Wonderful Wife

Assalamu’alaykum,

Tulisan ini saya rangkum dari buku Wonderful Wife karangan Cahyadi Takariawan untuk Teh Dini yang pernah saya janjikan. Gimana menjadi istri yang wonderful dikupas habis dalam buku ini. Buku ini juga sangat mudah dipahami, tidak berbelit-belit, di dalamnya juga banyak contoh yang sangat banyak dialami oleh setiap pasangan dalam berumah tangga. Ga nyesel deh beli buku ini. Buku ini sangat mudah dipraktekkan. Niatkan mempraktekkan buku ini karena Allah, bukan karena suami, karena kalau karena suami; suami bertingkah yang bikin ga enak di hati…bubar deh niatnya, apalagi ditambah suami yang ga mau belajar bagaimana menjadi suami yang baik di jalan Allah, capek deh.. Apabila diniatkan karena Allah, in syaa Allah lebih mudah meskipun hati berliku-liku ^.^

Untuk menjadi wonderful, hal pertama yang harus dipahami adalah mengetahui seperti apa kriteria wonderful tersebut. Dalam islam wonderful ini bisa disebut shalihah. Berikut adalah kriteria istri yang wonderful:

  1. Pandai Menyenangkan Suami
  2. Menaati Suami dengan Penuh Cinta di Hati
  3. Menjaga Kehormatan dan Harta Suami
  4. Melayani Suami Sepenuh Hati
  5. Memberi Inspirasi dan Motivasi bagi Suami
  6. Fokus Melihat Kebaikan Suami
  7. Menjadi Sahabat Suami
  8. Menguatkan Kebaikan Suami
  9. Menghormati dan Memuliakan Suami
  10. Melahirkan dan Mendidik Anak Sepenuh Hati

1. PANDAI MENYENANGKAN SUAMI

  • “Maukah aku beri tahukan kepada kalian tentang sebaik-baik harta pusaka seseorang? Yaitu wanita salihah, yang menyenangkan jika dipandang, menaati jika diperintah suami, dan bisa menjaga (harta dan kehormatan) jika ditinggal pergi. (HR. An-Nasa’I dan Imam Ahmad)
  • Menyenangkan jika dipandang: istri yang menyenangkan suami jika dipandang oleh suami.
  • Penelitian oleh Sarah Gervais, Asisten Profesor Psikologi University of Nebraska-Lincoln dengan tujuan mengetahui penilaian objektif berdasarkan penampilan seseorang: 65 orang laki-laki dan perempuan. Mereka diminta melihat foto 10 orang perempuan dengan aneka jenis busana & bentuk tubuh selama 5 detik. Hasilnya: kelompok laki-laki memerhatikan wajah perempuan dan beralih ke baaaaagian dada dan pinggang. Perempuan lebih banyak melihat tubuh perempuan lain.
  • Kun Guo, peneliti University of Lincoln, menyatakan gerakan mata adalah gerakan spontan, tidak bisa dicegah dan tidak bisa dimanipulasi

Manjakan Pandangan suami

  1. Penampilan fisik: kebersihan badan dan pakaian, pandai berhias, wajah yang cerah dan berseri (QS. ‘Abasa (80)), bau yang harum dan wangi, bentuk tubuh yang terjaga indah, penampilan yang menarik dan seksi. Rasulullah SAW mendapat teguran dari Allah SWT atas sikap beliau yang bermuka masam terhadap peminta yang tua lagi buta, yaitu Abdullah bin Ummi Maktum ra yang ingin diajarkan agama. Kala itu Rasulullah SAW sedang memberikan dakwah kepada orang-orang Quraisy. Abdullah bin Ummi Maktum ra. sendiri setelah kejadian itu tidak kecil hati, sebaliknya beliau malah merasa bangga. Sebab karena dirinya seorang nabi ditegur tuhannya. Sampai ketika perang Qadisiyah sepeninggal Rasulullah SAW, shahabat nabi yang buta ini punya permintaan untuk membawa bendera umat Islam di medan tempur. Ketika para jenderal menolaknya lantaran beliau seorang tuna netra, beliau pun mengeluarkan ‘ancaman’ yang tidak bisa dibantah. “Apakah kalian menolak permintaanku, padahal Rasulullah SAW ketika dahulu menolak permintaanku, langsung ditegur Allah?” Maka bendera itu pun diserahkan kepadanya, meski beliau seorang tuna netra. Firman Allah SWT dalam surat Abasa:

