Kain Songket Lombok

Kain songket sebagai salah satu wujud kebudayaan berupa benda fisik seringkali melahirkan rasa kagum dan bangga akan prestasi para penenunnya. Hal ini akan terjadi apabila kita mencoba memahami teknis pengerjaannya, yaitu dengan keterampilan tangan dipadukan dengan kreativitas mengolah imajinasi untuk menciptakan pola dan motif-motif yang menghiasi bidang kain. Proses kretaif dan pengalaman kultural semakin memperkaya motif-motif itu menjadi karya yang sarat dengan nilai simbolis.

Bangsa Indonesia kaya akan warisan budaya berwujud fisik. Pemanfaatan benda-benda budaya masa lalu tersebut adakalanya yidak berlanjut, namun ada juga yang masih berlanjut sampai sekarang. Penggunaan alat-alat batu seperti kapak lonjong, kapak perimbas, dll sudah banyak ditinggalkan sejak ribuan abad yang lalu. Berbeda dengan pemakaian alat tenun yang menghasilkan kain tenun untuk keperluan upacara, pakaian pengantin, dll masih terus belanjut sampai sekarang di seluruh wilayah Indonesia. Kain songket masing-masing daerah di Indonesia menunjukkan ciri dan kekhasan tersendiri. Pengerjaannya cukup rumit namun kain yng dihasilkan bermutu dan bernilai seni. Hal tersebut terlihat pada kain songket dengan ragam hias flora, fauna, makhluk hidup dan benda-benda tertentu. Dilihat dari ragam hias dan warna warni benang, dapat dikatakan selain membuat kain, para penenun pada saat menciptakan karya seni, alam dan segala isinya membantu melahirkan pengalaman estetik baginya. Pengalaman estetik tersebut diabadikan dalam karya kreatifnya berupa kain songket.

A. Kain Songket dan Manfaatnya Bagi Masyarakat

Dalam kehidupan masyarakat Sasak, kain songket digunakan sebagai pakaian pria maupun wanita pada saat berlangsung upacara adat atau sebagai pakaian pengantin. Dari segi kegunaan tersebut, maka kain songket Lombok secara umum dapat dibedakan atas beberapa jenis, yaitu

  1. Bendang, dipakai sebagai kain panjang oleh kaum wanita
  2. Selewoq, dipakai sebagai kain panjang oleh kaum pria
  3. Dodot/Leang, dipakai sebagai saput oleh kaum pria
  4. Sabuk Bendang/Sabuk Anteng, dipakai sebagai selendang atau ikat pinggang oleh kaum wanita
  5. Bebet, dipakai sebagai ikat pinggang oleh kaum pria.

Orang Sasak yang melakukan aktivitas menenun kain songket tersebar di beberapa wilayah kabupaten, seperti di Kabupaten Lombok Barat: Desa Getap-Kecamatan Cakranegara, Desa Sukadana-Kecamatan Bayan. Di Kabupaten Lombok Tengah: di Desa Sukarara-Kecamatan Praya Barat dan Desa Sengkol serta Desa Rembitan di Kecamatan Pujut. Di Kabupaten Lombok Timur: di Desa Kembang Kerang dan Desa Sembalun, Kecamatan Sukamulia.

Peralatan yang dipakai untuk membuat kain songket adalah alat tenun tradisional, yaitu Ranggon dan Cagcag. Menenun pada umumnya dilakukan oleh kaum wanita terutama gadis remaja.

Kain songket merupakan jarya budaya manusia. Setidaknya terdapat tiga wujud kebudayaan, yaitu: (1) wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan, dsb; (2) wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas kelakuan berpola dari manusia dalam masyarakat; (3) wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia. Ketiga wujud ini berkaitan satu dengan yang lainnya. Kebudayaan mengatur dan memberi arahan kepada perbuatan dan hasil karya manusia.

Dari segi fisik, yang nampak pada kain songket Lombok adalah dasar tenunan memakai bahan benang katun. Di samping itu juga tampak ragam hias berupa motif flora, fauna, manusia, dan benda-benda alam yang memakai benang katun warna-warni sehingga terlihat kontras antara motif yang satu dengan yang lain. Dibalik wujud fisik dari kain songket, tersirat hal-hal yang bersifat non-fisik yang mempengaruhi proses kelahiran kain Songket Lombok antara lain:  sejarah, adat-istiadat, bahan, proses pembuatan, dan seni hias.

