BAB I. TINJAUAN UMUM SENYAWA AKTIF DAN SEDIAAN

1. Struktur Kimia (Suplemen I FI IV, hal 1405; USP 32, hal.2124)

2. Nama Kimia (Suplemen I FI IV, hal.1405)

Natrium [0-(2,6-dikloroanilino)fenil]asetat

3. Rumus Molekul (Suplemen I FI IV, hal 1405)

C14H10Cl2NNaO2

4. Kelarutan

Mudah larut dalam metanol, larut dalam etanol, agak sukar larut dalam air, praktis larut dalam kloroform dan dalam eter. (Suplemen I FI IV, hal.1405)

Solubilitas Na-diklofenak bergantung pada pH. Solubilitas Na-diklofenak rendah dalam pH rendah, namun saat pH meningkat di atas pKa, maka solubilitasnya akan meningkat.

pH           Solubilitas (%w/v)

4,0           0,0021

5,0           0,0086

6,0           0,059

7,0           0,187

7,5           0,169

(TPC, hal.836)

5. Pemerian

Serbuk hablur putih hingga hampir putih, higroskopik. Melebur pada suhu 248  C (Suplemen I FI IV, hal.1405)

6. Titik Lebur

284 C (Suplemen I FI IV, hal. 1405)

7. pH

pH larutan 7,0-8,5 dalam larutan 1:100 (USP 32, hal.2124)

PH stabilitas tidak ditemukan dalam berbagai pustaka (FI, BP, USP, Florey, Martindale)

8. Bobot Jenis (Suplemen I FI IV, hal.1405)

318,13 g/mol

9. pKa (TPC, hal.836)

pKa diklofenak 4,2 pada suhu 30 C (dengan titrasi potensiometri)

pKa diklofenak dalam metil sulfoksida encer = 6,84

pKa diklofenak dalam air = 3,78

10. Definisi (Suplemen I FI IV, hal.1405)

Na-diklofenak mengandung tidak kurang dari 99% dan tidak lebih dari 101% C14H10Cl2NNaO2 dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan.

11. Stabilitas

Gel 1% Na-diklofenak harus disimpan pada suhu 25 C dan terlindung dari panas. (AHFS 2010,hal.2088 dan TPC Ed.12, hal. 836)

Diklofenak harus disimpan pada suhu di bawah 30 C dan tidak tembus cahaya. (TPC Ed.12, hal 836 dan Suplemen I FI IV, hal.1406)

Higroskopik (BP 2008, hal.686)

Stabil dalam larutan buffer pH 7,6. Larutan Na-diklofenak stabil tanpa adanya O2. (TPC, hal.835)

Stabilitas dalam cairan biologis (serum) yang dibekukan dapat bertahan paling sedikit 2 minggu tanpa penguraian. (Florey vol.19, hal.131)

12. Sinonim

Diclofenacum nutricum, Diklofenaakki natrium (Martindale 35, hal.38)

Diclofenac sodium (Clarke, hal.905)

Diclofenaci natricum (Suplemen I FI IV, hal.1405)

13. Koefisien partisi

Log P (oktanol/air)=4,5 (Instrumental Data for Drug Analysis, hal.905)

Log P (oktanol/air) pada 25 C=4 dan 4,17 untuk diklofenak yang dihitung dari data kelarutan air (TPC Ed.12, hal.836)

14. Data Inkompatibilitas

Tidak ditemukan pada pustaka (Suplemen I FI IV, USP 32, BP 2008, EP 2008, Farmakope Jepang, TPC)

15. Sifat khusus

Sedikit higroskopis (BP 2008, hal.686)

16. Wadah dan Penyimpanan

Simpan dalam wadah kedap dan tertutup rapat (USP 32, hal.2124)

I. 2 Definisi Bentuk Sediaan

Gel (kadang-kadang disebut jeli) merupakan sistem semipadat terdiri dari suspensi yang dibuat dari partikel anorganik yang kecil atau molekul organik yang besar, terpenetrasi oleh suatu cairan (FI IV, hal.7)

I.3. Golongan Obat Berdasarkan UU dan Implikasinya

a. Golongan obat

Diklofenak dalam lampiran SK Menkes RI No.924/Menkes/PER/X/1993, tertulis:

No: 8

Jumlah maksimal tiap jenis obat per pasien: 1 tube

Pembatasan: sebagai obat luar untuk inflamasi

termasuk dalam daftar obat wajib apotek no.2

*Monografi Na-diklofenak tidak terdapat dalam Farmakope Indonesia IV.

I.4.  Aturan Penandaan

Pada sediaan gel Natrium Diklofenak berlaku aturan penandaan sebagai berikut:

a. Berdasarkan SK Menkes No.193/Kab/B.VII/71 tanggal 21 Agustus 1971 tentang Peraturan Pembungkusan dan Penandaan Obat

Pasal 3(2) Pada bungkus luar dan wadah obat jadi atau obat paten dan bahan kontras harus dicantumkan tanda atau etiket yang menyebutkan nama jenis dan atau nama dagang obat, bobot netto atau volume obat, komposisi obat dan susunan kuantitatif zat-zat berkhasiat, nomor pendaftaran, nomor batch, dosis, cara penggunaan, indikasi sebagaimana telah disetujui pada pendaftaran, kontraindikasi yang ditetapkan oleh pemerintah untuk dicantumkan, nama pabrik dan alamatnya (sedikitnya nama kota dan negaranya), cara penyimpanan, batas daluarsa dan tanda-tanda lain yang dianggap perlu.