    ‘ABASA (IA BERMUKA MASAM)

    SURAT KE 80 : 42 ayat

    JUZ 30

    بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَـٰنِ الرَّحِيمِ

    عَبَسَ وَتَوَلَّىٰ ﴿١﴾ أَن جَاءَهُ الْأَعْمَىٰ ﴿٢﴾ وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُ يَزَّكَّىٰ ﴿٣﴾ أَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنفَعَهُ الذِّكْرَىٰ ﴿٤﴾ أَمَّا مَنِ اسْتَغْنَىٰ ﴿٥﴾ فَأَنتَ لَهُ تَصَدَّىٰ ﴿٦﴾ وَمَا عَلَيْكَ أَلَّا يَزَّكَّىٰ ﴿٧﴾ وَأَمَّا مَن جَاءَكَ يَسْعَىٰ ﴿٨﴾ وَهُوَ يَخْشَىٰ ﴿٩﴾ فَأَنتَ عَنْهُ تَلَهَّىٰ ﴿١٠﴾ كَلَّا إِنَّهَا تَذْكِرَةٌ ﴿١١﴾ فَمَن شَاءَ ذَكَرَهُ ﴿١٢﴾ فِي صُحُفٍ مُّكَرَّمَةٍ ﴿١٣﴾ مَّرْفُوعَةٍ مُّطَهَّرَةٍ ﴿١٤﴾ بِأَيْدِي سَفَرَةٍ ﴿١٥﴾ كِرَامٍ بَرَرَةٍ ﴿١٦﴾ قُتِلَ الْإِنسَانُ مَا أَكْفَرَهُ ﴿١٧﴾ مِنْ أَيِّ شَيْءٍ خَلَقَهُ ﴿١٨﴾ مِن نُّطْفَةٍ خَلَقَهُ فَقَدَّرَهُ ﴿١٩﴾ ثُمَّ السَّبِيلَ يَسَّرَهُ ﴿٢٠﴾ ثُمَّ أَمَاتَهُ فَأَقْبَرَهُ ﴿٢١﴾ ثُمَّ إِذَا شَاءَ أَنشَرَهُ ﴿٢٢﴾ كَلَّا لَمَّا يَقْضِ مَا أَمَرَهُ ﴿٢٣﴾ فَلْيَنظُرِ الْإِنسَانُ إِلَىٰ طَعَامِهِ ﴿٢٤﴾ أَنَّا صَبَبْنَا الْمَاءَ صَبًّا ﴿٢٥﴾ ثُمَّ شَقَقْنَا الْأَرْضَ شَقًّا ﴿٢٦﴾ فَأَنبَتْنَا فِيهَا حَبًّا ﴿٢٧﴾ وَعِنَبًا وَقَضْبًا ﴿٢٨﴾ وَزَيْتُونًا وَنَخْلًا ﴿٢٩﴾ وَحَدَائِقَ غُلْبًا ﴿٣٠﴾ وَفَاكِهَةً وَأَبًّا ﴿٣١﴾ مَّتَاعًا لَّكُمْ وَلِأَنْعَامِكُمْ ﴿٣٢﴾ فَإِذَا جَاءَتِ الصَّاخَّةُ ﴿٣٣﴾ يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ ﴿٣٤﴾ وَأُمِّهِ وَأَبِيهِ ﴿٣٥﴾ وَصَاحِبَتِهِ وَبَنِيهِ ﴿٣٦﴾ لِكُلِّ امْرِئٍ مِّنْهُمْ يَوْمَئِذٍ شَأْنٌ يُغْنِيهِ ﴿٣٧﴾ وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ مُّسْفِرَةٌ ﴿٣٨﴾ ضَاحِكَةٌ مُّسْتَبْشِرَةٌ ﴿٣٩﴾ وَوُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ عَلَيْهَا غَبَرَةٌ ﴿٤٠﴾ تَرْهَقُهَا قَتَرَةٌ ﴿٤١﴾ أُولَـٰئِكَ هُمُ الْكَفَرَةُ الْفَجَرَةُ ﴿٤٢﴾