B. Budaya Menenun

Kebudayaan menenun masuk ke Nusantara diperirakan pada masa neolothikum (2000 SM) yang dibawa lewat Asia Tenggara. Kemudian menetap di Sumatera, Jawa, dan pulau-pulau lain di Indonesia bagian barat, sampai Kalimantan Barat, Nusa Tenggara, Sulawesi, dan belanjut ke Filipina. Bukti yang menunjukkan bahwa mereka telah mahir menenun, yaitu adanya temuan periuk belanga yang memakai hiasan tenunan.

Pada masa perundagian, datang manusia gelombang kedua yang membawa kebudayaan perunggu, diperkirakan mereka dari Dongson Vietnam Utara, masuk ke Nusantara melalui Malaysia Barat. Masuknya kebudayaan perunggu ini mempengaruhi perkembangan menenun terutama ragam hias dalam tenunan Nusantara. Motif kedok, tumpal, geometris, pilin berganda, meander adalah motif-motif yang terdapat pada nekara perunggu dari masa perundagian, kemudian diterapkan pada tenunan.

Sejak zaman prasejarah, Indonesia telah mengenal tenunan dengan corak disain yang dibuat dengan cara ikat lungsi. Mereka mempunyai kemampuan mebuat alat-alat tenun, menciptakan disain denganmengikat bagian-bagian tertentu dari benang, dan mereka mengenal pencelupan warna. Tenunan dengan cara ikat lungsi dengan corak, disain, dan warna-warna yang tua yaitu merah hitam putih yang diperoleh dari tanaman atau jenis batu-batuan yang terdapat di daerah Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Nusa Tenggara Timur. Kepandaian seperti ini dimiliki oleh masyarakat yang hidup pada zaman perunggu (abad ke – 8 sampai 2 SM).

Abad kedua masehi, Indonesia telah menjadi bagian dari perdagangan internasional khususnya dunia perdagangan dengan India. Ahli sejarah menyebutkan barang-barang dagangan dari India adalah barang-barang yang bernilai tinggi, misalnya logam mulia, berbagai jenis tenunan, barang pecah belah, di samping bahan baku yang diperlukan untuk kerajinan. Pada abad ketiga masehi mulai terjadi hubungan dagang dengan Cina. Dalam catatan sejarah Cina tahun 518, raja bagian Utara umatera memakai pakaian dari sutera. Diperkirakan kain sutera itu adalah kain impor, sebab sutera belum ditenun di Sumatera maupun Jawa sampai munculnya kerajaan Sriwijaya. Dalam hubungan dagang dengan Sumatera, Jawa, dan Bali, mereka membawa hadiah berupa kain tenun kapas ke negri asalnya. Peristiwa tukar-menukar barang itu terjadi sekitar abad ke-7 sampai dengan abad ke-15.

Pada saat ini benang yang  dipakai oleh para penenun kain songket di Lombok adalah benang katun, benang sutra, benang emas dan benang perak. Benang katun ada yang dipintai sendiri dari kapas ada juga yang dibeli di pasar. Benang sutera, benang perak, benang emas sejak dulu diperoleh dengan cara membel kawasan Pasar Suweta-Mataram. Secara gampang mereka menyebutnya benang toko. Perdagangan benang mungki sy=udah berlangsung pada masa Majapahit. Ketika itu kawasan Indonesia terbagi atas dua zona perdagangan. Pusat-pusat perdagangan si Sumatera tergolong zona perdagangan selat Malaka yang berada dalam pengawasan Kerajaan Malaka. Wilayah lainnya berada dalam zona perdagangan laut Jawa yang berada dalam hegemoni Kerjaaan Majapahit. Pada jalur pelayaran Laut Jawa, pedagang dari kawasan barat ke kawasan timur Indonesia begitu pula sebaliknya, menelusuri pesisir pantai tu]imur Sumatera, pesisir utara Jawa, memasuki Bali, Lombok, Sumbawa, Flores, termasuk ke Pulau Rempah-rempah (Maluku) atau Nusa Cendana (Timur dan Sumba).

