Aktivitas Sensorial Montessori

Tulisan ini saya buat untuk Tugas Akhir kuliah Montessori bab Aktivitas Sensorial di Sunshine Teacher’s Training. Saya mendapatkan nilai 88 dari nilai maksimal tugas akhir , yaitu 90. Berikut tulisan saya mengenai Aktivitas Sensorial Montessori.

Aktivitas Sensorial Montessori

  1. Pengantar

Proses belajar saya dan anak saya yang pertama dan kedua dimulai sejak mereka lahir. Saya percaya bahwa seorang anak yang baru lahir mulai belajar dari lingkungan sekitarnya melalui indranya. Begitu mereka lahir, secara alami mereka mulai mengamati. Hal ini bisa dilihat dari kemampuan bayi saya mengisap air susu, ketertarikan pada suara tertentu, misalnya suara kedua orangtuanya ketika mengajaknya bicara, suara mainannnya, dan suara lainnya. Atau contoh lain, misalnya ketertarikan bayi saya dengan warna tertentu, seperti merah, hitam dan putih yang digabungkan, dan warna lainnya. Contoh-contoh tersebut di atas merupakan contoh bayi mulai belajar melalui indranya. Banyak buku yang membahas hal ini, salah satunya adalah buku Enlightening Parenting. Di dalam buku ini dijelaskan bahwa tahap perkembangan anak di usia 0-2 tahun adalah tahap sensori. Di tahap sensori ini, anak memahami sesuatu dengan indra, anak tidak mengenal rasa takut kecuali insting pertahanan hidup, misalnya nangis saat lapar. Aktivitas sensorial adalah salah satu cara anak untuk mendapatkan pengetahuan tentang lingkungannya melalui indra. Setiap anak membutuhkan pendidikan yang membutuhkan kecintaan seumur hidup untuk belajar. Saya harus memperkenalkan kepada anak-anak saya teknik atau metode belajar yang menyenangkan dan bermanfaat agar anak-anak saya cinta belajar seumur hidupnya. Pengembangan sensori adalah salah satu cara yang akan membantu mereka membangun keterampilan yang mereka perlukan. Inilah alasan mengapa saya mengambil judul mengenai aktivitas sensorial.

“Anak-anak mulai mengalami pengalaman sensorial saat lahir. Ketika anak-anak tumbuh, mereka mengeksplorasi dan belajar dengan berinteraksi dengan lingkungan mereka melalui indra mereka.” (Maria Montessori)

2. Isi

Sensori berasal dari kata sense, yang berarti indra. “Anak adalah penjelajah sensorial” (Maria Montessori). Pembelajaran sensori adalah pembelajaran yang merangsang panca indra anak, yaitu rasa, sentuhan, penciuman, penglihatan, dan pendengaran. Melalui indra, anak belajar tentang lingkungan. Dengan menggunakan indra, anak-anak belajar untuk menjelajahi dan memahami lingkungan sekitar mereka dan dunia. Ini termasuk kegiatan yang membantu mereka mempelajari objek benda, warna benda, tekstur benda, situasi, angka, bahasa, dan hal lainnya. Pengalaman sensorial dimulai dari sejak lahir. Tujuan utama dari aktivitas sensori adalah membantu anak-anak memilih berbagai macam kesan yang mereka peroleh dari setiap indranya. Aktivitas sensori mampu mengembangkan indra anak karena anak dihadapkan pada tantangan yang meningkat dari sederhana ke hal yang kompleks atau rumit. Aktivitas sensori juga mampu menata persepsi indra anak, yaitu diawali dengan mengenalkan kualitas suatu persepsi, kemudian dilanjutkan dengan menunjukkan rentang perbedaan dalam satu kualitas tersebut sehingga akhirnya menemukan pola teratur. Aktivitas sensori juga dapat memperluas persepsi anak terhadap lingkungan dengan membangunkan pengalaman sensori yang belum pernah dilakukan. Aktivitas sensori juga mampu mengasah persepsi indra, yaitu dengan membiarkan anak untuk merasakan pengalaman dan konsentrasi pada satu kualitas tertentu secara terpisah dan jelas. Dari tersebut maka dapat dikatakan bahwa aktivitas sensori mampu membantu anak  mengembangkan, menata, memperluas, dan mengasah persepsi indra. Saya dapat memberikan contoh mengenai empat pola di atas. Pada aktivitas sensorial pink tower, anak saya dari umur 1,5 tahun senang memegang komponen pink tower. Dia merasakan kesepuluh bentuk yang sama namun dengan ukuran yang berbeda. Pada material tersebut (pink tower), anak saya awalnya tertarik dengan warnanya. Indra penglihatannya tertarik dengan warna pink. Setelah tertarik, anak saya memegang material tersebut. Awalnya anak saya tertarik dengan bagian pink tower yang kecil. Hal ini disebabkan karena sesuai dengan ukuran tangannya. Memegang dengan tangan, merasakan bentuk material dari genggaman tangan merupakan bagian dari aktivitas sensorial. Stereognostiknya bekerja. Setelah memegang, lalu material dimasukkan ke mulut. Pada bagian ini tentunya di bawah pengawasan. Namun, kejadian ini dapat saya katakana bahwa indra pengecapnya pun “penasaran”. Dari rasa “penasaran” inilah yang membuat indra pengecapnya bekerja. Lalu, di umur dua tahun, anak saya mulai menyusun pink tower secara vertikal meskipun belum bisa beraturan dan diumur 2,5 tahun bisa menyusun material ini secara vertikal dengan benar. Lalu anak saya yang pertama, di umur empat tahun dapat menyusun pink tower dengan berbagai macam pola sederhana. Umur lima sampai enam tahun mulai dapat menyusun pola pink tower dengan pola yang lebih kompleks bahkan dengan mata tertutup.

