Panduan Mendidik Anak

Tulisan ini saya rangkum dari buku Panduan Mendidik Anak oleh Sari Narulita dari penerbit PT Variapop Group. Rangkuman ini saya rangkum untuk suami saya yang sedang bekerja disana. Halo suamiku tercinta, pasti kangen denganku dan anak kita,, hihihi. Hingar bingar cerita Jkt-UK-Spore-Jkt membuatku gatel untuk mencoret-coret blog ini lagiūüôā

BAB I: Bersiap Menjadi Orangtua

1. Mesin Fotokopi Paling Canggih

Sebuah penelitian menyatakan bahwa anak-anak meniru setidaknya 25% perkataan yg sering didengar mereka dan 60-70% akan meniru tindakan yg dilihat dari orang-orang yg ada di sekitarnya. Sebagai sosok dewasa yg pertama kali mereka amati, sikap dan tutur kata orangtua akan menjadi pegangan mereka untuk kemudian ditiru persis seperti yg orangtua lakukan. Oleh karena itu, jika menginginkan anak yg baik dan penuh dg kasih sayang jadikanlah diri kita menjadi ibu-bapak yg baik dan penuh kasih sayang

  • Memberikan arahan

Pepatah mengatakan buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Apa yg dilakukan seorang anak merupakan cermin sikap dan perilaku orangtua. Sebagai contoh penulis muda berbakat Abdurahman Faiz, yang ternyata anak dari penulis kenamaan, Helvy Tiara Rosa. Oleh karena itu, orangtua harus berperan aktif mengarahkan anak ke hal-hal positif. Bersikaplah sebagaimana kita ingin anak kita bersikap. Abdullah Nashih Ulwan mengemukakan 3 tahapan dalam pendidikan anak:

  1. Al qudwah atau contoh teladan. Anak diibaratkan sebagai kertas yg masih polos tinggal diwarnai oleh kita sendiri dg apa yg kita contohkan. Anak ibarat mesin fotokopi yg meniru dan terus meniru. Maka berilah mereka contoh yg baik mulai dari keseharian kita, baik ucapan, penampilan, dan tingkah laku.
  2. Al adha atau pembiasaan yg baik. Kebanyakan orang hafal atau terbiasa melakukan sesuatu karena ketika masih kecil sudah dibiasakan untuk menghafal atau melakukan sesuatu, karena kebiasaan kecil lebih dapat terekam dengan baik. Maka biasakanlah anak-anak kita dengan kebiasaan yg baik sesuai dengan contoh teladan.
  3. Al mau’izhoh atau pemahaman. Beri pemahaman atau alasan ketika anak harus melakukan atau dilarang melakukan suatu hal, karena dengan diberikan alasan dan pemahaman insyaAllah anak-anak akan mengerti.

 

2. Berkomunikasi Dengan Anak

Ucapan dan perintah orangtua kepada anak tidak semua bisa langsung dimengerti sehingga perlu ada upaya dan pendekatan khusus tatkala orangta hendak menyampaikan keinginannya. Pendekatan tersebut bergantung pd faktor usia, suasana hati (mood) serta tipikal kepribadian. Bahasa dalam berkomunikasi pun dibutuhkan bahasa yg lugas, mudah dimengerti oleh usia anak, tidak bertele-tele, dan gestur tubuh yg atraktif. Penyebab utama kekacauan di dalam rumah (Pengasuhan Anak: Yayasan Kita dan Buah Hati), disebabkan karena sebagai orangtua kita ingin anak bertingkah laku sesuai dengan apa yg kita inginkan. Tapi ternyata antara kita dan anak ada perbedaan kebutuhan. Tanpa disadari orangtua menjadi orang yg suka melarang apa yg paling disukai anak. Ketidaksinkronan antara kemauan anak dan orangtua secara nyata terlihat karena pola komunikasi yg kurang baik bahkan menimbulkan kemampetan. Pola komunikasi itu hingga kini masih jamak dilestarikan. Banyak orangtua yg masih mengandalkan cara-cara pengasuhan yg selama ini kita ketahui secara turun-temurun. Padahal dari dasar inilah kita harus bisa membentuk cara bicara atau berkomunikasi.

  • Pendengar yang Baik

Di tahun-tahun pertama usia anak, komunikasi terasa sangat manis karena perkembangan otak anak masih terbatas. Apa saja yg kita ucapkan akan dilakukannya. Tetapi begitu di atas usia 4-5 tahun, anak mulai membantah untuk menunjukkan diri dan pendapatnya. Selama ini menurut hasil penelitian, dalam berkomunikasi kita kurang memperhatikan masalah perasaan lawan bicara kita. Apakah iyu anak, pasangan hidup, teman kerja atau anggota keluarga terutama ketika mereka sedang dalam masalah. Padahal kebutuhan dasar manusia adalah diterima perasaannya, sehingga dia merasa aman dan nyaman sehingga bisa melanjutkan pembicaraannya. Kekeliruan dalam berkomunikasi pada akhirnya akan membuat pesan yg kita sampaikan tidak diterima dg baik oleh lawan bicara kita.  Orangtua perlu meningkatkan kemampuan untuk mendengar dan mengamati. Guna melancarkan kecakapan berkomunikasi tersebut orangtua harus mengerti dan memahami anak terlebih dahulu, terutama ketika anak sedang dalam masalah. Mendengar aktif, mendengar bukan hanya dengan telinga tetapi jg dengan hati sangat tepat digunakan bila anak dan remaja sedang mengalami masalah. Terbiasanya mendengar aktif akan membuat anak mampu mengekspresikan perasaan, merasa penting dan berharga, memberikan mereka pengalaman yg menyenangkan dan jg belajar untuk mendengar perasaan orang lain.