    1. Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, ((The Prophet) frowned and turned away,)
    2. karena telah datang seorang buta kepadanya. (Because there came to him the blind man (interrupting).)
    3. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa), (But what could tell thee but that perchance he might grow (in spiritual understanding)?-)
    4. atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya? (Or that he might receive admonition, and the teaching might profit him?)
    5. Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup (As to one who regards Himself as self-sufficient,)
    6. maka kamu melayaninya. (To him dost thou attend;)
    7. Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman). (Though it is no blame to thee if he grow not (in spiritual understanding).)
    8. Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran), (But as to him who came to thee striving earnestly,)
    9. sedang ia takut kepada (Allah), (And with fear (in his heart),)
    10. maka kamu mengabaikannya. (Of him wast thou unmindful.)
    11. Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan, (By no means (should it be so)! For it is indeed a Message of instruction:)
    12. maka barangsiapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya, (Therefore let whoso will, keep it in remembrance.)
    13. di dalam kitab-kitab yang dimuliakan ((It is) in Books held (greatly) in honour,)
    14. yang ditinggikan lagi disucikan, (Exalted (in dignity), kept pure and holy,)
    15. di tangan para penulis (malaikat), ((Written) by the hands of scribes-)
    16. yang mulia lagi berbakti. (Honourable and Pious and Just.)
    17. Binasalah manusia; alangkah amat sangat kekafirannya? (Woe to man! What hath made him reject Allah;)
    18. Dari apakah Allah menciptakannya? (From what stuff hath He created him?)
    19. Dari setetes mani, Allah menciptakannya lalu menentukannya. (From a sperm-drop: He hath created him, and then mouldeth him in due proportions;)
    20. Kemudian Dia memudahkan jalannya. (From a sperm-drop: He hath created him, and then mouldeth him in due proportions;)
    21. kemudian Dia mematikannya dan memasukkannya ke dalam kubur, (Then He causeth him to die, and putteth him in his grave;)
    22. kemudian bila Dia menghendaki, Dia membangkitkannya kembali. (Then, when it is His Will, He will raise him up (again).)
    23. Sekali-kali jangan; manusia itu belum melaksanakan apa yang diperintahkan Allah kepadanya, (By no means hath he fulfilled what Allah hath commanded him.)
    24. maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya. (Then let man look at his food, (and how We provide it):)
    25. Sesungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit), (For that We pour forth water in abundance,)
    26. kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya, (And We split the earth in fragments,)
    27. lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu, (And produce therein corn,)
    28. anggur dan sayur-sayuran, (And Grapes and nutritious plants,)
    29. zaitun dan kurma, (And Olives and Dates,)
    30. kebun-kebun (yang) lebat, (And enclosed Gardens, dense with lofty trees,)
    31. dan buah-buahan serta rumput-rumputan, (And fruits and fodder,-)
    32. untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu. (For use and convenience to you and your cattle.)
    33. Dan apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkakala yang kedua), (At length, when there comes the Deafening Noise,-)
    34. pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, (That Day shall a man flee from his own brother,)
    35. dari ibu dan bapaknya, (And from his mother and his father,)
    36. dari istri dan anak-anaknya. (And from his wife and his children.)
    37. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya. (Each one of them, that Day, will have enough concern (of his own) to make him indifferent to the others.)
    38. Banyak muka pada hari itu berseri-seri, (Some faces that Day will be beaming,)
    39. tertawa dan bergembira ria, (Laughing, rejoicing.)
    40. dan banyak (pula) muka pada hari itu tertutup debu, (And other faces that Day will be dust-stained,)
    41. dan ditutup lagi oleh kegelapan (Blackness will cover them:)
    42. Mereka itulah orang-orang kafir lagi durhaka. (Such will be the Rejecters of Allah, the doers of iniquity.)
  2. Sikap dan kepribadian yang menyenangkan: antusias dan akrab, lembut dan menurut, rajin dan energik, komunikasi yang menyenangkan, humoris.
  3. Kondisi emosional – spiritual: ketaatan beribadah, kepatuhan kepada suami, tulus dalam pelayanan dan pengorbanan,