Salah Satu Pola Pink Tower

Hal lainnya juga anak saya mampu menggabungkan dua macam material aktivitas sensorial menjadi suatu pola yang dapat dipelajari, seperti menggabungkan material pink tower dengan brown stairs.

Kombinasi Pink Tower dengan Brown Stairs

Hal ini dapat dikatakan aktivitas sensorial juga melatih kemampuan logika dan kognitifnya. Aktivitas-aktivitas anak-anak saya ini menggambarkan bahwa aktivitas sensorial melatih mengembangkan (mulai dari melihat, memegang hingga menyusun), menata (memegang sehingga bisa merasakan yang paling kecil ke yang paling besar sehingga tercipta pola tatanan dari indra yang bekerja), memperluas (kemampuan menggabungkan pink tower dengan brown stairs), sehingga terciptalah kemampuan yang dapat mengasah persepsi indranya. Dari mampu hal-hal yang sederhana hingga kompleks/rumit seperti penyusunan pola rumit pink tower dapat dikatakan bahwa anak sudah tercipta kemampuan dalam mengasah indranya.

“Anak yang telah bekerja dengan alat sensorik memperoleh keterampilan yang lebih besar dalam penggunaan tangannya, serta mencapai tingkat perspektif yang lebih tinggi terhadap rangsangan dunia luar. Sejauh ini anak mampu menghargai perbedaan.” (Maria Montessori)

Bahan yang digunakan dalam aktivitas sensorial didisain khusus agar menarik untuk anak. Hal ini dapat dikatakan bahwa bahan sensorial telah disesuaikan dengan sifat alami anak, bukan sifatnya berteknologi, yaitu:

  1. Dibuat dari bahan-bahan yang disukai anak, misalnya kayu, biji-bijian, batu, dan lain-lain.
  2. Dibuat dengan proposi dimensi yang menarik serta didisain pas untuk ukuran tangan anak.
  3. Dibuat dengan jelas, lapisan warna alami, dan bentuk yang mendasar.

Setiap material untuk aktivitas sensorial terdiri dari satu perangkat objek yang akan menghasilkan satu kualitas tunggal. Berikut adalah tiga contoh material mengenai satu kualitas tunggal ini, misalnya aktivitas yang berkaitan dengan indra penglihatan.

Pink Tower

Material ini terdiri dari sepuluh kubus dari kayu dan berwarna merah jambu dalam ukuran beragam, yaitu 1 cm3 – 10 cm3 dengan rentang yang setara pada seluruh dimensi, yaitu 1 cm. Pink tower mempunyai fungsi membantu anak mengembangkan konsep perbedaan visual tiga dimensi, mengembangkan koordinasi otot halus dan gerakan, menyiapkan anak untuk belajar matematika dengan melatih kemampuan untuk membandingkan dan menyususn secara berseri dan berurutan, secara tidak langsung menyiapkan anak untuk menghadapi materi geometris, serta mengajarkan perbendaharaan matematika dasar.

Brown Stairs

Material ini berupa sepuluh prisma segiempat dari kayu dan berwarna coklat. Semua prisma memiliki Panjang yang sama, yaitu 20 cm, namun dengan ketebalan yang beragam, yaitu dari 10 cm x 10 cm sampai 1 cm x 1 cm pada setiap ujungnya, dengan rentang ketebalan yang setara. Brown stairs mempunyai fungsi membantu anak mengembangkan konsep perbedaan visual dua dimensi, meningkatkan koordinasi gerakan dan control motorik halus, menyiapkan anak untuk belajar matematika dengan melatih kemampuan untuk membandingkan dan menyusun secara berseri dan berurutan, mengajarkan perbendaharaan matematika dasar, dan secara tidak langsung menyiapkan anak menghadapi materi geometris melalui observasi pada ukuran sudut, sisi, dan volume prisma, serta secara tidak langsung menyiapkan anak menghadapi konsep angka, yaitu melalui peragaan perbedaan tinggi dan lebar di antara sepuluh prisma yang ketebalannya berbeda-beda.

Knobbed cylinders

Material ini terdiri dari empat blok dari kayu dengan sepuluh rongga silinder.

  1. Blok 1 terdiri dari 10 silinder dengan tinggi dan diameter yang berbeda dari panjang dan lebar ke pendek dan sempit.
  2. Blok 2 terdiri dari 10 silinder dengan tinggi dan diameter yang berbeda dari Panjang dan sempit ke pendek dan lebar.
  3. Blok 3 yang terdiri dari 10 silinder denngan diameter yang berbeda.
  4. Blok 4 yang terdiri dari 10 silinder dengan tinggi yang berbeda.

Adapun fungsi knobbed cylinders adalah membantu anak mengembangkan konsep perbedaan ukuran secara visual dan dimensi, meningkatkan koordinasi gerakan dan kontrol motorik halus anak, meningkatkan dasar matematika anak dengan mengamati perbedaan umum antarbalok silinder, menyiapkan anak menghadapi aktivitas menulis, yaitu dengan memegang balok silinder pada tungkainya, serta meningkatkan kemampuan dalam menyusun secara  berseri.

Pengalaman terhadap satu kualitas spesifik ini timbul karena setiap objek dalam satu perangkat memiliki ciri-ciri yang serupa. Jika kualitas ini dapat diukur, objek akan dibuat beragam secara umum, sehingga dapat terlihat adanya perbedaan tingkatan pada objek yang telah dirangkai. Sekurang-kurangnya satu aktivitas sensorial yang disediakan untuk setiap kualitas yang dapat dipersepsi oleh kemampuan indra manusia, yaitu indra penglihatan/visual (seperti persepsi terhadap ukuran, bentuk, komposisi, pola, dan warna), indra pendengaran/auditori (seperti persepsi terhadap nyaringnya suara, nada), indra penciuman (persepsi terhadap bau), indra sentuhan/taktil (seperti persepsi terhadap tekstur), indra barik (persepsi terhadap berat), indra termal (persepsi terhadap suhu), indra pengecapan (persepsi terhadap rasa), indra stereognosis (persepsi melalui taktil, otot, dan gerakan).