Pasal 3(4) Pada penyerahan, penjualan dan peredaran obat jadi, kecuali pada penyerahan atas resep dokter, harus disertai brosur yang menyebutkan nama jenis dan atau nama dagang obat, nomor pendaftaran, nama pabrik dan alamatnya, dosis, cara penggunaan, indikasi sebagaimana telah disetujui pada pendaftaran, kontraindikasi menurut pabrik yang menghasilkan dan atau kontraindikasi yang ditetapkan pemerintah untuk dicantumkan, kerja ikutan yang merugikan dan peringatan bahaya jika perlu.

Pasal 3(5) Keterangan-keterangan yang dicantumkan pada pembungkus etiket, wadah dan brosur harus sesuai dengan kenyataan.

Pasal 4 Isi dari zat berkhasiat harus dinyatakan sebagai berikut:

  1. Bagi sediaan berupa cairan untuk pemakaian per os adalah isi tiap dosis untuk 1x pemberian.
  2. Bagi sediaan berupa cairan untuk suntikan adalah isi tiap 1 milimeter atau persentase terhadap volume.
  3. Bagi sediaan berupa tablet, kapsul, pil, dan sebagainya adalah isi setiap tablet, kapsul, pil dan sebagainya.
  4. Bagi lain-lain bentuk sediaan adalah isi dalam persentase terhadap bobot atau volume atau besarnya unit tiap gram atau mililiter.

b. SK Menkes No.02396/A/SK/VIII/86 tentang Tanda Khusus Obat Keras Daftar G:

Pasal 2(1) Pada etiket dan bungkus luar obat jadi yang tergolong obat keras harus dicantumkan secara jelas tanda khusus untuk obat keras.

Pasal 2(2) Ketentuan dimaksud dalam ayat 1 merupakan pelengkap dari keharusan mencantumkan  kalimat “Harus dengan resep dokter” yang ditetapkan dalam Keputusan Menteri Kesehatan No.197/A/SK/77 tanggal 15 Maret 1977.

Pasal 3(1) Tanda khusus untuk obat keras adalah lingkaran bulat berwarna merah dengan garis tepi berwarna hitam dengan huruf ‘K’ yang menyentuh garis tepi.

Pasal 3(3) Ukuran lingkaran tanda khusus dimaksud dalam ayat (1) disesuaikan dengan ukuran dan disain etiket dan bungkus luar yang bersangkutan dengan ukuran diameter lingkaran terluar, tebal garis dan tebal huruf ‘K’ yang proporsional, berturut-turut minimal 1 cm, 1 mm dan 1 mm.

c. Surat Edaran Dirjen POM No.4266/AA/II/86 tanggal 26 Agustus 1986 tentang Tanda Khusus Obat Keras Daftar G

Warna tanda khusus obat keras harus sama atau mendekati warna contoh tanda khusus di bawah ini:

*Tebal garis tepi 1 mm, warna hitam.

*Lingkaran warna merah.

*Ukuran diameter lingkaran terluar minimal 1 cm.

Tanda Khusus Obat Keras Daftar G

*Disertai kalimat: Harus Dengan Resep Dokter, disertai penandaan OBAT LUAR.

I.5. Nomor Registrasi

a. Untuk Obat Keras adalah:

  1. Terdiri dari 15 digit.
  2. 3 digit pertama adalah huruf. Huruf terdiri dari huruf DKL. D=obat dengan nama dagang. K=golongan obat keras. L=produksi dalam negeri/lokal.
  3. 10 digit berikutnya adalah angka. 2 angka pertama adalah tahun pendaftaran obat jadi. 3 angka berikutnya adalah nomor urut pabrik di Indonesia. 3 angka berikutnya adalah nomor urut obat jadi. 2 angka berikutnya adalah bentuk sediaan obat jadi.
  4. 1 digit berikutnya adalah huruf.
  5. 1 digit berikutnya adalah angka.

Contoh nomor registrasi untuk obat keras adalah DKL1234567828A1

D=obat dengan nama dagang.

K=golongan obat keras.

L=produksi dalam negeri/lokal.

12=tahun pendaftaran obat jadi (tahun 2012)

345=nomor urut pabrik di Indonesia. (tergantung dari nomor urut pabrik yang didaftarkan)

678=nomor urut obat jadi. (nomor urut obat jadi yang didaftarkan)

28= bentuk sediaan obat jadi. (gel)

A=kekuatan  sediaan obat jadi yang pertama kali disetujui.

1=kemasan untuk kekuatan obat jadi tersebut. (bisa tube, alumunium, dll)

*Nomor registrasi obat dikeluarkan oleh Badan POM.

b. Nomor Batch

Berdasarkan Surat Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan No.13650/D/SE/73, maka penulisan nomor batch diserahkan pada Industri Farmasi yang bersangkutan, dan harus diberikan keterangan pada Badan POM mengenai sistem penomoran batch yang digunakan oleh Industri Farmasi tersebut sehingga pada sediaan dicantumkan nomor batch yang terdiri dari 8 angka, yaang terdiri dari 4 angka pertama adalah bulan dan tahun pembuatan, 2 angka berikutnya adalah bentuk sediaan topikal dan 2 angka berikutnya adalah nomor urut pembuatan.

Contoh nomor batch adalah 03110505

0311= bulan dan tahun pembuatan. (Maret 2011)

05= bentuk sediaan topikal.

05= nomor urut pembuatan/batch ke-5 yang dibuat.

About these ads