Peran Suami dalam Mewujudkan Istri yang “Menyenangkan jika Dipandang”

  1. Menyediakan sarana dan fasilitas yang diperlukan istri: pakaian, parfum, asesoris/perhiasan, fasilitas untuk merawat tubuh. Hal ini bersifat situasional: disesuaikan dengan kondisi suami. Suami yang tidak mampu atau tidak mau mem-back up secara finansial sebaiknya tidak banyak menuntut.
  2. Memberikan dukungan moril untuk istri: memberikan suasana yang selalu menyenangkan hati istri dan memberikan contoh teladan.

2. MENAATI SUAMI DENGAN PENUH CINTA

  • “Maukah aku beri tahukan kepada kalian tentang sebaik-baik harta pusaka seseorang? Yaitu wanita salihah, yang menyenangkan jika dipandang, menaati jika diperintah suami, dan bisa menjaga (harta dan kehormatan) jika ditinggal pergi. (HR. An-Nasa’I dan Imam Ahmad)
  • “Jika seorang wanita selalu menjaga shalat 5 waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluan (kehormatan), dan taat kepada suaminya, maka dikatakan pada wanita itu: Masuklah ke dalam surge melalui pintu mana saja yang engkau suka.” (HR. Ahmad dan Ibnu Hibban)

Batas Ketaatan pada suami

  • Sepanjang arahan suami adalah dalam hal kebenaran dan kebaikan, disitu merupakan bagian dari lahan ketaatan istri kepada suami.
  • “Tidak boleh taat (kepada makhluk) dalam bermaksiat kepada Allah. Taat (kepada makhluk) itu hanyalah dalam perkara kebaikan.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
  • “Tidak ada ketaatan dalam hal berbuat maksiat akan tetapi ketaatan adalah pada hal-hal yang baik.” (HR Al-Bukhari, Muslim, Abu Daud)

Peran suami dalam menciptakan ketaatan istri

  • Menciptakan pola interaksi dan komunikasi yang menyenangkan.
  • Mengerti kondisi dan perasaan istri.
  • Mendialogkan keinginan istri; dalam Perjanjian Hudaibiyah, Rasulullah SAW bermusyawarah dengan istri beliau Ummu Salamah. Waktu itu terjadi situasi yang sangat genting tatkala para sahabat enggan melaksanakan perintah beliau untuk menyembelih unta dan mencukur rambut. Ummu Salamah menyarankan kepada Rasulullah SAW untuk memberikan contoh saja dengan melakukannya terlebih dahulu tanpa perlu bicara. Benar, nasihat itu ampuh. Ketika Rasulullah SAW melakukan penyembelihan unta dan memotong rambut, para sahabat langsung bergerak melakukannya. Pendapat Ummu Salamah benar.
  • Memberikan keteladanan dalam kebaikan.
  • Tidak suka mempersulit istri.
  • Ringan membantu kerepotan istri

3. MENJAGA KEHORMATAN DAN HARTA SUAMI

  • “Maukah aku beri tahukan kepada kalian tentang sebaik-baik harta pusaka seseorang? Yaitu wanita salihah, yang menyenangkan jika dipandang, menaati jika diperintah suami, dan bisa menjaga (harta dan kehormatan) jika ditinggal pergi. (HR. An-Nasa’I dan Imam Ahmad)
  • “Jika seorang wanita selalu menjaga shalat 5 waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluan (kehormatan), dan taat kepada suaminya, maka dikatakan pada wanita itu: Masuklah ke dalam surge melalui pintu mana saja yang engkau suka.” (HR. Ahmad dan Ibnu Hibban)

