Aktivitas Sensorial Montessori

Tulisan ini saya buat untuk Tugas Akhir kuliah Montessori bab Aktivitas Sensorial di Sunshine Teacher’s Training. Saya mendapatkan nilai 88 dari nilai maksimal tugas akhir , yaitu 90. Berikut tulisan saya mengenai Aktivitas Sensorial Montessori.

Aktivitas Sensorial Montessori

  1. Pengantar

Proses belajar saya dan anak saya yang pertama dan kedua dimulai sejak mereka lahir. Saya percaya bahwa seorang anak yang baru lahir mulai belajar dari lingkungan sekitarnya melalui indranya. Begitu mereka lahir, secara alami mereka mulai mengamati. Hal ini bisa dilihat dari kemampuan bayi saya mengisap air susu, ketertarikan pada suara tertentu, misalnya suara kedua orangtuanya ketika mengajaknya bicara, suara mainannnya, dan suara lainnya. Atau contoh lain, misalnya ketertarikan bayi saya dengan warna tertentu, seperti merah, hitam dan putih yang digabungkan, dan warna lainnya. Contoh-contoh tersebut di atas merupakan contoh bayi mulai belajar melalui indranya. Banyak buku yang membahas hal ini, salah satunya adalah buku Enlightening Parenting. Di dalam buku ini dijelaskan bahwa tahap perkembangan anak di usia 0-2 tahun adalah tahap sensori. Di tahap sensori ini, anak memahami sesuatu dengan indra, anak tidak mengenal rasa takut kecuali insting pertahanan hidup, misalnya nangis saat lapar. Aktivitas sensorial adalah salah satu cara anak untuk mendapatkan pengetahuan tentang lingkungannya melalui indra. Setiap anak membutuhkan pendidikan yang membutuhkan kecintaan seumur hidup untuk belajar. Saya harus memperkenalkan kepada anak-anak saya teknik atau metode belajar yang menyenangkan dan bermanfaat agar anak-anak saya cinta belajar seumur hidupnya. Pengembangan sensori adalah salah satu cara yang akan membantu mereka membangun keterampilan yang mereka perlukan. Inilah alasan mengapa saya mengambil judul mengenai aktivitas sensorial.

“Anak-anak mulai mengalami pengalaman sensorial saat lahir. Ketika anak-anak tumbuh, mereka mengeksplorasi dan belajar dengan berinteraksi dengan lingkungan mereka melalui indra mereka.” (Maria Montessori)

2. Isi

Sensori berasal dari kata sense, yang berarti indra. “Anak adalah penjelajah sensorial” (Maria Montessori). Pembelajaran sensori adalah pembelajaran yang merangsang panca indra anak, yaitu rasa, sentuhan, penciuman, penglihatan, dan pendengaran. Melalui indra, anak belajar tentang lingkungan. Dengan menggunakan indra, anak-anak belajar untuk menjelajahi dan memahami lingkungan sekitar mereka dan dunia. Ini termasuk kegiatan yang membantu mereka mempelajari objek benda, warna benda, tekstur benda, situasi, angka, bahasa, dan hal lainnya. Pengalaman sensorial dimulai dari sejak lahir. Tujuan utama dari aktivitas sensori adalah membantu anak-anak memilih berbagai macam kesan yang mereka peroleh dari setiap indranya. Aktivitas sensori mampu mengembangkan indra anak karena anak dihadapkan pada tantangan yang meningkat dari sederhana ke hal yang kompleks atau rumit. Aktivitas sensori juga mampu menata persepsi indra anak, yaitu diawali dengan mengenalkan kualitas suatu persepsi, kemudian dilanjutkan dengan menunjukkan rentang perbedaan dalam satu kualitas tersebut sehingga akhirnya menemukan pola teratur. Aktivitas sensori juga dapat memperluas persepsi anak terhadap lingkungan dengan membangunkan pengalaman sensori yang belum pernah dilakukan. Aktivitas sensori juga mampu mengasah persepsi indra, yaitu dengan membiarkan anak untuk merasakan pengalaman dan konsentrasi pada satu kualitas tertentu secara terpisah dan jelas. Dari tersebut maka dapat dikatakan bahwa aktivitas sensori mampu membantu anak  mengembangkan, menata, memperluas, dan mengasah persepsi indra. Saya dapat memberikan contoh mengenai empat pola di atas. Pada aktivitas sensorial pink tower, anak saya dari umur 1,5 tahun senang memegang komponen pink tower. Dia merasakan kesepuluh bentuk yang sama namun dengan ukuran yang berbeda. Pada material tersebut (pink tower), anak saya awalnya tertarik dengan warnanya. Indra penglihatannya tertarik dengan warna pink. Setelah tertarik, anak saya memegang material tersebut. Awalnya anak saya tertarik dengan bagian pink tower yang kecil. Hal ini disebabkan karena sesuai dengan ukuran tangannya. Memegang dengan tangan, merasakan bentuk material dari genggaman tangan merupakan bagian dari aktivitas sensorial. Stereognostiknya bekerja. Setelah memegang, lalu material dimasukkan ke mulut. Pada bagian ini tentunya di bawah pengawasan. Namun, kejadian ini dapat saya katakana bahwa indra pengecapnya pun “penasaran”. Dari rasa “penasaran” inilah yang membuat indra pengecapnya bekerja. Lalu, di umur dua tahun, anak saya mulai menyusun pink tower secara vertikal meskipun belum bisa beraturan dan diumur 2,5 tahun bisa menyusun material ini secara vertikal dengan benar. Lalu anak saya yang pertama, di umur empat tahun dapat menyusun pink tower dengan berbagai macam pola sederhana. Umur lima sampai enam tahun mulai dapat menyusun pola pink tower dengan pola yang lebih kompleks bahkan dengan mata tertutup.

Salah Satu Pola Pink Tower

Hal lainnya juga anak saya mampu menggabungkan dua macam material aktivitas sensorial menjadi suatu pola yang dapat dipelajari, seperti menggabungkan material pink tower dengan brown stairs.

Kombinasi Pink Tower dengan Brown Stairs

Hal ini dapat dikatakan aktivitas sensorial juga melatih kemampuan logika dan kognitifnya. Aktivitas-aktivitas anak-anak saya ini menggambarkan bahwa aktivitas sensorial melatih mengembangkan (mulai dari melihat, memegang hingga menyusun), menata (memegang sehingga bisa merasakan yang paling kecil ke yang paling besar sehingga tercipta pola tatanan dari indra yang bekerja), memperluas (kemampuan menggabungkan pink tower dengan brown stairs), sehingga terciptalah kemampuan yang dapat mengasah persepsi indranya. Dari mampu hal-hal yang sederhana hingga kompleks/rumit seperti penyusunan pola rumit pink tower dapat dikatakan bahwa anak sudah tercipta kemampuan dalam mengasah indranya.

