: Sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)”. (Al-Kahfi:109)

artinya, kehendak Allah swt. dan hikmah-Nya tidak dapat dibatsi olej apa pun. Oleh karena itu, penolong utama untuk selamat dan terjaga dari fitnah adalah kitab Al-Qur’an. Inilah sebab Allah swt. menyebutkan sebelum menceritakan fitnah dan kembali mengungkapkannya setelah menceritakan fitnah.

Dakwah dan penjaga Dari Fitnah
Di antara catatan kecil yang tersirat dalam surat adalah bahwa empat kisah dalam surat mencakup seluruh kelompok dakwah kepada Allah swt.

  1. Pemuda yang menyeru penguasa (Ashabul Kahfi)
  2. Seorang laki-laki yang mengingatkan sahabatnya (Pemilik dua kebun)
  3. Guru yang mengajak muridnya (Khidhr dan Musa as.)
  4. Pemimpin yang menyeru rakyatnya (Dzul  Qarnain)

Ini semua memberikan makna yang amat penting, bahwa dakwah (menyeru) manusia kepada Allah swt. merupakan faktor yang amat penting untuk menjaga diri dari fitnah, di samping faktor utama, yaitu berpegang teguh pada Al-Qur’an.

Beriman Kepada Hal Gaib

Keghaiban adalah masalah yang menyelimuti sebagian besar kisah-kisah dalam Al-Qur’an. Masih banyak teka-teki dalam kisah Ashabul Kahfi, yaitu berapa lama mereka tinggal di goa? Di mana letak goa yang menjadi persembunyian mereka? Berapa jumlah mereka? Sehingga satu ayat penuh mengungkap perbedaan pendapat mengenai jumlah personil mereka, yaitu ayat ke-20. Mengapa?

Masih ada teka-teki tentang lokasi dinding yang dibangun oleh Dzul Qarnain dan tempat keberadaan Ya’juj dan Ma’juj.

Juga masih ada teka-teki mengenai tindakan Khidhr dan pertanyaan-pertanyaan Nabi Muda as. tentang tindakan tersebut.

Lalu, pelajaran apa yang dapat diambil dari semua teka-teki di atas? Seolah-olah Surat ini mengatakan kepada kita, “Pahamilah, bahwa hal ghaib itu hanya milik Allah swt.Terkadang Allah swt. menampakkan sebagian hal ghaib itu dalam realita yang bertolak belakang dengan hakikatnya. Oleh karena itu, serahkanlah urusan kepada Allah swt. dan percayalah kepada-Nya. Dengan begitu kita akan terhindar  dari fitnah, insya Allah

Goa Dakwah
Tinggal satu pertanyaan, “Mengapa Surat ini dinamai Al-Kahfi?” Pada dasarnya, ketika kita mendengar kata “Goa”, yang terbayang adalah ketakutan, kegelapan, dan kengerian. Dan, ketika ia mendengar seseorang berkata kepadanya, “Berlindunglah ke goa!” maka ia akan merasakan ketakutan terhadap suatu yang belum diketahui dan kegelapan yang menyelimuti goa. Akan tetapi, Allah swt. menjadikan goa ini aman dan penuh rahmat.

 فَأْوُوا إِلَى الْكَهْفِ يَنْشُرْ لَكُمْ رَبُّكُمْ مِنْ رَحْمَتِهِ وَيُهَيِّئْ لَكُمْ مِنْ أَمْرِكُمْ مِرْفَقًا
“…Maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu, niscaya Tuhanmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusan kamu.” (Al-Kahfi:16) 

Allah swt. menetapkan urusan ghaib yang tidak diketahui manusia, (seperti goa yang dimasuki oleh para pemuda). Karena itu, surat ini dinamai Al-Kahfi untuk menyadarkan mabusia tentang ketidak tahuannya terhadap masalah ghaib. Surat ini juga mengatakan kepada setiap muslim, serahkan urusan ghaib kepada Allah swt. dan bertaqwalah kepada-Nya. Apabila mereka berlindung ke goa dan Allah swt. melimpahkan rahmat-Nya untuk mereka, hendaklah Anda berlindung ke pangkuan dakwah dan pasrahkan segala urusan kepada Allah swt. Dia akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepada Anda dan meyediakan sesuatu yang berguna bagi urusan Anda.

 Sekian,,semoga saya dapat mengamalkan membaca Surat Al-Kahfi setiap Jumat.

Wassalamu’alaykum.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s