Menjaga Kehormatan dan Harta Suami

  • Menjaga kehormatan diri dan suami: 1. “Tidak boleh seorang wanita mengizinkan seorang pun untuk masuk di rumah suaminya sedangkan suaminya ada melainkan dengan izin suaminya.” (HR. Ibnu Hibban). 2. “Hak kalian atas mereka adalah tidak boleh mengizinkan seorang pun yang tidak kalian sukai untuk menginjak permadani kalian.” (HR. Muslim)
  • Menjaga rahasia suami. Larangan curhat jalanan, curhat ke media sosial, curhat ke orangtua atau mertua. Solusi curhat ke Allah, pasangan, dan pihak yang memiliki kompetensi untuk menyelesaikan masalah keluarga (ustadz/ustadzah, konselor, psikolog/psikiater).
  • Menjaga harta suami istri
  • Menjaga Anak
  • Menjaga Rumah

 

4. KHIDMAH

  • Khidmah: pelayanan, yaitu tindakan dan perbuatan istri dalam rangka membantu suami serta menyenangkan hatinya dalam bingkai sakinah, mawadah wa rahmah bukan perbudakkan/penindasan.
  • Contoh kisah Asma’ binti Abu Bakar kepada suaminya, Az-Zubair bin Awwam. Asma’ membantu Az-Zubair dengan mengurusi kuda tunggangan suaminya, memberi makan dan minum kuda, menjahit & menambal embernya serta mengadon tepung untuk membuat kue bahkan memikul biji-bijian dari tanah milik suaminya dengan jarak yang cukup jauh. (HR. Bukhari & Muslim)
  • Contoh lain Fatimah binti Rasulullah kepada Ali bin Abi Thalib, kedua tangan beliau sampai lecet karena aktivitas menggiling gandum.
  • Khidmah di dapur, sumur, dan ranjang.

Khidmah di kasur

  • Richard Wiseman (Profesor Psikologi dari University of Hertfordshire Di Inggris) bertanya kepada 1.000 orang tentang posisi tidur mereka. 42% saling memeunggungi, 31% saling berhadapan, 12% saling berdekatan kurang dari 1 inci, 2% berjauhan sejauh 30 inci atau 76 cm. Hasilnya orang yang memiliki jiwa kebersamaan lebih suka tidur berdekatan dengan pasangan mereka. Sebanyak 94% pasangan yang menghabiskan malam dengan saling menyentuh akan merasa bahagia terhadap hubungan mereka. Berbeda dengan 68% pasangan lainnya yang tidak punya kebiasaam itu.
  • Menikmati tidur bersama pasangan: usahakan untuk selalu tidur bareng, minta izin kepada suami jika ingin tidur pada waktu dan tempat berbeda.

Istri enggan melayani suami?

  • “Tidak halal bagi seorang wanita untuk berpuasa sedangkan suaminya ada (tidak bepergian) kecuali dengan izin suaminya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
  • “Perhatikanlah selalu bagaimana hubunganmu dengan suamimu, karena ia adalah surgamu dan nerakamu.” (HR. Ibnu Abi Syaibah dan Ath-Thabrani)

 

5. MEMBERI INSPIRASI DAN MOTIVASI BAGI SUAMI

  1. Dengan sikap yakin; kisah Khadijah dan Rasulullah SAW dalam HR. Bukhari dan Muslim: yakin akan pertolongan Allah dan kisah Ummu Salamah dalam perjanjian Hudaibiyah.
  2. Dengan sikap tenang: tidak emosi dan tidak rebut; kisah Ummu Salamah dalam perjanjian Hudaibiyah saat Rasulullah dan sahabatnya hendak melaksanakan ibadah umroh ke Mekkah. (HR. Bukhari)
  3. Dengan sikap pengertian; misalnya di saat jatuh, tidak punya apa-apa mengertilah dan pahami kondisi. bersabarlah. (QS. Al-Baqarah(1): 45).

وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ

“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu”.

4. Dengan sikap setia: kisah Nabi Ayyub dan istri.

5. Dengan sikap sabar; kisah istri Nabi Ayyub dan pasangan di White Oak, Georgia, USA.

Kisah-kisah di atas bisa dilihat di buku Wonderful Wife, ayo beli bukunya. Dijamin tidak akan menyesal membeli buku ini.