Sekitar abad ke-14 dan ke-15 berdatangan para pedagang Islam India dan Arab ke Nusantara membawa kain-kain impor, salah satunya kain patola. Merka jug membawa benang perak dan benang emas sekaligus menyebarkan Islam melalui Selat Malaka ke pelabuhan-pelabuhan Sumatera dan pantai utara Jawa. Sangat mungkin pedagang-pedagang Islam tersebut juga ke Lombok. Pada abad ke-16 di Maluku sedang berkembang dengan pesat perdagangan rempah-rempah, di Bali dan Lombok sudah ada perdagangan sarung yanf diangkut oleh kapal-kapal Gresik di sepanjag pantai Utara Jawa. Masuknya kain-kain impor, benang emas,perak dan sutera diduga mendorong lahirnya ide menenun kain dengan menerapkan bahan-bahan tersebut sehingga terciptalah kain yang dikenal dengan nama kain Songket.

Sebelum mengenal menenun kain songket, masyarakat Lombok telah mengenal kepandaian menenun kain memakai bahan benang berut (benang kapas yang  dipintal sendiri). Kain teny=un yang dihasilkan adalah kain tembasak (kain polos berwarna putih). Di samping itu juga dikenal kepandaian menenun pelekat dengan cara mewarnai benang lungsi dan benang pakan yang kemudian ditenun sehingga menghasilkan kain tebub bercorak garis-garis vertikal seperti kain tapo kemalo, sabuk bendang, dan kain corak catut seperti kain kembang komaq, kain selulut, dan kain ragi genep.

C. Pengertian Kain Songket

Kain Songket adalah kain tenun yang dibuat dengan cara mengyungkit benang lungsi kemudian dimasukkan benang pakan tambahan (benang emas, benang perak dan atau benang katun berwarna) untuk membentuk pola hias timbul pada dasar tenunan dari benang katun atau benang sutera.

D. Masuknya Kain Songket di Lombok

Aktivitas perdagangan menyebabkan masyarakat Sasak (masyarakat Lombok) berkenalan dengan benang impor dan kain impor.  Jenis-jenis benang impor yang masuk melalui dunia perdagangan antara lain benang sutera, benang logam (perak dan emas), dan benang katun. Jenis-jenis kain impor yang masuk ke Lombok, antara lain adalah kain batik, kain rembang, kain sripe, dan kain tenun berupa sarung dari daerah Jawa.

Kain kapal adalah kain tenun songket memakai benang katun berasal dari Kalimantan yang ditemukan di Lombok Utara, dipakai sebagai pembungkus kitab suci Al-Qur’an.

Banyak corak motif hias songket Lombok yang menunjukkan kemiripan dengan corak motif hias kain songket Bali Utara. Salah satu contoh, motif-motif yang mirip dengan kain Subahnale, di Bali Utara disebut kain songket Kekurungan. Hal ini dimungkinkan karena letak Pulau Bali dengan Pulau Lombok yang berdekatan serta Pelabuhan Buleleng pernah menjadi pelabuhan yang menghubungkan wilayah Indonesia bagian barat dengan wilayah Indonesia bagian timur.

Dalam budaya pertenunan, masuknya benang impor dan kain impor memungkinkan para penenun di Lombok terlatih kreativitasnya. Kemudian menerapkan bahan-bahan impor tersebut pada tenunannya, termasuk juga dalam hal motif hias seperti motif hias pucuk rebong, swastika, barong, garuda, singa, naga, dll.

Masuknya islam yang kemudian merubah sebagian besar keimanan masyarakat Sasak dari pra-islam menjadi islam, juga berpengaruh pada kehidupa sosial dan kebudayaan masyarakat Sasak. Dalam hal seni hias, ajaran Islam melarang membuat motif hias yang memvisualisasikan bentuk-bentuk maskhluk bernyawa seperti binatang dan manusia, sehingga lahirlah kain songket Subahnale. Dasar tenunan kain songket Subahnale berwarna hitam atau merah, pada bagian tepi kain terdapat motif geometris dan pada bidang kain terdapat hiasan segi enam sambung menyambung yang di dalamnya terdapat motif hias kembang remawa, bunga tunjung dan panah. Ragam hias tersebut memenuhi bidang kain.