“Anak yang telah bekerja dengan alat sensorik memperoleh keterampilan yang lebih besar dalam penggunaan tangannya, serta mencapai tingkat perspektif yang lebih tinggi terhadap rangsangan dunia luar. Sejauh ini anak mampu menghargai perbedaan.” (Maria Montessori)

Bahan yang digunakan dalam aktivitas sensorial didisain khusus agar menarik untuk anak. Hal ini dapat dikatakan bahwa bahan sensorial telah disesuaikan dengan sifat alami anak, bukan sifatnya berteknologi, yaitu:

  1. Dibuat dari bahan-bahan yang disukai anak, misalnya kayu, biji-bijian, batu, dan lain-lain.
  2. Dibuat dengan proposi dimensi yang menarik serta didisain pas untuk ukuran tangan anak.
  3. Dibuat dengan jelas, lapisan warna alami, dan bentuk yang mendasar.

Setiap material untuk aktivitas sensorial terdiri dari satu perangkat objek yang akan menghasilkan satu kualitas tunggal. Berikut adalah tiga contoh material mengenai satu kualitas tunggal ini, misalnya aktivitas yang berkaitan dengan indra penglihatan.

Pink Tower

Material ini terdiri dari sepuluh kubus dari kayu dan berwarna merah jambu dalam ukuran beragam, yaitu 1 cm3 – 10 cm3 dengan rentang yang setara pada seluruh dimensi, yaitu 1 cm. Pink tower mempunyai fungsi membantu anak mengembangkan konsep perbedaan visual tiga dimensi, mengembangkan koordinasi otot halus dan gerakan, menyiapkan anak untuk belajar matematika dengan melatih kemampuan untuk membandingkan dan menyususn secara berseri dan berurutan, secara tidak langsung menyiapkan anak untuk menghadapi materi geometris, serta mengajarkan perbendaharaan matematika dasar.

Brown Stairs

Material ini berupa sepuluh prisma segiempat dari kayu dan berwarna coklat. Semua prisma memiliki Panjang yang sama, yaitu 20 cm, namun dengan ketebalan yang beragam, yaitu dari 10 cm x 10 cm sampai 1 cm x 1 cm pada setiap ujungnya, dengan rentang ketebalan yang setara. Brown stairs mempunyai fungsi membantu anak mengembangkan konsep perbedaan visual dua dimensi, meningkatkan koordinasi gerakan dan control motorik halus, menyiapkan anak untuk belajar matematika dengan melatih kemampuan untuk membandingkan dan menyusun secara berseri dan berurutan, mengajarkan perbendaharaan matematika dasar, dan secara tidak langsung menyiapkan anak menghadapi materi geometris melalui observasi pada ukuran sudut, sisi, dan volume prisma, serta secara tidak langsung menyiapkan anak menghadapi konsep angka, yaitu melalui peragaan perbedaan tinggi dan lebar di antara sepuluh prisma yang ketebalannya berbeda-beda.

Knobbed cylinders

Material ini terdiri dari empat blok dari kayu dengan sepuluh rongga silinder.

  1. Blok 1 terdiri dari 10 silinder dengan tinggi dan diameter yang berbeda dari panjang dan lebar ke pendek dan sempit.
  2. Blok 2 terdiri dari 10 silinder dengan tinggi dan diameter yang berbeda dari Panjang dan sempit ke pendek dan lebar.
  3. Blok 3 yang terdiri dari 10 silinder denngan diameter yang berbeda.
  4. Blok 4 yang terdiri dari 10 silinder dengan tinggi yang berbeda.

Adapun fungsi knobbed cylinders adalah membantu anak mengembangkan konsep perbedaan ukuran secara visual dan dimensi, meningkatkan koordinasi gerakan dan kontrol motorik halus anak, meningkatkan dasar matematika anak dengan mengamati perbedaan umum antarbalok silinder, menyiapkan anak menghadapi aktivitas menulis, yaitu dengan memegang balok silinder pada tungkainya, serta meningkatkan kemampuan dalam menyusun secara  berseri.

Pengalaman terhadap satu kualitas spesifik ini timbul karena setiap objek dalam satu perangkat memiliki ciri-ciri yang serupa. Jika kualitas ini dapat diukur, objek akan dibuat beragam secara umum, sehingga dapat terlihat adanya perbedaan tingkatan pada objek yang telah dirangkai. Sekurang-kurangnya satu aktivitas sensorial yang disediakan untuk setiap kualitas yang dapat dipersepsi oleh kemampuan indra manusia, yaitu indra penglihatan/visual (seperti persepsi terhadap ukuran, bentuk, komposisi, pola, dan warna), indra pendengaran/auditori (seperti persepsi terhadap nyaringnya suara, nada), indra penciuman (persepsi terhadap bau), indra sentuhan/taktil (seperti persepsi terhadap tekstur), indra barik (persepsi terhadap berat), indra termal (persepsi terhadap suhu), indra pengecapan (persepsi terhadap rasa), indra stereognosis (persepsi melalui taktil, otot, dan gerakan).

Dalam mempresentasikan aktivitas sensorial, directress mempresentasikan melalui langkah-langkah dengan prinsip Pelajaran Tiga Periode.

Periode 1 – Penamaan

Periode pertama diawali dengan mengidentifikasi suatu kualitas tertentu dan memberikan pengertian dengan mengenalkannya. Pada periode ini directress harus mengisolasi objek. Kalimat yang bisa diucapkan pada periode ini adalah, “Ini adalah sepeda. Dapatkah kamu mengatakan sepeda?” Directress mendorong anak untuk mengucapkan kata sepeda. Lalu, directress mengambil objek lain misalnya mobil (mainan sepeda tidak terlihat) dan berkata “Ini adalah mobil. Dapatkah kamu mengatakan mobil?” Directress mendorong anak untuk mengucakan kata mobil.

Periode 2 – Asosiasi/Pengakuan

Pada periode ini kedua mainan sepeda mobil ditempatkan di depan anak dan directress bertanya “Dapatkah kamu menunjukkan mobil?” Setelah anak menunjukkan mobil, directress kembali bertanya, “Dapatkah kamu menunjukkan sepeda”? Dia mengulangi kegiatan ini paling tidak empat kali. Directress harus meminta kepada anak untuk menunjuk ke objek yang diperkenalkan terakhir pada periode pertama, pertama di periode kedua. Setiap kali anak menunjukkan objek, directress harus mendorong anak utnuk menyebut objek.

Periode 3 – Pengingat

Directress meminta anak untuk menyebut nama objek yang ada di depannya, menaruh objek satu per satu dan bertanya, “Apa ini?” Directress harus memita anak untuk menyebutkan onjek yang dikenalkan terakhir di periode kedua, dan pertama di periode ketiga.