Dalam mempresentasikan aktivitas sensorial, directress mempresentasikan melalui langkah-langkah dengan prinsip Pelajaran Tiga Periode.

Periode 1 – Penamaan

Periode pertama diawali dengan mengidentifikasi suatu kualitas tertentu dan memberikan pengertian dengan mengenalkannya. Pada periode ini directress harus mengisolasi objek. Kalimat yang bisa diucapkan pada periode ini adalah, “Ini adalah sepeda. Dapatkah kamu mengatakan sepeda?” Directress mendorong anak untuk mengucapkan kata sepeda. Lalu, directress mengambil objek lain misalnya mobil (mainan sepeda tidak terlihat) dan berkata “Ini adalah mobil. Dapatkah kamu mengatakan mobil?” Directress mendorong anak untuk mengucakan kata mobil.

Periode 2 – Asosiasi/Pengakuan

Pada periode ini kedua mainan sepeda mobil ditempatkan di depan anak dan directress bertanya “Dapatkah kamu menunjukkan mobil?” Setelah anak menunjukkan mobil, directress kembali bertanya, “Dapatkah kamu menunjukkan sepeda”? Dia mengulangi kegiatan ini paling tidak empat kali. Directress harus meminta kepada anak untuk menunjuk ke objek yang diperkenalkan terakhir pada periode pertama, pertama di periode kedua. Setiap kali anak menunjukkan objek, directress harus mendorong anak utnuk menyebut objek.

Periode 3 – Pengingat

Directress meminta anak untuk menyebut nama objek yang ada di depannya, menaruh objek satu per satu dan bertanya, “Apa ini?” Directress harus memita anak untuk menyebutkan onjek yang dikenalkan terakhir di periode kedua, dan pertama di periode ketiga.

Otak bayi yang baru lahir memiliki seratus miliar neuron. Ketika neuron ini tumbuh, sinapsis atau koneksi antar sel otak meningkat. Namun, sinapsis juga dapat berkurang karena otak menghilangkan tautan yang jarang atau tidak pernah digunakan. Pembelajaran sensorik membangun koneksi saraf di jalur otak dengan mempromosikan kegiatan yang merangsang indera mereka. Hal ini akan meningkatkan kemampuan anak untuk menyelesaikan tugas yang lebih rumit ke depannya. Beberapa manfaat dari aktivitas sensorial adalah:

  • Meningkatkan daya ingat. Aktivitas sensorial dapat meningkatkan kemampuan anak untuk mempertahankan pelajaran dengan belajar dari pengalaman. Memori motoric anak akan ditingkatkan dengan latihan.
  • Membangun pemikiran kritis dan pemecahan masalah. Aktivitas sensorial mengenalkan anak pada berbagai aktivitas menyenangkan yang akan membuat anak bertanya-tanya. Kegiatan ini dirancang untuk membangkitkan kemampuan pemecahan masalah mereka.
  • Menenangkan anak. Aktivitas sensorial adalah cara menyenangkan yang membantu mengendalikan kegelisahan anak dengan meringankan ketidaknyamanan mereka karena aktivitas ini mengenalkan mereka pada pembelajaran baru tanpa terlalu merangsang mereka.
  • Memperkuat perkembangan anak-anak. Aktivitas sensorial memaparkan anak berulang kali pada aktivitas dan pengalaman yang meperkuat perkembangan otak anak.
  • Mendukung keterampilan sosial. Aktivitas sensorial memungkinkan anak menikmati kerjasama dengan oranglain dan membangun interaksi sosial yang kuat. Hal ini memberi mereka rasa memiliki, mengembangkan empati, dan melengkapi anak dengan keterampilan komunikasi yang lebih baik. Interaksi verbal dan non-verbal mereka akan memberi anak fondasi yang sangat baik untuk menjadi orang yang lebih baik seiring bertambahnya usia.

Di era digital ini, semakin banyak anak yang terpapar pada gadget yang tidak memiliki penggunaan esensial dari semua indera. Tanggung jawab pendidik (khususnya orangtua) untuk bertindak memberi mereka fondasi yang kuat. Sangat penting untuk menanamkan keterlibatan fisik dan mental dalam Pendidikan anak. Aktivitas sensorial adalah jenis aktivitas yang akan disukai anak-anak dan sangat bermanfaat bagi anak.

Anda tidak ada, Anda tidak bisa berharap untuk tumbuh. Itu adalah langkah luar biasa yang dilakukan anak, langkah yang berubah dari tidak ada menjadi sesuatu.” (Maria Montessori).

3. Kesimpulan

Semakin cepat pendidik belajar aktivitas sensorial montessori, semakin baik anak-anak akan memetik manfaatnya. Saya sudah merasakan sendiri manfaat dari aktivitas sensorial ini. Anak saya percaya diri, nyaman dengan aktivitasnya, dapat bekerjasama serta dapat memecahkan masalahnya sendiri apabila dihadapkan pada suatu challenge/masalah.

4. Daftar Pustaka

Slide bahan kuliah https://online.sunshineteacherstraining.com

Fitriani, Okina. 2017. Enlightening Parenting. Jakarta: Serambi Ilmu Semesta.

