Urgensi Makanan Halal

Assalamu’alaikum….

Tulisan ini saya dapat dari Indonesia Halal Directory 2011, hal 22. Menarik untuk dibaca.

Allah SWT memerintahkan manusia senantiasa mengonsumsi makanan yang halal dan tahyyib serta menjauhi makanan haram. Halal berasal dari bahasa Arab “halla” yang artinya lepas atau tidak terikat. Pada dasarnya bahan makanan/makanan ciptaan Allah SWT adalah halal, kecuali secara khusus disebutkan dalam Al-Qur’an atau Hadits. Makanan Thayyib adalah makanan yang aman (tidak menyebabkan penyakit), sehat (mengandung zat gizi yang diperlukan tubuh), dan proporsional (jumlahnya sesuai dengan kebutuhan tubuh). Haram adalah sesuatu yang Allah SWT larang untuk dilakukan dengan larangan yang tegas, setiap orang yang menentangnya akan berhadapan dengan siksaan Allah di akhirat.

Perintah mengonsumsi makanan halal dapat disejajarkan dengan bertaqwa kepada Allah SWT, dan secara tegas dan jelas terdapat dalam Al-Qur’an.

QS. Al-Baqarah: 168 (“Wahai sekalian manusiam makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syetan; karena sesungguhnya syetan itu adalah musuh yang nyata bagimu”).

QS. Al-Maidah: 88 (“Dan makanlah makanan yang halal lagi baik (thayyib) dari apa yang telah dirizkikan kepadamu dan bertaqwalah kepada Allah dan kamu beriman kepada-Nya”).

Mengonsumsi makanan yang halal dengan dilandasi iman dan taqwa karena semata-mata mengikuti perintah Allah, merupakan ibadah yang mendatangkan pahala dan memberikan kebaikan dunia dan akhirat. namun sebaliknya, memakan yang haram, apalagi diikuti dengan sikap membangkang terhadap ketentuan Allah adalah perbuatan maksiat yang mendatangkan dosa dan keburukan.

Ayat yang menyatakan bahwa perintah mengonsumsi makanan halal dapat disejajarkan dengan bertaqwa kepada Allah SWT, terdapat dalam Al-Qur’an:

QS. Al-Maidah: 88 (“Dan makanlah makanan yang halal lagi baik (thayyib) dari apa yang telah dirizkikan kepadamu dan bertaqwalah kepada Allah dan kamu beriman kepada-Nya”)

Firman Allah SWT yang secara jelas menyebutkan makanan yang haram untuk dikonsumsi, antara lain:

QS. Al-Baqarah: 173 (“Sesungguhnya Allah yang mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan yang disembelih dengan nama selain Allah”).

QS. Al-Baqarah: 219 (“Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi; Katakanlah: “Pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosanya lebih besar daripada manfaatnya”).

QS. An-Nisa: 43 (“Hai orang-orang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan”).

QS. Al-Maidah: 3 (“Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, daging hewan yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali kamu sempat menyembelihnya”).

QS. Al-An’am: 121 (“Dan janganlah kamu makan sembelihan yang tidak menyebut nama Allah dan sesungguhnya yang demikian itu fasik”).

QS. An-Nahl: 67 (“Dan dari buah kurma dan anggur, kamu buat minuman yang memabukkan dan rizki yang baik. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang memikirkan”)

QS. Al-Isra: 70 (“Dan sungguh Kami telah memuliakan anak cucu Adam (manusia) dan Kami Angkat (tinggikan) mereka di darat maupun di laut dan Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka diatas kebanyakan makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna”)

QS. Al-Maidah: 4 (Mereka menanyakan kepadamu: “Apakah yang dihalalkan bagi mereka?” Katakanlah: “Dihalalkan bagimu yang baik-baik oleh binatang buas yang telah kamu ajar dengan melatihnya untuk berburu, kamu mengajarkannya menurut apa yang telah diajarkan Allah kepadamu, maka makanlah dari apa yang ditangkapnya untukmu dan sebutlah nama Allah atas binatang buas itu. Dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah amat cepat hisab-Nya”)

Dari ayat-ayat di atas, jelaslah bahwa makanan dan minuman yang diharamkan adalah:

  1. Bangkai
  2. Darah
  3. Babi
  4. Binatang yang disembelih selain menyebut nama Allah
  5. Khamer atau minuman yang memabukkan

Yang diharamkan dalam hadist: binatang yang menjijikkan, binatang yang hidup di 2 alam, binatang yang tidak boleh dibunuh (seperti semut dan lebah), binatang buas bertaring, burung berkaki penerkam, daging keledai negeri.

Meskipun makanan yang diharamkan jumlahnya sangat sedikit, tetapi dengan perkembangan ilmu dan teknologi, saat ini telah bermunculan produk olahan makanan dengan penambahan berbagai bahan tambahan yang tidak jelas kehalalannya, sehingga menjadi syubhat (samar-samar, tidak jelas hukumnya). Untuk mendapatkan kejelasan status kehalalan suatu produk, maka perlu dilakukan sertifikasi halal yang dilakukan oleh Komisi fatwa MUI berdasarkan kajian dan audit (pemeriksaan) yang dilakukan oleh LPPOM MUI.

Wassalamu’alaikum…

One thought on “Urgensi Makanan Halal

  1. Pingback: Makalah Makanan, Minuman, dan Kosmetika antara Halal dan Haram « sabilitime

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s