Otak bayi yang baru lahir memiliki seratus miliar neuron. Ketika neuron ini tumbuh, sinapsis atau koneksi antar sel otak meningkat. Namun, sinapsis juga dapat berkurang karena otak menghilangkan tautan yang jarang atau tidak pernah digunakan. Pembelajaran sensorik membangun koneksi saraf di jalur otak dengan mempromosikan kegiatan yang merangsang indera mereka. Hal ini akan meningkatkan kemampuan anak untuk menyelesaikan tugas yang lebih rumit ke depannya. Beberapa manfaat dari aktivitas sensorial adalah:

  • Meningkatkan daya ingat. Aktivitas sensorial dapat meningkatkan kemampuan anak untuk mempertahankan pelajaran dengan belajar dari pengalaman. Memori motoric anak akan ditingkatkan dengan latihan.
  • Membangun pemikiran kritis dan pemecahan masalah. Aktivitas sensorial mengenalkan anak pada berbagai aktivitas menyenangkan yang akan membuat anak bertanya-tanya. Kegiatan ini dirancang untuk membangkitkan kemampuan pemecahan masalah mereka.
  • Menenangkan anak. Aktivitas sensorial adalah cara menyenangkan yang membantu mengendalikan kegelisahan anak dengan meringankan ketidaknyamanan mereka karena aktivitas ini mengenalkan mereka pada pembelajaran baru tanpa terlalu merangsang mereka.
  • Memperkuat perkembangan anak-anak. Aktivitas sensorial memaparkan anak berulang kali pada aktivitas dan pengalaman yang meperkuat perkembangan otak anak.
  • Mendukung keterampilan sosial. Aktivitas sensorial memungkinkan anak menikmati kerjasama dengan oranglain dan membangun interaksi sosial yang kuat. Hal ini memberi mereka rasa memiliki, mengembangkan empati, dan melengkapi anak dengan keterampilan komunikasi yang lebih baik. Interaksi verbal dan non-verbal mereka akan memberi anak fondasi yang sangat baik untuk menjadi orang yang lebih baik seiring bertambahnya usia.

Di era digital ini, semakin banyak anak yang terpapar pada gadget yang tidak memiliki penggunaan esensial dari semua indera. Tanggung jawab pendidik (khususnya orangtua) untuk bertindak memberi mereka fondasi yang kuat. Sangat penting untuk menanamkan keterlibatan fisik dan mental dalam Pendidikan anak. Aktivitas sensorial adalah jenis aktivitas yang akan disukai anak-anak dan sangat bermanfaat bagi anak.

Anda tidak ada, Anda tidak bisa berharap untuk tumbuh. Itu adalah langkah luar biasa yang dilakukan anak, langkah yang berubah dari tidak ada menjadi sesuatu.” (Maria Montessori).

3. Kesimpulan

Semakin cepat pendidik belajar aktivitas sensorial montessori, semakin baik anak-anak akan memetik manfaatnya. Saya sudah merasakan sendiri manfaat dari aktivitas sensorial ini. Anak saya percaya diri, nyaman dengan aktivitasnya, dapat bekerjasama serta dapat memecahkan masalahnya sendiri apabila dihadapkan pada suatu challenge/masalah.

4. Daftar Pustaka

Slide bahan kuliah https://online.sunshineteacherstraining.com

Fitriani, Okina. 2017. Enlightening Parenting. Jakarta: Serambi Ilmu Semesta.

Gettman, David. 2016. Metode Pengajaran Montessori Tingkat Dasar. Aktivitas Belajar untuk Anak Balita. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Membuka dan Menutup Alas Kerja

Assalamu’alaykum,

Kalau teman-teman pernah liat sekolah montessori atau memang praktisi montessori di rumah, teman-teman pasti tidak asing lagi mendengar alas kerja. Alas kerja montessori bisa berupa kain, tikar, nampan dan hal lain yang bisa dipakai sebagai alas. Tujuan dari alas kerja adalah untuk mendefinisikan ruang kerja siswa dan untuk memperkuat prinsip Montessori tentang “kebebasan dalam batasan”. Ada unsur penghormatan dengan memiliki ruang kerja yang didefinisikan dan itu adalah sesuatu yang siswa sangat serius perhatikan. Para siswa prasekolah Montessori diperlihatkan cara berjalan di sekitar tikar, bagaimana menempatkan pekerjaan mereka di atas tikar dan bagaimana saling menghormati ruang kerja pribadi satu sama lain. Mereka juga belajar bahwa tidak pernah boleh mengganggu pekerjaan teman sekelas atau bergabung dengan pekerjaan teman sekelas kecuali izin diberikan oleh siswa itu.

Alas kerja harus mudah di akses. Alas kerja plastik digunakan untuk kegiatan yang menggunakan air. Alas kerja yang tidak menggunakan air bisa dipakai dari bahan apa saja. Berikut adalah ground rules Menggunakan Alas Kerja:

Alat: alas kerja

Tujuan: tujuan langsung adalah mengajarkan kepada anak cara membuka dan menutup alas kerja. Tujuan tidak langsung adalah meningkatkan koordinasi mata dan tangan, perhatian terhadap lingkungan, dan persiapan untuk belajar menulis.

Kontrol kesalahan: melihat dan merasakan bahwa tepi yang digulung tidak seimbang, lipatan alas kerja yang digulung longgar, alas kerja tidak tergulung dengan rapih.

Usia: 2,5 tahun ke atas

Presentasi:

  1. Directress mengajak anak-anak untuk duduk membentuk lingkaran, lalu menjelaskan dan menunjukkan bagaimana cara membuka dan menutup alas kerja.
  2. Directress menunjukkan cara membawa alas kerja: alas kerja dibawa sejajar dan dekat dengan tubuh. Kemudian duduj dengan kaki disilangkan atau berlutut, buka gulungan alas kerja dengan jari tangan kanan secara perlahan.
  3. Untuk menggulung, gunakan jari-jari tangan kanan untuk membuat lipatan sekitar 2 inci, posisi jari tangan kanan di tengah lipatan, kemudian gunakan tangan kiri untuk menggulung seluruh sisi karpet, lalu jari-jari tangan kiri menekan tengah lipatan, gunakan jari tangan kanan untuk memastikan alas telah terlipat dengan rapih.
  4. Ulangi gerakan tersebut sampai seluruh karpet tergulung, setelah selesai tepuk kedua ujung untuk memastikan karpet telah tergulung.
  5. Bawa karpet dengan kedua tangan dan menaruhnya kembali ke dalam keranjang.
  6. Directress mengajak anak untuk mencoba

Berikut adalah video saya dengan anak saya yang berumur 2 tahun dan 6 tahun dalam Membuka dan Menutup alas kerja.

Cara Membuka dan Menutup Alas Kerja
Membuka dan Menutup Alas Kerja

Cara Berjalan Di Dalam Kelas

Cara Berjalan Di Atas Garis -Montessori

Assalamu’alaykum,

Video di atas adalah video saya dan anak-anak saya sedang melakukan aktivitas Cara berjalan Di Atas Garis. Cara Berjalan Di Atas Garis termasuk aktivitas belajar di kurikulum Montessori Exercise of Life Skills atau yang dikenal dengan Practical Life Skills. Berikut ketentuannya:

Alat: tidak diperlukan

Tujuan: tujuan langsung adalah mengajarkan kepada anak cara berjalan di dalam ruang kelas. Tujuan tidak langsung adalah mengembangkan kontrol diri anak, koordinasi tubub, mengajarkan sikap tenang dan keteraturan.