Gettman, David. 2016. Metode Pengajaran Montessori Tingkat Dasar. Aktivitas Belajar untuk Anak Balita. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Advertisement

Membuka dan Menutup Alas Kerja

Assalamu’alaykum,

Kalau teman-teman pernah liat sekolah montessori atau memang praktisi montessori di rumah, teman-teman pasti tidak asing lagi mendengar alas kerja. Alas kerja montessori bisa berupa kain, tikar, nampan dan hal lain yang bisa dipakai sebagai alas. Tujuan dari alas kerja adalah untuk mendefinisikan ruang kerja siswa dan untuk memperkuat prinsip Montessori tentang “kebebasan dalam batasan”. Ada unsur penghormatan dengan memiliki ruang kerja yang didefinisikan dan itu adalah sesuatu yang siswa sangat serius perhatikan. Para siswa prasekolah Montessori diperlihatkan cara berjalan di sekitar tikar, bagaimana menempatkan pekerjaan mereka di atas tikar dan bagaimana saling menghormati ruang kerja pribadi satu sama lain. Mereka juga belajar bahwa tidak pernah boleh mengganggu pekerjaan teman sekelas atau bergabung dengan pekerjaan teman sekelas kecuali izin diberikan oleh siswa itu.

Alas kerja harus mudah di akses. Alas kerja plastik digunakan untuk kegiatan yang menggunakan air. Alas kerja yang tidak menggunakan air bisa dipakai dari bahan apa saja. Berikut adalah ground rules Menggunakan Alas Kerja:

Alat: alas kerja

Tujuan: tujuan langsung adalah mengajarkan kepada anak cara membuka dan menutup alas kerja. Tujuan tidak langsung adalah meningkatkan koordinasi mata dan tangan, perhatian terhadap lingkungan, dan persiapan untuk belajar menulis.

Kontrol kesalahan: melihat dan merasakan bahwa tepi yang digulung tidak seimbang, lipatan alas kerja yang digulung longgar, alas kerja tidak tergulung dengan rapih.

Usia: 2,5 tahun ke atas

Presentasi:

  1. Directress mengajak anak-anak untuk duduk membentuk lingkaran, lalu menjelaskan dan menunjukkan bagaimana cara membuka dan menutup alas kerja.
  2. Directress menunjukkan cara membawa alas kerja: alas kerja dibawa sejajar dan dekat dengan tubuh. Kemudian duduj dengan kaki disilangkan atau berlutut, buka gulungan alas kerja dengan jari tangan kanan secara perlahan.
  3. Untuk menggulung, gunakan jari-jari tangan kanan untuk membuat lipatan sekitar 2 inci, posisi jari tangan kanan di tengah lipatan, kemudian gunakan tangan kiri untuk menggulung seluruh sisi karpet, lalu jari-jari tangan kiri menekan tengah lipatan, gunakan jari tangan kanan untuk memastikan alas telah terlipat dengan rapih.
  4. Ulangi gerakan tersebut sampai seluruh karpet tergulung, setelah selesai tepuk kedua ujung untuk memastikan karpet telah tergulung.
  5. Bawa karpet dengan kedua tangan dan menaruhnya kembali ke dalam keranjang.
  6. Directress mengajak anak untuk mencoba

Berikut adalah video saya dengan anak saya yang berumur 2 tahun dan 6 tahun dalam Membuka dan Menutup alas kerja.

Cara Membuka dan Menutup Alas Kerja
Membuka dan Menutup Alas Kerja

Cara Berjalan Di Dalam Kelas

Cara Berjalan Di Atas Garis -Montessori

Assalamu’alaykum,

Video di atas adalah video saya dan anak-anak saya sedang melakukan aktivitas Cara berjalan Di Atas Garis. Cara Berjalan Di Atas Garis termasuk aktivitas belajar di kurikulum Montessori Exercise of Life Skills atau yang dikenal dengan Practical Life Skills. Berikut ketentuannya:

Alat: tidak diperlukan

Tujuan: tujuan langsung adalah mengajarkan kepada anak cara berjalan di dalam ruang kelas. Tujuan tidak langsung adalah mengembangkan kontrol diri anak, koordinasi tubub, mengajarkan sikap tenang dan keteraturan.

Kontrol kesalahan: arahan directress

Usia: mulai dari 2 tahun

Presentasi:

  • Directress mengajak anak-anak untuk belajar tentang cara berjalan di dalam kelas
  • Directress menjelaskan pentingnya berjalan pelan, tenang, dan teratur sehingga tidak mengganggu teman yang lain di kelas.
  • Directress juga menjelaskan bahwa di dalam kelas tidak dibolehkan berlari.
  • Directress berjalan di dalam ruangan dari sudut yang satu ke sudut ruangan yang lain. dengan sikap tubuh yang baik dan gerakan yang anggun.
  • Directress mengajak anak untuk mencoba.

Variasi:

  1. Berjalan mengelilingi karpet
  2. Mengatakan ‘permisi’ ketika lewat didepan orang lain.

Sekian tulisan dari saya, semoga bermanfaat. Wassalamu’alaykum.

EPL (Exercise of Practical Life)

Assalamu’alaykum,

Saya sedang ambil kuliah lagi, tapi kali ini saya ambil jurusan Montessori. Tujuan saya ambil kuliah ini, karena saya dari tahun 2013 (semenjak anak pertama saya lahir), senang dengan ilmu ini dan saya praktekkan ke anak peryama saya. Ternyata hasilnya luar biasa banget. Anak peryama saya senang banget berkegiatan montessori, saya dan anak pertama saya jadi suka berkegiatan di rumah, dan yang paling penting anak saya tidak begitu senang dengan hp. Sampai sekarang umurnya 6 tahun, anak saya lebih senang berkegiatan di kehidupan nyata. Kurikulum Montessori ala-ala saya yang saya rasakan telah memberikan dampak positif untuk saya dan anak saya, suami saya juga senang ikut berkegiatan meski jarang karena kesibukannya bekerja, maka saya memutuskan untuk ikut kuliahnya agar tau lebih dalam lagi tentang Montessori.