  • Mengenali 3 Susunan Otak Manusia

Berdasarkan susunanya, otak terbagi ke dalam 3 tingkatan. Tingkatan pertama: otak reptil, yakni otak yg mengatur fungsi-fungsi dasar kehidupan (spt suhu tubuh, detak jantung, sistem pernapasan termasuk jg reflek terhadap ancaman yg biasanya diwujudkan dalam bentuk penyerangan atau penghindaran). Karena sifatnya tersebut otak reptil memiliki fungsi reaktif, menghindar, bertahan dan menyerang. Tingkatan kedua adalah Otak Mamalia/Otak Korteks. Ia mengatur memori dan sebagian besar fungsi-fungsi emosi baik positif maupun negatif. Tingkatan ketiga adalah Otak Neo Korteks. Otak ini menangani proses berpikir tingkat tinggi pada manusia, baik berpikir kreatif maupun berpikir logika. Ketiga susunan otak di atas seringkali dipakai dalam pola pengasuhan oleh orangtua kepada anak-anaknya. Apabila kejadian tersebut bersifat ancaman dan telah membuat otak mamalia tertekan, maka otak ini akan segera memerintahkan otak reptil untuk aktif dan mengambil kendali lebih lanjut dalam perilaku kekerasan. Namun apabila kejadian tersebut membuat otak mamalia merasa senang, dia akan segera memerintahkan otak berpikir logis untuk aktif. Dalam kehidupan pola asuh orantua kepada anak, aktifnya otak reptil dan otak berpikir logis sangat bergantung setidaknya pada kondisi perilaku turun-temurun.

 

3. Pembentukan Karakter

Langkah terbaik untuk menjadikan seorang anak shaleh/shalihah hendaknya dilakukan sejak dini. Saat memorinya belum terkontaminasi dengan pengaruh-pengaruh negatif, kita dapat mulai membiasakan beberapa hal berikut kepada anak-anak sejak dini:

a. Ajarkan shalat sejak balita

b. Lingkungan islami

c. Teladan yg baik

d. Batasan aurat sejak dini

e. Ajarkan nilai-nilai islam secara langsung

f. Nuansa kehangatan: nuansa hangat dan harmonis dalam keluarga memberikan kenyamanan kepada anak. Hal ini akan memperkecil masuknya pengaruh buruk dari luar kepada anak. Ia tidak akan mencari tempat di luar sana y ia anggap lebih nyaman daripada di rumahnya sendiri.

 

4. Cara-cara Mendidik yg Harus Dihindari

  1. Pendidikan yg tidak seimbangantara pendidikan jasmani, rohani, dan keilmuwan.
  2. Menegur anak secara negatif
  3. Kurang mengawasi acara TV/Games/Video yg ditonton anak
  4. Tidak mengajarkan kebiasaan yg baik di rumah
  5. Kurang memberi sentuhan
  6. Bergantung pd orang lain apalagi pembatu rumah tangga
  7. Bertengkar di depan anak-anak
  8. Penampilan diri yg kurang baik dan kurang pantas
  9. Membiarkan keburukan masuk dalam rumah
  10. Mencela dan membentak
  11. Memberi Nasihat secara berlebihan
  12. Terlalu mendikte
  13. Terlalu sering mengkritik
  14. mengungkit kebaikan
  15. Memberi “label” buruk
  16. Membanding-bandingkan berarti juga menghina
  17. Terlalu sering menghukum
  18. Mengancam
  19. Selalu membiasakan Anak menjadi Figur yg tak pernah salah
  20. Melakukan kebohongan kecil
  21. Sering mengancam
  22. Orangtua tidak kompak
  23. Menakut-nakuti
  24. Selalu memberi hadiah

Mendidik anak sebaiknya dilakukan sejak dalam kandungan dan sebaiknya pasangan sudah memilih-milih sebelum menikah, pasangan seperti apa yg pantas untuk dinikahi agar buah cinta nantinya lahir sebagai buah cinta yg soleh, baik, dan juga berguna bagi sesama.

 

BAB 2: Kisah Keteladanan dalam Pengasuhan Anak

1. Mendidik Anak ala Rasulullah

  • Memberi Ciuman, Perhatian dan Kasih Sayang (HR Imam Ahmad)
  • Bermain dan Bercanda dg Anak (HR Bukhari)
  • Memberi Hadiah, Penghargaan dan Pujian kepada Anak (HR Ibnu Abid Dunya)
  • Mengusap Kepala Anak (HR Ibnu Hibban)
  • Menyambut dg kehangatan (HR Ibnu Asakir, Ahmad, Muslim dan Abu Daud)
  • Memperhatikan dan menanyakan kedaan anak (HR Thabrani)
  • Pengawasan khusus bagi perempuan dan yatim (HR Al Hakim, Al Baihaqi, Imam Ahmad dan Ibnu Hibban)
  • Mencintai Anak sec proporsional

2. Wasiat Luqman Al-Hakim

  1. Memegang akidah yg kuat
  2. Kesadaran atas pengawasan Allah SWT
  3. Shalat, amar ma’ruf nahi mungkar, dan sabar
  4. Tidak sombong
  5. Sederhana

 

Sekian, semoga kita berdua bisa menjadi orangtua yg baik untuk anak kita. Aamiin.

Wassalamu’alaikum.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s