Kontrol kesalahan: arahan directress

Usia: mulai dari 2 tahun

Presentasi:

  • Directress mengajak anak-anak untuk belajar tentang cara berjalan di dalam kelas
  • Directress menjelaskan pentingnya berjalan pelan, tenang, dan teratur sehingga tidak mengganggu teman yang lain di kelas.
  • Directress juga menjelaskan bahwa di dalam kelas tidak dibolehkan berlari.
  • Directress berjalan di dalam ruangan dari sudut yang satu ke sudut ruangan yang lain. dengan sikap tubuh yang baik dan gerakan yang anggun.
  • Directress mengajak anak untuk mencoba.

Variasi:

  1. Berjalan mengelilingi karpet
  2. Mengatakan ‘permisi’ ketika lewat didepan orang lain.

Sekian tulisan dari saya, semoga bermanfaat. Wassalamu’alaykum.

EPL (Exercise of Practical Life)

Assalamu’alaykum,

Saya sedang ambil kuliah lagi, tapi kali ini saya ambil jurusan Montessori. Tujuan saya ambil kuliah ini, karena saya dari tahun 2013 (semenjak anak pertama saya lahir), senang dengan ilmu ini dan saya praktekkan ke anak peryama saya. Ternyata hasilnya luar biasa banget. Anak peryama saya senang banget berkegiatan montessori, saya dan anak pertama saya jadi suka berkegiatan di rumah, dan yang paling penting anak saya tidak begitu senang dengan hp. Sampai sekarang umurnya 6 tahun, anak saya lebih senang berkegiatan di kehidupan nyata. Kurikulum Montessori ala-ala saya yang saya rasakan telah memberikan dampak positif untuk saya dan anak saya, suami saya juga senang ikut berkegiatan meski jarang karena kesibukannya bekerja, maka saya memutuskan untuk ikut kuliahnya agar tau lebih dalam lagi tentang Montessori.

Setelah saya mengambil kuliah Montessori, ternyata langkah-langkah dalam Montessori itu harus sistematis untuk mendapatkan hasil yang optimal. Yang saya praktekkan pada anak pertama saya tidak sistematis, karena keterbatasan informasi/ilmu dan keterbatasan alat. Untuk anak saya yang kedua, saya usahakan agar sistematis, mengikuti kurikulum kuliah saya saja.

Saya ceritakan dulu ya mengenai gambaran umum Montessori. Montessori diambil dari nama penemunya, yaitu Dr. Maria Montessori. Beliau adalah salah satu pendidik yang menekankan perlunya pendidikan awal. Metode Montessori dikembangkan pada awak 1900-an secara ilmiah untuk mempelajari sifat sejati anak. Dia mengamati bahwa anak-anak memiliki kemauan untuk belajar dengan memberikan mereka kesempatan untuk terlibat dalam kegiatan terarah dengan bimbingan orang dewasa yang terlatih. Di kelas Montessori, anak-anak diizinkan untuk belajar dengan kecepatan mereka sendiri, sesuai dengan kapasitas mereka sendiri, anak-anak menunjukkan kualitas mereka seperti spontan diri, disiplin, cinta ketertiban, dan kegiatan intelektual. Lingkungan inu memungkinkan anak-anak bertanggung jawab atas pendidikan mereka sendiri, memberi mereka kesempatan untuk menjadi manusia yang mandiri.

Ide dasar dalam pendekatan pendidikan Montessori adalah semua anak telah memiliki potensi alami. Kalau di agama islam kita kenal dengan fitrah. Dr. Montessori mengatakan bahwa tujuan dari pendidikan dini harus menumbuhkan keinginan alami anak-anak untuk belajar. Tujuan ini dicapau dengan memungkinkan setiap anak untuk mengalami kegembiraan belajar daripada dipaksa.

Salah satu bidang kegiatan yang dikembangkan Dr. Montessori adalah kegiatan keterampilan hidup praktis (EPL). Melalui latihan EPL ini, memungkinkan anak percaya diri dan kompeten dalam kegiatan sehari-hari, kegiatan dirancang sehingga memungkinkan anak mendapatkan pengalaman kehidupan nyata. Anak puas dengan alat yang sesuai dengan mereka.

Benda-benda yang digunakan untuk kegiatan keterampilan kehidupan praktis tidak memiliki tujuan ilmiah. Objek yang digunakan sesuai dengan kehidupan anak sehari-haru, tetapi dibuat sesuai ukuran anak. Maria Montessori -Discovery of the child

Kegiatan ini dipilih secara pribadi oleh anak. Terlepas dari tujuan langsung dari kegiatab sehari-hari, tujuan tidak langsungnya adalah:

  1. Untuk menyempurnakan keterampilan motorik halus anak
  2. Mendorong kemandirian anak
  3. Mengembangkan konsentrasi untuk membangun siklus kegiatan dan keteraturan.

Kegiatan EPL ini menanamkan dalam diri anak-anak perawatan untuk diri mereka sendiri, orang lain, dan lingkungan. Latihan-latihan ini adalah fondasi dimana mampu melakukan pekerjaan.

Anak bekerja untuk menikmati proses, orang dewasa untuk mencapai hasil akhir”. Dr. Maria Montessori

Montessori Practical Life Exercise dipandang sebagai landasan Metode Montessori. Latihan ini memberikan kesempatan bagi anak-anak untuk melakukan pekerjaan yang memiliki tujuan dan membantu mereka dalam perkembangan, baik fisik, kognitif, sosial, dan emosional. EPL dirancang untuk mengajarkan anak-anak keterampilan hidup.

Prinsip Alat Montessori Practical Life

  1. Masing-masing alat harus memiliki tujuan yang pasti dan bermakna bagi anak.
  2. Kesulitan atau kesalahan yang akan ditemui dan dipahami anak, harus terisolasi dalam satu material tersebut. Contoh: aktivitas menyendok hanyalah untuk keterampilan menyendok, bukan untuk mempelajari warna.
  3. Material berkembang dari sederhana ke kompleks dalam hal desain dan penggunaan.
  4. Alat-alat tersebut dirancang untuk mempersiapkan anak secara tidak langsung untuk pembelajaran yang berikutnya.
  5. Material dimulai sebagai penyajian yang konkret secara bertahap bergerak menuju representasi yang lebih abstrak.
  6. Material montessori didisain untuk mengedukasi diri sendiri dan kontrol kesalahan terletak pada material yang bersangkutan, bukan dari koreksi guru. Kontrol kesalahan memandu anak dalam menggunakan material dan mengizinkannya untuk mengenali kesalahan yang telah ia buat.