Setelah saya mengambil kuliah Montessori, ternyata langkah-langkah dalam Montessori itu harus sistematis untuk mendapatkan hasil yang optimal. Yang saya praktekkan pada anak pertama saya tidak sistematis, karena keterbatasan informasi/ilmu dan keterbatasan alat. Untuk anak saya yang kedua, saya usahakan agar sistematis, mengikuti kurikulum kuliah saya saja.

Saya ceritakan dulu ya mengenai gambaran umum Montessori. Montessori diambil dari nama penemunya, yaitu Dr. Maria Montessori. Beliau adalah salah satu pendidik yang menekankan perlunya pendidikan awal. Metode Montessori dikembangkan pada awak 1900-an secara ilmiah untuk mempelajari sifat sejati anak. Dia mengamati bahwa anak-anak memiliki kemauan untuk belajar dengan memberikan mereka kesempatan untuk terlibat dalam kegiatan terarah dengan bimbingan orang dewasa yang terlatih. Di kelas Montessori, anak-anak diizinkan untuk belajar dengan kecepatan mereka sendiri, sesuai dengan kapasitas mereka sendiri, anak-anak menunjukkan kualitas mereka seperti spontan diri, disiplin, cinta ketertiban, dan kegiatan intelektual. Lingkungan inu memungkinkan anak-anak bertanggung jawab atas pendidikan mereka sendiri, memberi mereka kesempatan untuk menjadi manusia yang mandiri.

Ide dasar dalam pendekatan pendidikan Montessori adalah semua anak telah memiliki potensi alami. Kalau di agama islam kita kenal dengan fitrah. Dr. Montessori mengatakan bahwa tujuan dari pendidikan dini harus menumbuhkan keinginan alami anak-anak untuk belajar. Tujuan ini dicapau dengan memungkinkan setiap anak untuk mengalami kegembiraan belajar daripada dipaksa.

Salah satu bidang kegiatan yang dikembangkan Dr. Montessori adalah kegiatan keterampilan hidup praktis (EPL). Melalui latihan EPL ini, memungkinkan anak percaya diri dan kompeten dalam kegiatan sehari-hari, kegiatan dirancang sehingga memungkinkan anak mendapatkan pengalaman kehidupan nyata. Anak puas dengan alat yang sesuai dengan mereka.

Benda-benda yang digunakan untuk kegiatan keterampilan kehidupan praktis tidak memiliki tujuan ilmiah. Objek yang digunakan sesuai dengan kehidupan anak sehari-haru, tetapi dibuat sesuai ukuran anak. Maria Montessori -Discovery of the child

Kegiatan ini dipilih secara pribadi oleh anak. Terlepas dari tujuan langsung dari kegiatab sehari-hari, tujuan tidak langsungnya adalah:

  1. Untuk menyempurnakan keterampilan motorik halus anak
  2. Mendorong kemandirian anak
  3. Mengembangkan konsentrasi untuk membangun siklus kegiatan dan keteraturan.

Kegiatan EPL ini menanamkan dalam diri anak-anak perawatan untuk diri mereka sendiri, orang lain, dan lingkungan. Latihan-latihan ini adalah fondasi dimana mampu melakukan pekerjaan.

Anak bekerja untuk menikmati proses, orang dewasa untuk mencapai hasil akhir”. Dr. Maria Montessori

Montessori Practical Life Exercise dipandang sebagai landasan Metode Montessori. Latihan ini memberikan kesempatan bagi anak-anak untuk melakukan pekerjaan yang memiliki tujuan dan membantu mereka dalam perkembangan, baik fisik, kognitif, sosial, dan emosional. EPL dirancang untuk mengajarkan anak-anak keterampilan hidup.

Prinsip Alat Montessori Practical Life

  1. Masing-masing alat harus memiliki tujuan yang pasti dan bermakna bagi anak.
  2. Kesulitan atau kesalahan yang akan ditemui dan dipahami anak, harus terisolasi dalam satu material tersebut. Contoh: aktivitas menyendok hanyalah untuk keterampilan menyendok, bukan untuk mempelajari warna.
  3. Material berkembang dari sederhana ke kompleks dalam hal desain dan penggunaan.
  4. Alat-alat tersebut dirancang untuk mempersiapkan anak secara tidak langsung untuk pembelajaran yang berikutnya.
  5. Material dimulai sebagai penyajian yang konkret secara bertahap bergerak menuju representasi yang lebih abstrak.
  6. Material montessori didisain untuk mengedukasi diri sendiri dan kontrol kesalahan terletak pada material yang bersangkutan, bukan dari koreksi guru. Kontrol kesalahan memandu anak dalam menggunakan material dan mengizinkannya untuk mengenali kesalahan yang telah ia buat.

Selain hal di atas, berikut hal lain yang harus dipertimbangkan ketika mempersiapkan alat:

  1. Alat disimpan bersama-sama dalam keranjang kecil/pada sebuah nampan. Alat tersebut harus dikelompokkan dan disimpan bersama-sama sesuai dengan tingkat perkembangannya dan anak harus mengambil dan menaruh kembali ke tempat asalnya.
  2. Alat mudah dijangkau anak.
  3. Harus mempunyai ukuran, berat yang tepat, bersih, dan utuh.
  4. Harus menyajikan banyak kualitas yang berbeda seperti berat, tekstur, warna, bentuk, ukuran, dan sebagainya.
  5. Harus identuk dengan perkecualian dari kualitas yang dimiliki masing-masing. Harus menarik warna, kecerahan, dan proporsi.
  6. Harus terbatas dalam kuantitas.
  7. Selalu tersedia untuk anak pada saat ia ingin menggunakan karena merupakan sarana baginya untuk menjadi ternormalisasi.