 

6. FOKUS MELIHAT KEBAIKAN SUAMI

  • Bukhari dan Muslim mengenai ketakutan Rasulullah saat melihat neraka penuh dengan wanita.
  • Sering-sering ingat kebaikan suami. Berlatih mengingat kebaikan suami.
  • Maafkan kekurangan dan kelemahan suami (QS. Ali-Imran (3): 159). Sering-seringlah berdoa (QS. Al-Furqan (25): 74-76) agar mendapat hati yang bersih dan tenang sebagaimana disebutkan Allah SWT dalam al-Qur’an (QS. Al-Fajr (89): 27 – 30).

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلْقَلْبِ لَٱنفَضُّوا۟ مِنْ حَوْلِكَ فَٱعْفُ عَنْهُمْ وَٱسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى ٱلْأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُتَوَكِّلِينَ

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (QS. Ali-Imran: 159)

وَٱلَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَٰجِنَا وَذُرِّيَّٰتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَٱجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

Dan orang-orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al Furqan: 74)

أُو۟لَٰٓئِكَ يُجْزَوْنَ ٱلْغُرْفَةَ بِمَا صَبَرُوا۟ وَيُلَقَّوْنَ فِيهَا تَحِيَّةً وَسَلَٰمًا

“Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam surga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya.” (QS. Al-Furqan: 75)

خَٰلِدِينَ فِيهَا حَسُنَتْ مُسْتَقَرًّا وَمُقَامًا

“Mereka kekal di dalamnya. Surga itu sebaik-baik tempat menetap dan tempat kediaman.” (QS. Al-Furqan: 76)

يَٰٓأَيَّتُهَا ٱلنَّفْسُ ٱلْمُطْمَئِنَّةُ

“Hai jiwa yang tenang.” (QS. Al-Fajr: 27)

ٱرْجِعِىٓ إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً

“Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya.” (QS. Al-Fajr: 28)

فَٱدْخُلِى فِى عِبَٰدِى

“Masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku.” (QS Al-Fajr: 29)

وَٱدْخُلِى جَنَّتِى

“Dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (QS Al-Fajr: 30)

 

  • Tidak membesar-besarkan masalah

 

7. MENJADI SAHABAT SUAMI DALAM SUKA DAN DUKA

  • Pada pengantin baru, ikatan cinta di antara suami dan istri bercorak sangat menggebu dan sangat fisik. Ini yang sering disebut sebagai “mawaddah”. Pengantin baru menghabiskan banyak waktu untuk aktivitas fisik yang menggebu-gebu. Mereka bersenang-senang dan saling menikmati fisik pasangan dalam sebuah bingkai halal. Namun corak seperti ini tidak akan berlangsung selamanya. Karena setelah suami istri semakin tua maka aktivitas fisik semakin berkurang. Corak hubungan tidak lagi menggebu-gebu, tapi semakin dalam. Yang tersisa pada pasangan usia tua tinggallah kualitas persahabatan di antara mereka. Ini yang disebut rahmah.
  • Menjadi sahabat suami dalam suka dan duka
  • Tetap menjadi sahabat suami hingga akhir usia

Bagaimana?

  1. Hapus semua kenangan buram masa lalu: jangan mengingat mantan.
  2. Move on: bersihkan jiwa dengan tobat, kubur kenangan masa lalu, buang rasa penasaran, buang persepsi cinta tidak harus saling memiliki, jangan pernah membandingkan, hindari interaksi dan komunikasi, temukan kebahagiaan bersama pasangan.
  3. Menemani aktivitas suami: melawan bosan, harus kompak, tujuan bukan saja soal kemana, adalah penting untuk melakukan hal yang tidak penting.
  4. Jangan berhenti saling mengenali

Waspadai Perhatian Istimewa Orang Ketiga

  • Awalnya suami merasatidak mendapat perhatian dari istri. Hubungan terasa hambar dan tidak memiliki kedalaman arti. Dari sinilah ada semacam upaya mencari kekosongan hati dengan sesuatu yang mampu mengisi. Suami berinteraksi dengan teman baru atau teman lama yang mampu memberi kebahagiaan pada hatinya.
  • Solusi: hindari situai keterlambatan. Jadilah sahabat istimewa bagi suami: hormati, perhatian, dengarkan, layani dan bahagiakan suami.