Selain hal di atas, berikut hal lain yang harus dipertimbangkan ketika mempersiapkan alat:

  1. Alat disimpan bersama-sama dalam keranjang kecil/pada sebuah nampan. Alat tersebut harus dikelompokkan dan disimpan bersama-sama sesuai dengan tingkat perkembangannya dan anak harus mengambil dan menaruh kembali ke tempat asalnya.
  2. Alat mudah dijangkau anak.
  3. Harus mempunyai ukuran, berat yang tepat, bersih, dan utuh.
  4. Harus menyajikan banyak kualitas yang berbeda seperti berat, tekstur, warna, bentuk, ukuran, dan sebagainya.
  5. Harus identuk dengan perkecualian dari kualitas yang dimiliki masing-masing. Harus menarik warna, kecerahan, dan proporsi.
  6. Harus terbatas dalam kuantitas.
  7. Selalu tersedia untuk anak pada saat ia ingin menggunakan karena merupakan sarana baginya untuk menjadi ternormalisasi.

Empat Kategori Kegiatab Keterampilan Hidup (EPL):

Perawatan Lingkungan: latihan utama dalam perawatan lingkungan adalah menuang, memindahkan, membersihkan, dan mengelap. Menuang adalah kegiatan yang unun di sekolah Montessori. Anak-anak akan belajar untuk menuang biji-bijian dari satu teko ke teko yang lain dan kemudia ke yang lebih kompleks seperti latihan menuang dari satu teko ke dua gelas atau lebih. Latihan sederhana ini secara tidak langsung mempersiapkan anak untuk konsep-konsep matematika seperti volume dan kapasitas.

Perkembangan Keterampilan Motorik: latihan seperti membuka dan menutup botol, kotak, gembok, memotong dengan gunting, mur dan baut, dll dirancang untuk membantu anak memperbaiki keterampilan motorik halus, koordinasi mata dan tangan.

Perawatan diri: perawatan diri meliputi legiatan yang berkaitan dengan kebersihan pribadi seperti mencuci dan mengeringkan tangan, menyikat gigi, menyisir rambut, membersihkan dan memotong kuku, mengelap hidung, berpakaian dan membuka baju. Fokus utama dalam latihan ini adalah untuk menumbuhkan kemandirian.

Tata Krama dan Sopan Santun: Maria montessori menganggap kegiatan tata krama dan sopan santun ini sebagai latihan paling penting dalam kegiatan EPL. Anak-anak harus diajarkan bagaimana cara menyapa, berjabat tangan, meminta sesuatu mengatakan toling, meminta maaf dan memaafkan diri sendiri.

Sekarang kita akan melihat latihan-latihan EPL ini. Di tulisan selanjutnya adalah kegiatan-kegiatan EPL saya bersama anak saya yang berumur 6 tahun dan 2 tahun.

Terima kasih sudah membaca, wassalamu’alaykum.

Sinergi Membangun Generasi Kreatif dan Berkarakter Islami

Assalamu’alaykum,

Tulisan sy ini adalah hasil yg sy rangkum dari seminar JSIT (Jaringan Sekolah Islam Terpadu) di Mataram, NTB, yg berlangsung pd hari Kamis, 28 Maret 2019 yg berjudul Sinergi Membangun Generasi Kreatif dan Berkarakter Islami.

Sy hanya mencatat apa yg dibicarakan oleh TGH. Satriawan saat membacakan doa membuka acara, Drs. H. Sukro Muhab selaku pembicara parenting. Sy tidak mencatat slide karena sy tidak dapat kursi di daerah depan sehingga tidak bisa melihat slide.

Anak harus diberikan pendidikan. Jika pendidikan saja tidak diberikan, bagaimana doa anak bisa sampai ke orangtua?

Orangtua harus belajar mendidik anak, mengapa?

1. Karena anak bs menjadi penentu surga atau neraka.

2. Tantangan pengasuhan skr jelas berbeda dibandingkan dg zaman dulu. Tantangan zaman sekarang lebih kompleks sehingga orangtua mau atau tidak mau, suka atau tidak suka harus punya ilmu agar dapat menghadapi tantangan tsb.

3. Anak dapat menentuka nasib bangsa 20 th yg akan datang -Abraham Lincoln-

Yang bertanggung jawab terhadap pendidikan anak itu siapa? Sekolah/Orangtua? Jelas Orangtua. Karena pendidik pertama dan utama seorang anak adalah orangtua. Adapaun guru, sekolah hanyalah mitra.

3 pusat pendidikan seseorang:

  1. Keluarga: tugas utama keluarga adalah menjaga fitrah manusia. Dari keluarga bs dididik dg adab, ilmu, kepribadian. Dalam surat At-Tahrim ayat 6 Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (At-Tahrim: 6)

2. Sekolah: yg diajarkan di sekolah seperti pengembangan kompetensi, bakat, kebangsaan.

3. Masyarakat: amar ma’ruf nahi mungkar.

Peran dan Tugas Orangtua:

I. Mendidik anak adalah amanah dr Allah, artinya ortu dipercaya Allah untuk menjaga amanah dari-Nya.

  1. Ortu harus punya visi dan misi keluarga terutama mengenai pendidikan. Keluarga, anak-anak mau dibawa kemana. Contoh nabi yg mempunyai visi dan misi yg visioner adalah Nabi Ibrahim AS. Menghasilkan anak-anak dan turunan yg Nabi jg, yaitu Nabi Ismail, Nabi Yaqub, Rasulullah Muhammad SAW. Visi dan Misi Nabi Ibrahim AS ada dalam surat Al-Furqan: 74 dan surat Ibrahim: 40.

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

“Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (Al-Furqan: 74).

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي ۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ

“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.” (Ibrahim: 40)

2. Janganlah ortu meninggalkan generasi yg lemah. Bagaimana caranya? Mulailah dg bertakwa kpd Allah, berkata-kata yg benar dan baik kepada anak, tidak boleh berbohong walaupun itu hal kecil, sebagaimana tercantum dalam surat An-Nisa: 9.

وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (An-Nisa: 9).

Kemampuan-kemampuan yg Harus Anak-Anak Kuasai di Masa Depan adalah:

  1. Kemampuan memecahkan masalah.
  2. Social skill: berkomunikasi, bersosialisasi, saling menghargai.
  3. Soft skill
  4. Berwawasan luas.

II. Orangtua Harus Sabar

Ada tips sabar dari Allah yg tercantum dalam surat Ali Imran ayat 159: mohonlah rahmat dr Allah, lemah lembut, maafkan, mohon ampun, musyawarah dan bertawakkal. Jangan bersikap keras hati.

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِي

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (Ali Imran: 159)

Selain yg tercantum dalam surat Ali Imran, orangtua jg harus kreatif. Jangan marah/capek kl satu cara belum berhasil. Kreatif menggunakan cara-cara yg menyenangkan dalam mendidik anak.

Bagaimana membuat diri ortu dan anak agar kreatif:

  1. Bermain
  2. Latih imajinasi dg membaca buku
  3. Rangsang dg bertanya
  4. Bebaskan bereksplorasi
  5. Pilih pilihan liburan yg edukatif dan kreatif
  6. Dahulukan pujian dibandingkan sanksi.

Sekian, wassalamu’alaykum.