Empat Kategori Kegiatab Keterampilan Hidup (EPL):

Perawatan Lingkungan: latihan utama dalam perawatan lingkungan adalah menuang, memindahkan, membersihkan, dan mengelap. Menuang adalah kegiatan yang unun di sekolah Montessori. Anak-anak akan belajar untuk menuang biji-bijian dari satu teko ke teko yang lain dan kemudia ke yang lebih kompleks seperti latihan menuang dari satu teko ke dua gelas atau lebih. Latihan sederhana ini secara tidak langsung mempersiapkan anak untuk konsep-konsep matematika seperti volume dan kapasitas.

Perkembangan Keterampilan Motorik: latihan seperti membuka dan menutup botol, kotak, gembok, memotong dengan gunting, mur dan baut, dll dirancang untuk membantu anak memperbaiki keterampilan motorik halus, koordinasi mata dan tangan.

Perawatan diri: perawatan diri meliputi legiatan yang berkaitan dengan kebersihan pribadi seperti mencuci dan mengeringkan tangan, menyikat gigi, menyisir rambut, membersihkan dan memotong kuku, mengelap hidung, berpakaian dan membuka baju. Fokus utama dalam latihan ini adalah untuk menumbuhkan kemandirian.

Tata Krama dan Sopan Santun: Maria montessori menganggap kegiatan tata krama dan sopan santun ini sebagai latihan paling penting dalam kegiatan EPL. Anak-anak harus diajarkan bagaimana cara menyapa, berjabat tangan, meminta sesuatu mengatakan toling, meminta maaf dan memaafkan diri sendiri.

Sekarang kita akan melihat latihan-latihan EPL ini. Di tulisan selanjutnya adalah kegiatan-kegiatan EPL saya bersama anak saya yang berumur 6 tahun dan 2 tahun.

Terima kasih sudah membaca, wassalamu’alaykum.

Sedih Kecewa Lelah

Yang sedih/kecewa/lelah tentu bukan kamu aja. Semua manusia pernah sedih, lelah, dan kecewa. Kalau kamu lagi sedih, lelah atau kecewa:

  1. Kamu ga sendiri. Langsung doa dan curhat sama Allah saja karena Allah temenin kamu ketika kamu panggil nama-Nya. (QS. Al Baqarah: 186)
  2. Selalu ada jalan keluar dari masalahmu. Dari gelap je terang karena Allah yang mengeluarkanmu dari kegelapan menuju cahaya. (QS. Al-Ahzab: 43)
  3. Kalau udah berdoa tapi kok masih sedih juga. Jangan berputus asa dari rahmat Allah ya. (QS. Az-Zumar: 53). Yakin aja pasti masalahnya terpecahkan, dan doa shalat, dzikir, baca Al Qur’an, ikhlas itu healing sesungguhnya.
  4. Sabar dan kalau menyangkut orang maafin aja (QS. Asy-Syura: 43). Dengan maafin itu keuntungan buat kamu sendiri. Pelihara sakit hati, dendam justru akan membuatmu sakit. Dengan memaafkan, beban itu lepas dari dirimu, kamu jadi sembuh.

Tadabbur Al Anbiya Ayat 1

ٱقْتَرَبَ لِلنَّاسِ حِسَابُهُمْ وَهُمْ فِى غَفْلَةٍ مُّعْرِضُونَ

Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (daripadanya).

Dalam tafsir As-Sa’di

Ini adalah bentuk keheranan terhadap kondisi manusia. Mereka itu, tidak mempan dengan peringatan, dan tidak mau mendekat kepada pemberi peringatan. Padahal sebenarnya sudah dekat masa perhitungan amalan dan pembalasan bagi mereka atas amalan mereka yang baik ataupun buruk. Ternyata mereka berada dalam keadaan, “kelalaian lagi berpaling (dari padanya),” maksudnya lalai dari tujuan penciptaannya, dan berpaling dari peringatan yang disampaikan kepada mereka. Seolah-olah mereka tercipta (semata-mata) untuk dunia saja, dan dilahirkan hanya untuk bersenang-senang saja. Sementara itu, Allah ﷻ masih senantiasa memperbarui peringatan dan nasihat terhadap mereka, namun mereka masih saja dalam kondisi lalai dan berpaling.

Keadaan sy skr?

Apakah masih suka lalai? pasti ya

Membaca tafsir ini seperti tertampar sesuatu. Peringatan dunia seperti lampu merah harus berhenti, kadang kalau mendesak suka bergumam..tanggung, lagi buru-buru juga ini. Sekali-sekali juga. Bagaimana dengan peringatan dari Allah. Rasanya masih banyak yg harus diperbaiki, terlebih apabila dalam keadaan lelah karena banyak pekerjaan. Padahal lalai kecil, seperti biasanya shalat rawatib qabliyah dzuhur tapi karena lelah, jadi lewatin aja qabliyah dzuhurnya, langsung shalat dzuhur; bisa menjerumuskan kelalaian yg lain. Naudzubillah summa naudzubillah.

Apa yang akan dilakukan?

Apabila futur datang, jangan diikutin malesnya, minta pertolongan Allah agar dikuatkan melakukan ibadah tersebut. Paksakan, in syaa Allah, Allah kasih kemudahan untuk tidam malas lagi.

Semangaaaat

Aku Sebagai Seorang Ibu

Menjadi seorang ibu itu tidak ada sekolahnya. Ilmu menjadi seorang ibu hanya didapat dari pengalaman Mama. Ini menjadi bekal ilmu yang aku punya untuk mulai melangkah menjadi seorang Ibu. Setelah pengalaman dari mama, aku mencari ilmu sendiri lewat buku dan internet. Ternyata menjadi seorang Ibu pertama kali tidak semudah yang dibayangkan. Tinggal di daerah yang jauh dari orangtua, hidup bersama pria yang baru dikenal beberapa waktu saja, satu almamater juga ternyata tidak mudah. Ceritaku sebagai Ibu, diawali dengan ceritaku menjadi seorang isri.