Konon, seorang penenun saat itu merasa senang dan puas karena mampu menyelesaikan tenunan songketnya, lalu secara serta merta ia mengucapkan Subhanallah, yang artinya Maha Suci Allah. Lama kelamaan, akibat dipengaruhi ucapan tersebut jdilah Subahnale. Kain songket itu lalu dikenal secara luas dengan kain songket Subahnale.

Bagi masyarakat Sasak, mengenakan busana kain songket di samping untuk memenuhi rasa untuk tampil menawan juga merupakan prestise bagi si pemakai dan keluarganya. kalau pada masa lalu mereka meukarkan hasil-hasil pertaniannya dengan kain songket, dewasa ini dilakukan dengan cara membeli atau membayar dengan uang.

Pemakaian kain songket sebagai busana paling menonjol pada pakaian pengantin pria dan wanita saat upacara perkawinan. Bisana pengantin pria terdiri dari ikat kepala (sapuq) dari kain songket. Pada bagian dada ke bawah sampai lutut menggunakan dodot songket dan pada bagian perut ke bawah sampai betis menggunakan selewoq songket. Pengantin wanita menggunakan bendang songket sebagai kain panjang dan sabuk bendang songket sebagai ikat pinggang.

E. Pengolahan Bahan

Benang katun yang dipakai sebagai dasar tenunan maupun untuk membuat motif hias pada kain songket Lombok sekarang diperoleh dengan cara membeli di toko. Sebelum itu, benang katun dipintal sendiri dari kapas lalu dicelup dengan warna-warna yang bahan pewarnanya diperoleh dari tumbuh-tumbuhan dan benda padat. Warna merah dari kelupas kulit kayu sepang. Warna biru dan hitam dari buah tarum. Warna coklat dari lumpur. Warna ungu dari buah pace. Warna kuning dari kunyit. Warna hijau dari daun pandan atau kayu manis.

Cara-cara mengolah kapas menjadi benang dapat dilihat di video berikut:

 

Selain itu teknik menenun songket dapat dilihat pada video berikut:

 

F. Ragam Hias

Kain songket Lombok dihiasi dengan aneka ragam motif hias. Secara umum, ragam hias kain songket Lombok dapat dibedakan menjadi beberapa kelompok, yaitu:

  1. Ragam hias geometris
  2. Ragam hias tumbuh-tumbuhan
  3. Ragam hias binatang
  4. Ragam hias manusia
  5. Ragam hias wayang, dll

Ragam hias geometris berupa motif garis lurusm garis melengkung, garis susdut menyudut, garis silang menyilang, garis membentuk tanda tambah, segitiga, segiempat, segienam, segidelapan, dan lingkaran-lingkaran. Ragam hias tumbuhan berupa motif pohon, daun, bunga, sulur. Ragam hias binatang berupa motif kupu-kupu, kepiting, kuda, burung. Ragam hias manusia berupa motif manusia dalam posisi naik kuda. Ragam hias wayang meniru bentuk dan rupa wayang sasak pada cerita Menak Amir Hamzah sedangkan ragam hias lain-lain adalah motif payung dan kala.

Hal spesifik dari ragam hias songket Lombok adalah pemberian nama pada asing-masing ragam hias seperti: bintang empat, payung agung, subahnale, remawa, dll.

Demikianlah tulisan mengenai Kain Songket Lombok. Nantikan tulisan lainnya kembali ^_^

Untuk model-model songket Lombok bisa didapat pada http://www.dlavabutik.com atau pada blog Dlava Butik: http://dlavabutik.blogspot.co.id

Daftar Pustaka: Departemen Pendidikan Nasional Kantor Wilayah NTB. 2000. Kain Songket Lombok.

 

 

Advertisements

One thought on “Kain Songket Lombok

  1. Pingback: Tenun Tradisional Nusa Tenggara Barat (NTB) | Lala Amalia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s