Peran Ibu Shalihah Dalam Membentuk Generasi Milenial

Generasi Milineal adalah generasi yang lahir di antara tahun 1980 – 2000, atau disebut Gen Y. Generasi yang lahir tahun 2000 – 2020 disebut generasi post milineal/Gen Z. Pembagian generasi sendiri per-20 tahun.

Ciri-ciri generasi milineal adalah

  1. Sangat tergantung pada internet/gadget karen ketersediaan internet dan kecanggihan teknologi.
  2. Perbedaan cara komunikasi dengan generasi sebelumnya, interaksi lebih sulit dilakukan, karena sudah sibuk dengan interest masing-masing. Namun, hal ini membuat kolaborasi bisa lebih mudah terjadi di antara orang-orang yang memiliki interest yang sama.

Yang perlu dilakukan adalah: membuat atmosfir dimana anak-anak mau melakukan segala sesuatunya karena keinginan mereka sendiri dengan cara meng-install WHY-nya terlebih dahulu; tidak bisa lagi memakai cara ‘nyuruh-nyuruh’.

Kebanyakan orangtua sekarang, supaya mengetahui permasalahan yang dihadapi anak, cari lewat social media anak, karena biasanya anak-anak ‘curhat’ disana. Jadi ortu juga perlu punya social media, tapii dengan tujuan untuk mengetahui keadaan anak (bukan agar bisa menjadi sosialita di social media).

Perlu di cek juga siapa teman-teman anak di social media, karena status/caption teman bisa menjadi pemasok informasi ke pemikiran anak-anak kita.

Untuk mengatasi tantangan seperti ini, yang bisa ortu lakukan adalah tanamkan keimanan pada anak-anak.

Tentang keimanan anak:

  1. Nabi Yaqub AS sebelum meninggal berwasiat kepada bani Israil anak-(anaknya-anaknya 12 orang); siapa yang kalian sembah setelah saya meninggal? Nabi Yaqub saja, yang merupakan cucu Nabi Ibrahim dan anak Nabi Ishaq mengkhawatirkan keimanan anak-anaknya sebelum meninggal.
  2. Kisah Rasulullah SAW kepada Abu Thalib meninggal dalam keadaan belum islam. Allah Ta’ala berfirman dalam surat Al-Qashas ayat ke-56.

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَن يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS Al-Qashash [28]: 56).

Maka, jangan sia-siakan hidayah yang Allah Ta’ala berikan pada kita.

Upaya apa yang bisa ortu lakukan untuk menjaga hidayah anak?

I. Menjaga referensi berupa informasi yang masuk ke otak anak-anak.

Kenapa referensi perlu dijaga? karena referensi menentukan pemikiran dan membentuk cara berpikir mereka. Pemikiran mempengaruhi keyakinan, kemudian menentukan tindakan dan habits kemudian membentuk kepribadian.

Gadget sekarang ini dapat menentukan referensi pada anak. Dampak gadget salah satunya adalah:

  • Gadget dapat menurunkan konsentrasi anak dalam menyerap informasi.
  • Adiksi pada gadget (game/pornografi) lebih berbahaya 4x lipat daripada adiksi pada khamr.
  • Di beberapa negara (Jepang dan Korea) adiksi pada gadget masuk kategori musibah sosial.

Maka solusinya adalah anak jangan dikasih gadget (milik sendiri) dan beri aturan penggunaaan gadget.

Konten pada gadget:

  1. Kisah penuh khayalan dibuat seolah-olah menjadi kenyataan.
  2. Membuat kita memiliki keinginan untuk sebra isntan.
  3. Konten akan masuk ke otak dengan mudah tanpa filter, maka perlu juga ada konten baik untuk ‘memerangi’ konten yang mengerikan.

Selain itu, dongeng/cerita yang mengajarkan moral yang keliru seperti kancil, jaka tarub, dll (si kancil anak nakal, suka mencuri ketimun. Ayo lekas dikurung, jangan diberi ampun. Jaka Tarub yang mengintip orang yang sedang mandi, malah bisa menikahi bidadari, dll.)

Lalu bagaimana solusinya? Anak perlu idola, maka arahkan anak untuk mengidolakan Rasulullah SAW dan para sahabat, supaya anak kita mengetahui bahwa Islam itu keren dan hebat. Caranya, yaitu dengan menceritakan kisah Rasulullah SAW dan para sahabat melalui Sirah Nabawiyah.

II. Menyeleksi tayangan TV

Ortu pasti tidak akan memberikan makanan yang basi, berulat dan busuk kepada anak-anak (yang efeknya mengenai masalah pencernaan), maka pastikan juga untuk memberikan makanan yang baik untuk pemikiran anak-anak.

Pendidikan itu mendidik karakter & karakter hanya bisa ditransfer oleh para alim/ulama, sesuai sabda Rasulullah SAW .

Dengan wafatnya ulama, berarti Allah telah mulai mengangkat ilmu dari manusia. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠﻪ ﻻ ﻳَﻘْﺒِﺾُ ﺍﻟﻌِﻠْﻢَ ﺍﻧْﺘِﺰَﺍﻋَﺎً ﻳَﻨْﺘَﺰِﻋُﻪُ ﻣﻦ ﺍﻟﻌِﺒﺎﺩِ ﻭﻟَﻜِﻦْ ﻳَﻘْﺒِﺾُ ﺍﻟﻌِﻠْﻢَ ﺑِﻘَﺒْﺾِ ﺍﻟﻌُﻠَﻤَﺎﺀِ ﺣﺘَّﻰ ﺇﺫﺍ ﻟَﻢْ ﻳُﺒْﻖِ ﻋَﺎﻟِﻢٌ ﺍﺗَّﺨَﺬَ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺭﺅﺳَﺎً ﺟُﻬَّﺎﻻً ، ﻓَﺴُﺌِﻠﻮﺍ ﻓَﺄَﻓْﺘَﻮْﺍ ﺑِﻐَﻴْﺮِ ﻋِﻠْﻢٍ ﻓَﻀَﻠُّﻮﺍ ﻭَﺃَﺿَﻠُّﻮﺍ

Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak menggangkat ilmu dengan sekali cabutan dari para hamba-Nya, akan tetapi Allah menanggkat ilmu dengan mewafatkan para ulama. Ketika tidak tersisa lagi seorang ulama pun, manusia merujuk kepada orang-orang bodoh. Mereka bertanya, maka mereka (orang-orang bodoh) itu berfatwa tanpa ilmu. mereka sesat dan menyesatkan.

Pendidikan bukan hanya transfer of knowledge, tapi juga transfer of character. Maka: carilah guru yang memiliki akhlak yang baik.

Mudah bagi ortu jika hanya menginginkan anak yang pintar, namun tujuan pendidikan bukan hanya menjadikan anak pintar, tetapi juga menjadikan anak memiliki adab sebelum menuntut ilmu.

Allah Ta’ala yang memberi hidayah, ulama yang mendidik karakter umat. Dahulu, orang-orang belajar dengan cara: mencari guru dan ortu concern pada : apakah gurunya berakhlak?