Menikah rasanya seperti naik jet coaster (tenang, nyaman, deg-deggan, gemes, pusing, terkadang ingin teriak). Kalau membayangkan baru-baru nikah dulu, wadaw. Ceritaku dimulai dari perbedaan antara aku dan suami yang sewaktu itu belum belajar jadi tampak runyam.  Suami menganggap  tidak menutup pintu rumah itu aman-aman saja. Dulu di rumah orang tuanya, tidak menutup pintu itu aman-aman saja (hellow, in bukan disana kale, ini kita di daerah yang benar-benar baru buat kita). Sampai akhirnya ada orang masuk ke rumah kami. Setelah tau ada tamu tidak diundang masuk, tamu tersebut panik dan minta beras. Alhamdulillah hanya minta beras. Sejak saat itu suamiku selalu menutup pintu.  Alhamdulillah. Dulu, suami berpikir menyimpan handuk dia atas tempat tidur setelah mandi itu biasa aj. Aku berpikir, seharusnya digantung dong ya, kan sudah beli gantungan handuk. Aku merasa lelah banget harus merapihkan atau melakukan hal kecil seperti ini, dimana seharusnya kami bisa saling kerjasama. Namun, suami saya tidak ada peta mental untuk rapih-rapih. Aku sempat berpikir memangnya aku pembantu. Lama kelamaan kesel  dan numpuk. Suami juga tidak sadar-sadar,  jadinya aku rungsing sendiri. Suami heran melihatku  tiba-tiba diam, ngambek. Masalah sepele jadi besar.  Sampai akhirny saya melihat postingan teman tentang pengasuhan. Aku ikut kelasnya. Di dalam kelas, ada kata-kata yang menohok buat saya, yaitu suami itu bukan dukun yang bisa membaca pikiran kita. Hal inilah yang mulai saya perbaiki, yaitu seni komunikasi dengan suami. Saya membetulkan hubungan saya dengan suami agar saya bahagia menjadi Ibu untuk anak-anak saya. Saya membangun koneksi dulu dengan suami saya agar saya bahagia mendidik anak-anak saya. Selama ini koneksi belum terbangun, yang ada koreksi tanpa memperhatikan seni yang baik sehingga saya menyimpulkan koneksi dulu baru koreksi. Hal ini juga yang perlu saya perhatikan sebelum mengoreksi anak, yaitu membangun koneksi terlebih dahulu agar anak-anak mau menerima koreksi dari saya. Saya mulai membangun koneksi dengan:

1. Selesaikan emosi. Saya belajar bagaimana menyelesaikan emosi dengan reframming, disosiasi, anchor, parental coaching, dll.

2. Fokus pada tujuan. Selama ini saya tidak fokus pada tujuan. Saya fokusny pada kesalahan suami sehingga tidak tercapai tujuanny.

3. Bangun kedekatan. Awal-awal nikah ternyata saya kurang membangun kedekatan dengan suami.

4. Ketajaman indra.  Saya juga kurang peka terhadap suami.  Suami capek, muka sy malah masam.

5. Fleksibel dalam brtindak. Dulu sy tidak bisa fleksibel dalam  brtindak, pokokny harus sesuai dengan yang saya mau. Akhirny, bentrok  sama suami.

Bismillah, semoga upaya-upaya saya dalam memperbaiki hubungan dengan suami diridhai Allah dan bisa maksimal menjalankan peran sebagai Ibu dan membuat anak-anak juga berbakti kepada Ayahnya. Bagaimana saya bisa membuat anak-anak berbakti kepada ayahnya, kalau saya saja masih suka kesal dengan ayahnya. Saya mulai dengan membuat data dan menjadi detektif kebaikan suami.  Yang melatarbelakangi saya membuat upaya ini adalah:

1. Taat. Hadits yang mengatakan wanita bisa masuk dr pintu manasaja. Salah satu syaratny taat pada suami.

2. Teladan untuk anak-anak. Agar anak laki-laki ada gambaran unt memilih istri dan membimbing istrinya. Anak perempuan agar bisa jadi supporting system yang benar untuk suaminy. Semua itu agar anak-anak bs mngarungi rumah tangga yang sakinah, mawadah, warahmah pada masany nanti.

3. Tidak berasumsi lagi.

Berikut adalah contoh data yang aku buat agar anak-anak melihat upaya mamanya. Contoh kejadian waktu itu kami sepakat untuk mengatar kucing kami ke dokter hewan.

Tujuan: aku, suami,anak-anak mengantar kucing ke dokter hewan untuk menyembuhkan sakit hewan kami agar tidak menular ke kami sekeluarga.

Data: kami sudah sepakat, suami yang  turun unt mngantar kucing menemui dokter hewan dan mengantre. Aku menemani anak-anak di mobil.

Di tengah waktu antre, suami turun minta gantian antre. Padahal saya lagi nyaman banget istirahat di mobil (kesepakatan berubah tanpa pemberitahuan terlebih dahulu).

Aksi:

1. Selesaikan emosi.  Awalny framingku: suami melanggar kesepakatan, aku reframing: kesepakatan berubah karena suami lelah antre. Menjadi detektif kebaikan suami: selama ini suami yang suka membersihkan kucing, harusnya sy bersinergi dan respek, menjadi supporting systemnya.  Berdoa semoga ini bernilai ibadah di hadapan Allah.

2. Fokus tujuan, yaitu menjaga kesehatan keluarga dan kucing.

3. Ketajaman indra. Aku melihat mata, gerakan suami yang  tidak tenang karena lelah antre.

4. Fleksibel dalam bertindak. Aku pasang anchor semangat untuk menemani kucing, bertemu dengan orang lain yang antre dan mendapat ilmu baru merawat kucing.