 

8. MENGUATKAN KEBAIKAN SUAMI

  • Peran istri: menjaga suami dari tindak pidana korupsi, menjaga suami agar tidak selingkuh, menguatkan suami dalam aktivitas ibadah, menguatkan akhlak suami, kuatkan orientasi hidup suami, menjaga keseimbangan hidup.
  • Menjaga suami dari tindak pidana korupsi: tidak meminta dan menuntut yang berlebihan ke suami, mengingatkan suami bahwa tidak baik memberikan makanan dari uang haram kepada istri dan anak-anak, melaporkan kekayaan ke PPATK.
  • Menjaga suami agar tidak selingkuh (hal 221): istri pandai memahami selera suami dalam urusan seksual (jangan monoton), bersikap setia, manjakan pandangan suami, penurut dan hal-hal yang telah disebutkan sebelumnya, mengusahakan suasana komunikasi dan interaksi yang nyaman dengan suami, miliki hubungan persahabatan dengan suami, penghormatan dan pemuliaan terhadap suami, membiasai diri membersamai kegiatan suami.
  • Menguatkan suami dalam melakukan aktivitas ibadah: sabar sambil terus-menerus memberikan dorongan disertai dengan doa.
  • Menguatkan akhlak suami: kisah Abu Thalhah (hal 237)
  • Kuatkan orientasi hidup suami: yang benar dan lurus, tidak mudah tergoda oleh popularitas.
  • Menjaga keseimbangan hidup: spiritual menjadi fondasi yang kokoh dan pentingbagi pembentukan sikap mental dan moral yang positif. Kuatkan basis spiritual, intrelektual dan material.

 

9. MENGHORMATI DAN MEMULIAKAN SUAMI

  • Saling menghargai
  • Tetap menjaga kehormatan dan kemuliaan suami
  • Jaga kenyamanan komunikasi
  • Beri dukungan kepada suami
  • Bicarakan pola pengelolaan keuangan keluarga
  • Jangan terlalu mandiri
  • Hormati dan muliakan Posisi Suami

 

10. MELAHIRKAN DAN MENDIDIK ANAK SEPENUH HATI

  • “Perempuan yang meninggal karena melahirkan anaknya, anaknya menariknya dengan tali pusar untuk masuk syurga.” (HR. Ahmad)
  • Perempuan yang mati ketika melahirkan adalah syahid.” (HR. An-Nasai)
  • Ikhlas mengandung, melahirkan, menyusi, dan mendidik anak sepenuh hati dan jiwa.
  • Parenting Rasulullah SAW (hal 280)
  • Pembiasaan yang baik bagi anak (hal 281)
  • Berikan kata-kata terbaik (hal 283)
  • Terimalah anak dengan segala potensinya (hal 285)
  • Temani anak untuk tumbuh dan berkembang (hal 288)
  • Ibu adalah madrasah terbaik: salah satu aspek keberhasilan dalam pendidikan anak adalah adanya kedekatan fisik dan emosional antara seorang ibu dan anaknya. (hal 290-291)
  • Menjadi sahabat bagi anak

Menjadi sahabat bagi anak

  • Menjadi sahabat bagi pasangan
  • Ciptakan suasana anak merasa diterima
  • Jadilah pendengar yang baik untuk anak
  • Libatkan diri dalam kegiatan anak
  • Berikan penghargaan
  • Berikan kepercayaan terhadap anak
  • Jadilah teladan bagi anak
  • Sepakati aturan dan konsekuensinya apabila dilanggar

Manfaat sahabat bagi anak

  • Mampu memahami anak
  • Memiliki komunikasi yang lancer dengan anak
  • Mendapatkan kepercayaan dari anak
  • Memperkuat ikatan batin dangan anak
  • Mudah mengarahkan anak

Lindungi Anak dari Tindak Kekerasan

  • Penguatan ketahanan keluarga
  • Keharmonisan suami dan istri dan anak

 

Sekian tulisan saya untuk Teh Dini, semoga bisa menjadi wonderful wife bagi suami dan juga semoga suami bisa menjadi wonderful husband bagi istri. Nantikan tulisan selanjutnya ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s