Kisah Imam Ahmad Ibn Hambal yang didatangi oleh murid-muridnya. Kebanyakan muridnya datang dan belajar untuk mempelajari adab beliau, bagaimana beliau menyelesaikan masalah, berbicara, dll (intinya memodel akhlak beliau).

Kisah Muhammad Al-Fatih, yang memiliki 2 orang guru dimana salah satu gurunya, Syeikh Ahmad Al-Qur’ani yang diberi wewenang oleh Ayah MUhammad Al Fatih untuk memukulnya jika tidak taat pada gurunya (tentu saja pukulan yang diberikan adalah pukulan yang sesuai syariat, bukan pelampiasan amarah/rasa frustasi kepada Muhammad Al Fatih). Dalam bimbingan kedua gurunya tersebut (satu lagi Syeikh Aaq Syamsudin), Muhammad Al-Fatih hafal Al-Qur’an dalam waktu 2 tahun. Maka kenalkanlah anak-anak kepada Asatidz dan ulama yang ikhlas dan Lillahita’ala.

Al-Qur’an adalah cara/media komunikasi, yang tujuab komunikasinya adalah mengubah.

Tidak ada satu hal pun, yang berasosiasi dengan Al-Qur’an yang tidak hebat. Dekatkan dan asosiasikan anak-anak dengan Al-Qur’an dengan cara memperhatikan Al-Qur’an sebagai cara/media komunikasi dengan Allah.

Tips bagi anak yang sudah baligh adalah sering-seringlah diajak ngobrol, kenapa?

Islam adalah agama yang mukjizatnya melalui telinga/pendengaran, berbeda dengan sebelumnya yang mukjizat para nabinya dapat dilihat secara visual oleh umatnya pada saat itu. Al-Qur’an adalah mukjizat yang diturunkan kepada umatnya melalui telinga/pendengaran (pada zaman Rasulullah SAW, Al-Qur’an diperdengarkan kepada para sahabat, sebelum kemudian dibubukan sehingga bisa dibaca seperti sekarang).

Firman Allah Ta’ala dalam surat Al-Mulk ayat 10.

وَقَالُوا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ أَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِي أَصْحَابِ السَّعِيرِ

Dan mereka berkata: “Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala”.

Empat tahapan mendidik anak:

Dalam surat Al-Jumuah ayat 2, Allah berfirman:

وَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ Terjemah Arti: Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.

  1. Bacakan kepada mereka ayat-ayat Allah. Hal ini untuk menunjukkan tanda-tanda kekuasaan Allah, memuji Allah, mengajarkan bahwa semua terjadi atas kehendak Allah dan bahwa Allah menjaga kita. Moment  utilization semua dikaitkan dengan Allah, tujuannya siap menjadi hamba dan menyembah Allah (Tauhid).
  2. Sucikan hati mereka. Saat sudah siap menjadi hamba dan menyembah (karena merasa lemah dibandingkan dengan kebesaran Allah), maka anak bisa mulai dilatih beribadah melalui teladan ortu, diajak ke masjid oleh ayahnya, diajak ke pengajian, dan mensucikan hati dengan menghilangkan sombong, hasad, riya, bakhil, ujub, dll.)
  3. Mengajarkan mereka kitab. Setelah melalui 2 tahap di atas, barulah diajarkan tentang halal dan haram, fiqh, dan syariat islam lainnya.
  4. dan hikmah. Hikmah merupakan karunia dari Allah Ta’ala. Salah satunya diberikan kepada Luqman. Hikmah artinya adalah sebuah syarat yang dimiliki oleh pemimpin, karena pemimpin mengerjakan hukum Allah. Hikmah sendiri adalah pemberian Allah, maka unntuk mendapatkannya kita harus mendekatkan diri kepada Allah dan meminta hikmah ; dimana hikmah ini berkaitan dengan syariat dan ketaatan kepada Allah.

Yang terakhir adalah bertawakallah kepada Allah, karena Allah-lah Yang Maha Menjaga anak-anak kita.

Materi diambil dari oleh-oleh teman bernama Eka Mardila dari kajian/ceramah Ustadz Felixsiau di Jakarta.

Tips Agar Anak Semangat Mengaji

F: Ma, kl F sudah halaman 34 boleh main hp y.
M: Mama mau tau dong Nak, mau lihat apa di hp?
F: mau lihat jenis lego … (mamanya ga hapal seri lego yg F bilang)
M: ok. 1x aja y nontonnya.
F: ok Ma.
Pulang dr ngaji…
F: yah ma, belum.naik k hal 34. Padahal mama tadi udah dengerin F kn lancar. Tapi kenapa Bunda Ari belum naikkin F ya Ma?
M: kenapa kira-kira ya Nak? Ada bagian yg tersendat ga tadi Nak?
F: perasaan F sih udah lancar seperti kalau ngaji sm mama.
M: jadi gimana Nak?
F: ga bs main hp ya Ma?
M: perjanjianny gimana Nak?
F: kalau naik hal 34 Ma.
M: udah naik belum Nak?
F: belum Ma
M: kita latihan lg y Nak d rumah.
F: iy deh ma.
Keesokan harinya ngaji lagi.
F: ma, alhamdulillah sudah naik hal 34.
M: alhamdulillah.
F: boleh main hp y Ma?
M: Boleh. 1x aja y.
F: ok ma.
Setiap ngaji alhamdulillah selalu brsemangat karena tempat ngajinya tempat brmain juga, teman-temannya seusia F jg. Ada tips bagus dr Mba Elfira alumni EP kl stp bagian yg betul di apresiasi, setiap yg salah didiamkan saja (nanti anak yg mengoreksi sendiri). Alhamdulillah jadinya lebih cepat ngajiny krn d rumah pakai yg disarankan spt yg Mba Elfira bilang. Mudah-mudahan bnyk ortu dan bunda-bunda guru tau mngenai seni-seni pengasuhan EP jd ortu ttp waras, anak bahagia.

Ini video ktk lomba hafalan Qur’an juz ke-30. Ada bagian menarik dr info bunda-bunda guru di lomba ini bahwa anak-anak saling menyemangati teman-temannya yang tiba-tiba mogok ga mau maju. Kenapa ga mau maju? Takut. Kenapa takut? Berani aja. Pas udah maju, teman-teman yg lagi ga maju, meneriakki semangat ayo…ayooo. fitrah anak-anak memang baik. Semoga fitrah baik yg Allah Ta’ala berikan bs dijaga oleh ortu.

Menetapkan Tujuan Bersama Anak

20181109_073243

Menetapkan Tujuan Bersama Anak

Kami sering merencanakan tujuan bareng, baik unt hal besar maupun hal2 kecil seperti gambar di foto, yaitu menetapkan tujuan minum lebih terukur. Dulu kuliah sy prnh hmpr dinyatakan dehidrasi dan trnyt kebawa sampai skr. Minum sy sedikit. Jd anak keikutan minum sedikit. Akhirnya kami menetapkan tujuan bareng soal jumlah air mineral yg diminum.