Selesainy dr dokter hewan..

5. Aku bangun kedekatan dengan suami dengan mengapresiasi  suami dg mngatakan terima kasih telah menemaniku, anak-anak  dan kucing serta bersama anak-anak  mencium suami.

Upayaku tidak sia-sia, suami juga ikut mau terlibat dalam pengasuhan. Alhamdulillah, anak-anak punya ayah yang mau terlibat dalam pengasuhan.

Tulisan untuk Mamah Gajah Bercerita MInggu ke-2.

Aku, Perempuan Kecil Mama dan Papaku

Lala, dug-dug, udah adzan subuh Nak. Bangun Nak. Suara Mama Papa dan ketukan pintu kamarku di rumah Mama Papa masih aku ingat. Hal itu menyadarkanku harus bersyukur bahwa aku masih hidup. Aku harus berhadapan dengan tantangan hidup hari ini, yang sudah di depan mata, yaitu sekolah dan macetnya ibukota. Mama sudah menyiapkan sarapan dan bekal untukku di sekolah. Walaupun sudah SMA, Mama masih menyiapkan bekal untukku. Papa sudah bersiap mengantarkanku ke sekolah. Alhamdulillah ingatan masa kecil yang aku ingat adalah yang bahagia. Mungkin ada yang  tidak enak, tapi hanya sedikit pengalaman tidak enak yang aku ingat. Yang aku ingat pengalaman tidak enak adalah ketika aku jatuh ke got karena baru belajar naik sepeda. Orang-orang yang melihatku antara lucu dan kasihan, dan banyak juga yang menolong.  Contoh pengalaman tidak enak yang menjadikanku berpikir, hal ini mungkin yang membuat aku tidak banyak ingat hal-hal yang tidak enak sewaktu aku kecil karena aku selalu melihat hal-hal yang baik yang terjadi padaku. Apabila aku ingat orang-orang yang menertawakanku, mungkin pengalaman tidak enak yang aku rasakan lebih banyak bahkan mungkin aku tidak bisa mengendarai sepeda sampai sekarang.

Mama dan Papa selalu menyemangati, menemaniku. Aku ingat ketika aku kelas 6 SD sedang latihan menghadapi lomba Drum Band BOOM (Bandung Open Marching Band). Aku melempar tongkat mayoretteku ke udara, lalu tongkat tersebut mendarat di kepalaku. Rasanya sakit banget, ternyata meninggalkan luka memar (benjol). Besok aku harus ke Bandung tanpa ditemani orangtua. Pulang dari latihan, sesampainya di rumah, aku menceritakan kejadian benjol ini kepada orangtuaku. Mama dan Papaku menyimak ceritaku, lalu Mama memberikan minyak di benjolan tersebut sambil berdoa. Hal ini juga yang aku ingat betul bahwa kalau aku kesakitan, pasti tempat sakit tersebut diobati oleh Mama dan dibacakan doa oleh Mama. Keesokan harinya aku pamit kepada orangtuaku untuk lomba ke Bandung. Ternyata benjolanku tidak sia-sia, aku mendapat juara-1 sebagai mayorette dan grup Drum Bandku mendapatkan juara-1 Drum Band tingkat SD terbaik. Mama Papa mengapresiasiku.

Mama Papa selalu memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Aku ditempatkan di sekolah-sekolah terbaik di Ibukota. Aku mau ikut les apa, juga dibolehkan. Aku juga sering diajak jalan-jalan, kalau istilah sekarang adalah wisata edukasi. Monas, museum-museum, ancol, dufan, putri duyung, taman safari, tangkuban perahu, sampai ke Danau Toba, menyelam ke bawah laut, bahkan ketika Papaku dinas ke luar negeri juga kami sekeluarga dibawa. Bukan hanya sekedar jalan-jalan, tapi ada penjelasan dari Papa Mama mengenai sejarahnya, fungsinya, dan tujuannya. Itulah kenapa sekarang saya sangat menyukai travelling. Mengajak anak-anak travelling juga bukan hanya sekadar jalan-jalan, namun seperti yang Mama Papa ajarkan dulu, ada tujuannya. Meskipun, Mama Papa selalu berusaha memfasilitasi anak-anaknya, namun aturan itu selalu ada. Yang aku ingat betul sampai sekarang adalah mengenai pemakaian barang mewah, contohnya dulu adalah handphone. Aku baru dibelikan Hp ketika aku SMA. Hal itu disebabkan karena sekolahku di SMA 8, rawan banjir. Kalau sudah tiba-tiba air naik dan banjir, Papaku agak kesusahan mencariku yang sedang mengungsi di lantai atas bersama teman-temanku. Lalu, dibelikanlah Hp. Pemakaian Hp ini pun ada syaratnya, yaitu ketika di rumah sudah tidak boleh memakai Hp lagi dan kalau rusak atau hilang baru dibelikan lagi. Aku termasuk anak yang patuh kepada orangtua, jadi Hp awet. Sampai sekarangpun seperti itu. Selain pemakaian barang mewah, aku juga ada jam malam. Aku harus sudah pulang ke rumah maksimal di waktu maghrib. Pada saat aku menjadi orangtua sekarang baru aku menyadari kenapa Papa dan Mamaku begitu menjagaku.

Menurutku, kenangan masa kecil itu sangat kuat diingat hingga dewasa, karena 1. membentuk kehidupan kita saat ini. Misalnya membuat bekal bersama mama, sehingga memiliki kecintaan tersendiri terhadap kegiatan siap-menyiapkan. 2. Memengaruhi karakter, misalnya kita diajari cara sopan santun. 3. Membentuk nilai kehidupan. Prinsip hidup yang kita pegang saat ini dipengaruhi hal-hal yang kita alami saat masih kecil.