GROW (diambil dr training #transformingbehaviourskills bersama Mba Okina)
Goals (apa yg ingin dicapai): kami ingin mencapai agar F minum 3 L per hari& sy n suami 8 L/hr.

Reality (gmn kondisi saat ini): kami kurang minum bahkan 2 L/hr engga.

Options (apa langkah2nya): kami akan ukur jumlah yg kami minum per harinya.

Will (apa yg akan dilakukan dg segera): mencoret2 botol 1 L & mengukur jumlah air yg diminum tiap jam.

Bagaimana agar tujuan tetap Hidup?
1. Menyusun improvement steps
2 Mengevaluasi setiap langkah yg dilakukan.

Alhamdulillah berhasil dan masih konsisten.

Menghilangkan Phobia Pada Anak

Assalamu’alaykum…

Anak sy yg laki-laki takut dengan capung dan kenteret (sebenarnya sy yg membuat dia takut adalah karena sy takut). Sy pikir, anak sy laki-laki, harusnya sy tidak menunjukkan ketakutan sy terhadap serangga. Hal pertama yg sy lakukan adalah mengobati diri sy terlebih dahulu. Sy yakinkan diri sy kl serangga itu asal tidak berada di dekatnya, maka dia tidak mengganggu. Kalaupun ada di dekat sy, sy tinggal kibas saja. Ternyata sugesti diri seperti yg sy terapkan pada diri sy tidak bisa saya terapkan kepada anak sy. Akhirnya sy memakai cara lain.

Sy pernah mengikuti training Transformation Behaviour Skills oleh Mba Okina Fitriani pada tanggal 7-9 September 2018. Kebetulan dalam training tersebut, ada salah satu peserta (Mba Rani) yang ingin dihilangkan rasa takut (phobia) terhadap kucing. Melihat gambar kucing pun dia takut.  Mba Okina menginstruksikan untuk mengingat kejadian menyenangkan sebelum kejadian dan sesudah kejadian. Lalu, Mba Okina memberikan gambar kucing pd peserta tersebut, lalu gambarnya diinstruksikan untuk dikecilkan sekecil lingkaran tangannya. Kemudian, Mba Okina mengarahkan untuk mengingat kejadian sebelum sampai sesudah kejadian sembari diputarkan lagu. Lalu mata Mba Rani diinstruksikan untuk melihat gambar kucing yg sudah sekecil lingkaran tangan Mba Okina, lalu peserta tersebut diinstruksikan untuk mengkedap-kedip mata sampai gambar tersebut pudar dan hilang. Setelah selesai, Mba Rani diminta untuk melihat kembali gambar kucing, dan dicium gambarnya. Lalu Mba Rani sudah tidak takut lagi. Hal itu bukan hipnosis ya, tp sugesti diri yg sangat besar untuk berubah menjadi lebih baik.

Sebelumnya sy sudah pernah melatih trauma healing untuk anak sy pada saat kejadian gempa (baca: https://wordpress.com/post/ladytulipe.wordpress.com/3128) Sekarang sy latih anak sy untuk tidak takut serangga. Caranya adalah:

1. Sy ambil gambar capung, karena capung yg paling sering muncul di rumah dan tidak berbahaya.

2. Sy instruksikan anak sy untuk mengecilkan gambar capung tersebut tersebut sampai sebesar lingkaran kecil tangan sy. Lalu sy instruksikan untuk mengkedap-kedip matanya hingga gambarnya buram.

3. Setelah itu sy lihatkan capung ke anak sy dan dia sekarang semakin percaya diri dengan gambar capung.

4. Sy contohkan bagaiman memegang capung. Lalu sy persuasi anak sy, (sebenarnya yg dia takutkan adalah geli-nya memegang serangga). Maka sy instruksikan unt memegang sayapnya…dan sy ajak anak untuk memegang capung daaannn taraaam dia berhasil memegang capung.

Berikut adalah foto keberaniannya memegang kenteret. Krn memgang capung ga sempat difoto.

20181023_160333

Wassalamu’alaykum.

Fitrah Iman

IMG_20181019_055710_225

Fitrah Iman

Kebetulan jadwal tahsin sy dirubah dr sore ke siang. Dan qadarullah anak sy sakit hr rabu (ga masuk sekolah krn muntah2, namun dia ga mau tidur, maunya ikut sy tahsin ke rumah guru sy. Unt tahsin sy sgt usahakan sy tdk izin kelas krn sy rindu suasana dg guru dan teman2 sy disini. Walau cuma 4 org tp in syaa Allah banyak kebaikan dan motivasi d kls ini. Spt d kls #enlighteningparenting dan #tranformingbehaviourskills). Di tmp tahsin, dia mendengar sambil bermain lego dan sesekali minta izin ke guru sy untuk melihat-lihat rumahnya ke dalam. Setelah pulang, anak sy bilang. Ma, masuk surga itu ga gampang ya Ma. Td F dengar Mama ngaji 1 ayat saja berkali-kali diulang-ulang, haduh capek deh. Kl F shalat dhuha, kn kl 12 rakaat dibangun rumah sm Allah di surga, 12 rakaat ga gampang loh Ma. Br 2 rakaat, F udah mau main. (Senyum bareng)

Masuk surga memang ga mudah Nak, tp kita sudah dikasih petunjuk sm Allah lewat Al-Qur’an. Itu knp Mama jg bljr Al-Qur’an. Bljr ngaji Mama harus beda dong Nak dg bljr ngaji F, krn umur Mama lebih tua artinya Mama jg hrs lebih, bertambah belajarnya. F msh inget ga yg Mama prnh bil kita hrs Taat, Syukur, Bermanfaat, Meningkat? Meningkat, termasuk menambah ilmu itu Nak. Krn unt beriman kpd Allah perlu ilmu, unt masuk surga perlu ilmu. Ilmu kita hrs meningkat agar tidak lepas hubungan kita dg Allah.
F mau kan trs menjaga hub dg Allah? Iya mau ma, spy Allah sll lindungin F. Alhamdulillah, pelan2 kita belajar trs, kita jaga trs hubungan kita dg Allah. In syaa Allah jalan k surga mnjadi lebih mudah Nak. Iya Ma, bismillah.

Sorenya anak sy ada jadwal ngaji. Kami minta dia istirahat dl, dia ga mau. Maunya ngaji. Dan dia berikan solusi ke kami. Gini aja Yah, Ma…nnt F mnt izin ke Bunda dan teman2 spy F dpt urutan pertama ngajinya jd bs pulang cepat. Baik Nak. Tp Mama jg izin ke Bunda y Ma spy F dpt urutan pertama. Ok.
Sy dan ayahnya jemput lbh awal, namun dia ga mau pulang dl meskipun sudah selesai krn belum berdoa, doa penutup majlis ktny. (Kami tertawa bareng. Antara mau berdoa dg main. Semoga Allah Ta’ala menjaga fitrah iman di hatinya).